Beberapa minggu lalu, di sebuah percakapan grup WA yang isinya adalah orang-orang aktivis dakwah –baik yang sudah alumni ataupun yang masih berstatus mahasiswa–yang terafiliasi dengan salah satu parpol. Ya, jika kalian sering baca tulisanku di blog ini, kurasa kalian pasti tahu partai mana yang kumaksud. Tentu saja: PKS. Dulunya sih PKS. Seiring konflik yang terjadi di tubuh PKS, lahirlah Gelora. Jadi sekarang grup WA itu isinya kalau bukan orang PKS, ya Gelora.

Namun ada salah satu orang yang menarik perhtianku. Sebut saja, MSA. Sepengetahuanku, MSA ini dulu adalah aktivis dakwah jos dan top. Saya jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Saya lebih medioker dan inferior dengan teman satu ini yang notabenenya adalah junior saya. Dari sisi kepenulisanpun saya kalah telak. Dia adalah anak FLP. Kalau gak salah, sudah pernah terbitkan buku juga, deh. Dan kau pasti tahu FLP, kan? Afilisi politiknya ke mana.

Aktivis dakwah sudah pasti ijtihad politiknya adalah Islam politik. Dalam lanskap perpolitikan di Indonesia, setidaknya ada dua spektrum besar: Islam politik dan nasionalis. Keduanya ini jika dipreteli satu per satu, jadinya lebih banyak lagi. Ada Islam nasionalis, Islam konservatif, ultra nasionalis, nasionalis sekuler, dan masih banyak lagi.

Nah, teman saya ini, yang pastinya Islam politik waktu di kampus. Tiba-tiba muncul di grup. Dengan pedenya kampanye tentang keikutsertaannya dalam kontestasi pemilihan Ketua DPD Hanura Sulsel. Ini kocak. Sangat-sangat kocak bahkan menurutku. Pertama, memangnya di grup itu ada anggota Hanura?Kedua, kayak-kayak gini sebenarnya pengen narsis saja biasanya. Apalagi kalau lihat akun ig-nya, memang terlihat sangat jelas kalo si MSA ini orangnya narsis.

Oke, kita tidak ngurusi soal narsisnya. Yang menarik adalah fakta bahwa kawan saya haluan politiknya sudah berubah. Dia meninggalkan Islam politik, ideologi yang digandrunginya dulu waktu masih mahasiswa. Dan berpindah ke haluan yang sangat berbeda dan benar-benar baru untuk seorang aktivis dakwah: nasionalis.

Sebenarnya kasus seperti ini tidaklah baru-baru amat. Ustaz Yusuf Supendi, salah satu pendiri PKS bahkan pindah ke PDIP. PKS dan PDIP adalah dua partai yang punya kutub ekstrem. Antara kiri dan kanan. Perpindahan dari kubu nasionalis ke Islam juga ada. Sandiaga Uno misal. Sandi Pindah dari Gerindra yang nasionalis ke PPP yang Islam politik. Kalau pindahnya ke partai haluannya masih sama–katakanlah sama-sama Islam ataukah sama-sama nasionalis, masih mudah memahaminya. Kalau pindahnya sudah haluan berbeda, seperti menarik untuk diulik.

Entah saya benar atau tidak menyebutnya, kalau pindah partai seperti yang saya jelaskan di atas adalah perubahan ideologi(?). Karena memang kedua parta itu berbeda secara ideologi. Ataukah karena kalkulasi politik oportunis semata.

Perubahan-perubahan seperti ini bisa disebabkan karena dua alasan: perubahan kognisi dan perubahan orientasi. Perubahan kognisi, karena dia mendapatkan pengetahuan baru ataukah sebuah pencerahan hasil perenungan yang mendalam. Perubahan orientasi, ini bisa juga berkaitan dengan tujuan dari tindakannya. Yang dulunya berorientasi pure ideologi, berubah jadi kekuasaan, materi, dll.

Ustaz Yusuf Supendi, misal. Dalam salah satu wawancaranya dengan CNN mengatakan bahwa “partai sebatas wadah. Moral dan integritas sepenuhnya pada individu”. Dengan pemahaman seperti itu, maka tidak masalah bagi Usztaz Yusuf Supendi menyebrang ke PDIP yang nasionalis, toh moral dan integritas melekat pada dirinya sebagai individu. Lagian pemilih PDIP juga kan banyak muslim. Begitulah kurang lebihnya.

Lain Ustaz Yusuf Supendi, lain pula Sandiaga Uno. Tidak pernah secara tersurat Sandiaga mengonfirmasi bahwa kepindahannya ke PPP karena menginginkan jabatan menjadi wapresnya Ganjar. Namun gejala itu terbaca.

Seperti kita tahu. PPP waktu itu memang sudah menyatakan niatnya untuk berkoalisi dengan PDIP yang akan mengusung Ganjar sebagai capres. Cawapresnya masih kosong. Sandi tentu pede, dengan kekuatan finansial yang dimilikinya, setidaknya bisa sedikit menggoda bu banteng untuk memilihnya menjadi cawapres. Namun takdir berkata beda. Sandi gagal jadi cawapres.

Sandi tentu tidak pindah ke PPP karena alasan materi. Untuk apa? Sandi sudah kaya. Punya perusahaan salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia. Yang dibutuhkan oleh orang-orang seperti Sandi adalah kekuasaan. Kaya tapi tidak berkuasa itu seperti ada yang kurang lengkap. Yang dibutuhkan orang kaya adalah kekuasaan. Dengan kekuasaan kekayaannya akan lestari. Dengan kekuasaan seseorang bisa membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya dan kelompoknya. Apa sih yang tidak bisa dilakukan kekuasaan. Firaun saja bisa jadi “tuhan” karena berkuasa.

Terlepas dari kekuasaan politik Prabowo yang mendominasi, godaan jabatan cawapres tentu sangat menggiurkan. Tambahkan PDIP sebagai rekan koalisinya. Tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Terjadilah perubahan orientasi. Eh, Mungkin juga tidak, sih. Orientasinya mungkin tidak berubah. Tetap saja orientasinya adalah kekuasaan. Soalnya Sandi waktu gabung Gerindra juga sudah kaya kan. Jadi kepindahannya dengan PDIP mungkin karena ada peluang yang lebih besar di sana.

Dalam kasus teman saya ini, sejujurnya saya tidak begitu akrab juga dengan dia. Jadi saya tidak pernah menginterogasi untuk menjawab pertanyaan “kenapa dia pindah ke Hanura?”. Saya mencoba menganalisisnya dari akun sosmednya. Sebelumnya saya minta maaf kepada teman saya ini–ah, kayak orangnya bakal baca juga–kalau analisis saya yang cetek ini mungkin menyinggung hatinya.

Saya melihat ada perubahan orientasi pada teman saya. Beliau baru saja mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang maritim. Sama seperti Sandi Uno, bagi seorang pengusaha, kekayaan saja tidak cukup. Kekuasaan juga dibutuhkan. Tapi yang ini juga akhirnya menjadi pertanyaan. Kalau memang orientasinya adalah kekuasaan, mohon maaf saja PKS setidaknya lebih besar dari Hanura dan juga lebih senior. PKS punya perwakilan di DPR, Hanura tidak. Logis jika dia seharusnya memilih untuk tetap saja di PKS, tapi kok dia pilih Hanura?

Atau mungkin potensi untuk “berkuasa” lebih ada di Hanura? Berkuasa yang saya maksud di sini adalah masuk menjadi petinggi partai. PKS adalah partai lama dan apa-apa didalamnya sudah dalam keadaan stabil. Sulit untuk merengsek masuk ke dalam inti partai. Kalau begitu kenapa tidak pilih Gelora saja yang partai baru? Entahlah, saya pun tidak memiliki jawabannya.

Yang jelas, jika anda sudah berhasil masuk dan menguasai partai itu berarti anda sudah punya toolsnya. Ingat kan, teman saya ini masuk dalam bursa pemilihan ketua DPD Hanura Sulsel. Andai dia berhasil jadi ketua DPD Sulsel, tentu powernya akan lebih besar lagi di tengah masyarakat.

Perubahan kognisi juga ada kemungkinannnya. Konflik internal PKS yang akhirnya melahirkan perpecahan bisa jadi membawanya ke suatu momen kontemplatif yang mendalam. Dari situ kemudian lahir sebuah kognisi yang baru. Sekelas Ustaz Yusuf Supendi yang merupakan pendiri PKS saja bisa nyebrang ke PDIP, kenapa tidak mungkin temanku nyebrang ke Hanura kan.

Begitulah manusia. Perubahan adalah keniscayaan dalam sebuah hidup. Ketika terjadi perubahan di lingkungan, mau tidak mau manusia juga harus menyesuaikan dengan perubahan yang ada. Maka tidak tepat jika mengantungkan cita-cita dan harapanmu pada manusia. Dalam konteks politik hari ini, jangan pernah percaya dengan politisi-politisi yang menjual harapan palsu. Memang benar orang-orang itulah yang akhirnya bertarung di kursi kekuasaan politik. Tugas kita adalah memilih orang yang tepat untuk bertarung. Dan cara untuk memilih orang yang tepat adalah dengan melihat rekam jejakya. Apa yang diperbuat di masa lalu, karya apa yang dilahirkan. Kontroversi apa yang dibuat. Pernahkan mereka melakukan korupsi. Perbuatan kriminal apa yang pernah mereka lakukan. Dari situ kita bisa menilai orang tersebut: layak atau tidakkah mereka untuk dipilih. Bukan cuma percaya kepada orangnya. Toh kepercayaan bisa dikhianati. Ingat lagi, manusia itu bisa berubah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *