Gugup! Itulah yang kurasakan. Jantungku berdetak cepat tidak karuan. Tanganku bergetar memegang kertas sementara pikiranku berkelana bahwa aku adalah orang bodoh disini. Teman-temanku tampil dengan percaya diri. Mereka menampilkan puisi dengan sangat indah. Sudah pasti ibu dan ayah mereka tersenyum bahagia melihat mereka tampil.
Dan disinilah letak kegugupanku yang paling tinggi. Inilah saatnya bagiku untuk naik. Membaca syair-syair yang kutulis saat Ibu tertidur. Kalau kau bertanya-tanya kemana ayahku? Akan kujawab, dia sudah meninggal. Kata Ibu seperti itu. Sayang sekali Ayah harus lebih dahulu tidur daripada aku dan Ibu.
Mataku berkutat pada kertas yang terisi oleh rangkaian tulisan tanganku. Mulutku bergerak secara perlahan sesaat setelah aku menghembuskan napas.
Dalam hembusan napasmu saat melahirkanku, aku menangis
Dalam setiap rasa sakitku, aku menangis
Dan hanya engkaulah sosok yang menenangkanku
Sosok Ibu yang selalu tenang, menghapus air mataku
Dia berdiri sendiri, seperti tiang bendera yang aku lihat setiap hari di sekolah
Kokoh, tegap, dan kuat sudah pasti dibantu Tuhan
Tidaklah langit akan jatuh kecuali Tuhan menghendaki bahwa ia harus jatuh
Dan begitulah Tuhan menemani ibuku. Dia tidak menghendaki ibu akan jatuh seperti hujan
Cintanya sedalam samudra, meski aku tak pernah menyelami samudra
Kasihnya sepanjang masa, meski aku tidak tahu sampai kapan masa itu akan berakhir
Ibuku tidak bisa terlalu banyak di definisikan
Sebab dia sudah lebih dari definisi itu sendiri
Aku mencintaimu, Ibuku
Hiduplah terus bersamaku
Temani aku melewati badai mendatang
Sampai awan cerah kembali datang
Suara tepukan tangan terdengar saat aku selesai membaca. Ramai sekali! Meski aku agak sedikit terganggu dengan stimulasi ini, meski begitu aku yakin bahwa semua orang tahu bahwa Ibuku adalah orang paling hebat di dunia ini.
Sembari menunggu pengumuman, aku terduduk didepan panggung. Kakiku tergantung sebab tinggiku yang tidak terlalu tinggi. Sayang sekali Ibu tidak datang, dia sedang sakit. Dan harusnya kupilih untuk menjaganya hari ini, tapi dia mengatakan bahwa inilah waktuku untuk membuktikan bahwa Ibu itu kuat melalui keterampilanku dalam bersastra.
Aku mengedipkan mata berkali-kali meski tidak ada debu yang masuk sama sekali, kebiasaan ini selalu kulakukan jika aku sedang gugup dan berbicara sendiri. Aku heran mengapa orang-orang menatapku aneh. Memangnya anak tujuh tahun tidak wajar melakukan ini, ya?
Dan inilah.. saat pengumuman! Dan namaku terpanggil sebagai juara pertama! Aku langsung naik ke panggung dan memegang piala besar nan berkilau itu, berkilau kilau kilau sekali! Aku juga mendapatkan hadiah uang, nanti akan kuberikan kepada Ibu untuk memakan terang bulan banyak sekali. Ibu sangat suka terang bulan.
Dengan begitu, aku pulang sembari menenteng banyak benda. Mulai dari piala penghargaan, amplop yang berisi uang, dan kertas puisiku. Senang sekali aku sebab orang baik berbaik hati memberikan sebuah tas kotak dengan pegangan untuk menaruhnya. Jangan tanya kenapa Ibu tidak menjemputku. Dia sedang sakit tahu. Bukan berarti dia Ibu yang tidak baik.
Perjalanan ku terasa tidak begitu lama sebab aku bersenandung sepanjang perjalanan, betapa bahagianya aku hari ini. Tidak terasa langkah kakiku sudah berada di depan rumah. Tanganku datang meraih gagang pintu dan membukanya. Namun sebuah pertanyaan melintas dipikiranku: dimana Ibu?
Aku mencarinya kemana-mana. Kamar, toilet, ruang tamu, hingga sampailah di dapur. Aku pun meraih baju Ibu, dan berkata “Ibu, Ibu, aku memenangkan perlombaan puisi. Coba lihat piala ini” Aku mengeluarkan piala itu dari tas dan mengarahkan padanya. “Lihat, berkilau sekali! Ini bisa membantu menyinari teras rumah kita yang gelap!”
Namun Ibu tetap tertidur. Dia terlelap. Aku menghela napas, sepertinya kali ini akan berhasil. “Aku juga mendapatkan uang, ayo kita beli terang bulan keju yang Ibu suka!” aku menarik bajunya dengan sedikit paksaan, sebab sudah daritadi Ibu tidak mengindahkanku.
Hingga pada akhirnya aksiku itu berhasil membuat Ibu terkapar di lantai dengan sebuah cairan putih yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya terasa kaku saat aku menyentuhnya, lalu tanpa aba-aba kucium kening Ibu yang sedang tertidur. “Baiklah Ibu, besok saja kita beli terang bulannya”
Pagi harinya, aku terbangun sebab suara menggema di telingaku saat aku membuka mata secara perlahan. Aku digendong oleh seseorang yang tidak kukenal dan Ibu dibawa menggunakan.. apa ya namanya.. dan masuk ke dalam mobil putih dengan sirine yang membuatku tidak bisa lagi tertidur.
Apakah Ibu akan pergi? Tidak. Tidak kubiarkan! Dengan begitu, aku memberontak pada orang yang menggendongku. Aku melakukan perlawanan yang aku bisa, tapi tenaganya lebih besar dariku, membuatku tidak bisa melakukan apa-apa.
Aku melakukan perlawanan terakhir dengan mengigit lehernya. Dia mengerang kesakitan dan saat dia lengah aku melepaskan diri darinya dan mengejar mobil yang membawa Ibu pergi. Tapi mobil itu lebih cepat dariku. Benda beroda empat itu secara perlahan menghilang dari pandanganku.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu, wahai Tuhanku?”
-Ryuuna