Sudah lama saya tidak nulis, kawan. Maafkan aku. Arrgh. Aku minta maaf ke siapa? Paling pantas aku harusnya minta maaf kepada diriku sendiri. Yang lebih senang memilih jalan kemalasan daripada produktif.
Karena sudah lama tidak nulis. Jujur saja otak ini kaku mengeluarkan kata demi kata. Jadi bisa dipastikan tulisan ini jelek buuuuanget. Ya, memang tidak pernah juga aku melahirkan tulisan yang cemerlang. Bahkan tulisanku yang sanggup tembus ke media pun aku rasa itu adalah tulisan jelek. Bukan maksudku menghina dan merendah-rendahkan media dan editirnya, ya. Tapi, ah, sudahlah memang tulisanku jelek. Aku yakin kau pun bisa merasakannya juga.
Baiknya aku masih membaca. Namun membaca tanpa menulis itu memang kurang lengkap. Kalau sudah membaca harus menulis. Kalau sudah menulis sudah pasti membaca. Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
Membaca satu buku dari awal sampai akhir itu kegiatan berat. Karena memang bagi sebagian orang kegiatan ini tidaklah menarik. Lebih menarik nonton Netflix, scrool sosmed, makan, buka Youtube, jalan-jalan, dan masih banyak kegiatan lain yang lebih menarik daripada membaca.
Dalam proses membaca dibutuhkan fokus tinggi dan konsentrasi agar bisa menghisap informasi dari sebuah tulisan. Tanpa fokus dan konsentrasi, maka kau hanya membaca kata demi kata tanpa ada yang nyantol di otakmu. Itu ibarat kamu puasa namun tidak shalat, tidak menjaga pandangan, ngomongnya misuh terus, lebih senang dengar musik darpiada ngaji. Puasamu memang tidak batal, kewajibanmu gugur. Tapi kamu tidak dapat pahala sama sekali kecuali lapar dan haus tok. Seperti itu nasibmu jika membaca tapi tidak fokus dan konsentrasi. Kamu berhasil menyelesaikan satu buku, tapi tidak mengerti apa-apa tentang isi buku itu.
Itu beberapa kali terjadi padaku. Yang terakhir adalah Diary Motorcycle-nya Che Guevara. Banyak orang bilang bahwa buku ini adalah buku progresif yang membuat Che Guevara menjadi radikal total. Menjadi komunis sejati. Komentar-komentas positif banyak diberikan orang-orang kepada buku ini. Namun sepertinya buku ini tidak cocok bagiku. Sangat membosankan. Bagiku buku ini hanya catatan perjalan naik motor abang-abangan biasa. Tidak ada yang spesial.
Buku ini merekam perjalanan naik motor Che Guevara mengelilingi Amerika Latin bersama rekannya sesama dokter, Alberto Granado. Selain menceritakan suka duka mereka dalam perjalanan. Buku ini juga merekam pertemuan antara Che dengan penderitaan rakyat yang dipikul oleh buruh-buruh tambang, rakyat tertindas, dan koloni lepra. Pertemuan-pertemuan yang akhirnya mengenalkan Che dengan pertentangan kelas.
Buku ini menjadi semakin sulit manakala Che menjelaskan tempat-tempat yang didatanginya. Deskripsi Che mungkin cukup bagi sebagian orang. Namun bagiku yang tidak pernah mengetahui sama sekali bagaimana bentangan geografis Amerika Selatan, ini menjadi sulit untuk mengimajinasikannya.
Pada akhirnya aku hanya membaca buku ini sekedar baca saja. Tidak ada yang nyantol di kepalaku. Dan itu sangat menyiksa. Membaca kata demi kata bagaikan robot. Tidak mampu mengimajinasikan dan mengkhayatinya. Hanya mengejar target bacaan bulanan. Ah, sial benar. Manusia terkutuk.
Aku masih membaca tapi menulis sudah jarang. Ini yang membuatku memaki diri tipa hari. “Dasar lelaki bodoh!” Mana mungkin kau rajin membaca tapi tidak menulis. Membaca dan menulis itu satu paket bodoh.
Oke. Hari ini aku harus mulai rajin menulis lagi supaya otakku tidak kaku. Karena ini janji kepada diri sendiri tentu saja akan mudah kulanggar. Ah, sialan!!!