Beberapa bulan yang lalu, pertama kali saya menonton film Grave of The Fireflies–ya, kalian bisa menertawakan saya karena baru kali ini menontonya. Sinopsis film ini sederhana sekali. Berlatar akhir Perang Dunia II selama pengeboman Amerika di Jepang. Film ini menceritakan kisah kakak beradik, Seita dan Setsuko, yang mati-matian bertahan hidup di tengah kecamuk perang di Jepang.

Ayah Seita yang seorang Marinir Angkatan Laut sudah lebih dulu terjun ke medan perang. Namun tidak pernah berkabar kepada keluarga. Di akhir film diketahui ayah Seita ternyata mati di medan perang. Ibu Seita yang mengidap penyakit jantung pun mati secara mengenaskan. Ibunya terkena hantaman bom. Kematian menghampiri ibunya di pengungsian dengan luka bakar di sekujur tubuh.

Pasca kematian ibunya, Seita dan Setsuko mengungsi ke rumah bibinya. Namun mereka ternyata dianggap sebagai beban oleh bibinya. Mereka diusir. Seita dan Setsuko yang tidak lagi memiliki rumah–karena rumahnya sudah hancur terkena hantaman bom, dengan pilihan yang serba terbatas mereka memilih menempati goa di pinggir danau. Kehidupan Seita dan adiknya semakin berat hanya untuk bertahan hidup.

Kelaparan menghantui mereka tiap hari. Belum lagi perlakuan masyarakat yang tidak berbelas kasih–bahkan kepada anak-anak, membuat kehidupan mereka semakin mendekati kematian. Hanya untuk makan pun, Seita harus mencuri. Bahkan Seita dipukul habis-habisan dan dilaporkan kepada Polisi. Kejamnya perang turut melahirkan sifat kejam manusia. Tidak memiliki belas kasih bahkan kepada orang-orang yang sudah mati. Dan juga tidak peduli dengan kehidupan sesama manusia korban perang. Egois mementingkan diri sendiri.

Seita dan Setsuko pada akhirnya kelah melawan ketidakberdayaan. Setsuko mati kelaparan dengan ruam di seluruh tubuhnya. Tubuhnya kurus kering, gatal-gatal, kotor, dan bau karena tidak pernah mandi. Seita yang telah kehilangan adiknya pun juga mati kelaparan di peron stasiun.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20240320145554-122-1076704/foto-potret-pilu-bocah-bocah-gaza-yang-dibuat-kelaparan-oleh-israel/1

Film ini menjadi sangat menyayat hati karena korbannya adalah anak-anak. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa sama sekali kenapa harus ada perang.

Apa yang dialami Seita dan Setsuko, sama halnya dengan yang dihadapi oleh anak-anak Palestina hari ini. Hujan rudal di mana-mana, ranjau yang entah di mana saja bisa meledak, bantuan medis yang diserang, blokade bantuan pangan dan kebutuhan lainnya. Lihatlah anak-anak di Palestina hari ini. Badannya kurus kering dan kelaparan. Seperti itulah yang dialami Setsuko juga. Dan yang lebih menyakitkannya lagi adalah karena mereka itu anak-anak. Bayangkan jika anak-anak itu adalah anakmu. Bisa kau menahan beratnya kehidupan yang dijalani anak-anak itu dan orang tuanya? Saya dan kamu belum tentu bisa menjalaninya. Maka dari itu perang harus dihentikan.

Terlepas dari siapa pihak yang benar dan siapa pihak yang salah. Perang akan selalu menghancurkan kedua belah pihak. Bukan hanya militer yang jadi korban. Rakyat sipil pun juga jadi korban perang kan. Perang yang seharusnya menyerang fasilitas-fasilitas militer, juga menyerang dan membunuh rakyat sipil.

Dan sekali lagi, yang paling menyedihkan adalah anak-anak korban perang. Anak-anak yang masih lucu, belum mengerti bagaimana dunia bekerja. Harus menanggung akibatnya. Kelaparan, sakit, dan kematian. Cobalah nonton Grave of The Fireflies sekali lagi. Lihat dan dengarkan suara Setsuko ketika mengeluh kelaparan kepada kakaknya. Imanjinasikan. Betapa pedih membayangkan penderitaan yang dialami oleh anak usia 4 tahun yang ayahnya tewas dalam medan perang dan ibunya tewas dengan luka bakar sekujur tubuh.

Dalam skala negara juga parah. Biaya perang pastilah tidak sedikit. Otomatis keuangan negara akan morat-marit hanya untuk membiayai perang. Alih-alih meningkatkan pendapat nasional malah menguras keuangan negara. Akibatnya sektor-sektor lain yang berhubungan dengan publik ikut terancam.

Perang sudah pasti melahirkan ketidakstabilan politik. Imbasnya investor akan kabur. Menarik uangnya dari negara yang berperang. Selanjutnya angka pengangguran meningkat karena pabrik yang tutup.

Sudah saatnya perang dihentikan. Semua pemimpin negara harus bersatu mengambil sikap untuk menghentikan perang dan lebih memikirkan dampak kemanusian. Ya, memang ini terdengar naif dalam dunia politik yang penuh dengan kepentingan-kepentingan kelompok yang bersifat duniawi. Namun bagaimana lagi, apakah rakyat kecil seperti saya bisa menghentikan perang?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *