Teruntuk Lewa. Aku melihat postingan perpisahan di akun IG-mu Sabtu kemarin. Aku terkejut melihatnya. Walau semua sudah terprediksi. Dan momen perpisahan semakin dekat. Tetap saja. Perpisahan ini begitu menyesakkan bagi kami semua.

Kembali ke empat tahun silam. Aku sangat terkejut ketika kau memutuskan datang ke Barcelona. Entah apa yang ada dalam pikiranmu. Sulit bagiku memahami kenapa kau ingin bergabung ke Barcelona. Apa karena kotanya? Apa karena kebesaran klubnya? Apa karena kultur? Termakan bujuk rayu Joan Laporta ataukah Xavi? Atau mungkin kau ingin tantangan baru dan berbeda?

Namun seperti yang kau katakan sendiri. Keputusanmu meninggalkan Munchen adalah murni keinginanmu pribadi. Keberanian meninggalkan kemapanan dan mencari tantangan baru. Entah ada motif apa dibaliknya. Namun sikap itulah yang kau bawa dan tularkan kepada tim catalan. Sikap petarung, semangat juang, profil juara, dan profesional level tinggi.

Semua orang tahu bagaimana kondisi Barcelona ketika saat itu. Kesulitan keuangan adalah masalah pokok yang melahirkan berbagai macam kekacauan bagi klub. Bahkan ketika namamu resmi masuk ke dalam skuad, itu belum tentu kau akan bermain.

Belum lagi kepergian Messi setahun sebelumnya juga menimbulkan luka yang dalam bagi Barcelona. Gonta-ganti pelatih tanpa memiliki karakter yang jelas membuat pemain bingung harus bermain seperti apa. Akibatnya terlihat jelas di lapangan. Barcelona main tanpa nyawa dan semangat juang. Di luar lapangan, para bintang enggan untuk menerima pinangan Barcelona. Mudah dipahami, karena saat itu Barcelona mirip dengan kapal pecah yang nyaris tenggelam. Di tengah kondisi itu kau memutuskan datang. Entah apa tujuanmu piribadi. Hari ini kekacauan itu perlahan mulai membaik.

Musim pertamamu tidak buruk. Kau berhasil memenangkan dua trofi sekaligus meraih gelar top skor. Musim kedua menjadi kacau. Tim ini tidak memenangkan gelar apa pun.

Musim ketiga adalah kebangkitan. Chemistry-mu dengan Flick memang sangat kuat. Bersama Flick kita berhasil menyapu empat gelar domestik. Gelontoran gol tanpa henti dan semangat spartan. Kebuntuan permainan dan mental lembek pemain di musim sebelumnya kini hilang tanpa bekas. Dan kurasa kita memang hanya kurang beruntung saja tidak bermain di final UCL walau kita pantas untuk itu.

Musim ini memang ada penurunan. Baik sebagai tim maupun performa individumu. Kesalahan-kesalahan kecil telah menjauhkan tim ini memeluk trofi UCL keenam. Tapi setidaknya kita masih berada di jalur positif.

Performamu menurun. Gelontoran golmu berkurang drastis. Kebiasaanmu nangkring di daftar puncak top skor, musim ini tidak lagi. Perlahan-lahan kau mulai ditepikan dari tim utama. Bangku cadangan menjadi teman akrab. Menonton dari pinggir lapangan menjadi kebiasaan baru. Namun disitulah hebatnya dirimu. Tidak pernah sekalipun dirimu mengeluh dengan kondisi ini. Kau tetap bekerja secara profesional. Berlatih dengan giat. Memenuhi tanggung jawabmu sebagai pemain. Tidak pernah mengeluh di luar lapangan seperti yang dilakukan pemain-pemain bintang ketika dicadangkan. Memancing keriuhan di sosial media. Menerima dengan lapang dada ketika diganti–tidak seperti tetangga sebelah yang merengek kayak anak kecil ketika diganti.

Keengganan mengambil tendangan penalti karena merasa kurang percaya diri memperlihatkan kebesaran hatimu. Lebih mementingkan kepentingan tim daripada diri sendiri. Bintang besar lain belum tentu mengambil keputusan itu ketika menghadapi situasi yang sama.

Pemain-pemain senior satu per satu meninggalkan Barca. Musim ini tersisa duo Polandia yang menjadi penggiring para pemain muda yang baru mentas. Senior panutan. Dan hari itu pun tiba. Kau memutuskan untuk pergi, Lewa. Dengan semua kenangan haru yang kau berikan kepada kami.

Lewa, perpisahanmu begitu spesial. Bahkan lebih spesial dari perpisahan Xavi dan Iniesta. Sebab kami melihat kau datang ketika Barcelona sedang tidak baik-baik saja. Kau rela meninggalkan kemapanan di Munchen dan menjemput kekacauan di Barca. Baru tanda tangan kontrak kau sudah merasakan kepahitan itu–gaji yang lebih kecil. Terancam tidak bisa didaftarkan. Pemain yang tidak memiliki semangat juang. Taktik yang kaku. Kau membimbing pemain muda barca dan menguatkannya. Mengedepankan tim ketimbang ego pribadi. Tetap bersikap profesional meski sering diganti dan dibangku cadangkan. Tidak membuat sensasi yang tidak perlu meski kau seorang bintang. Kau tetap dengan jati dirimu: seorang petarung, kesatria, penantang maut, pemimpin, panutan generasi muda, dan profesional sejati.

Dan yang lebih spesial lagi kau memulai semua itu dari bukan siapa-siapa. Kau bahkan adalah predator haus gol yang kami takuti. Berkali-kali kau mengubur mimpi kami meraih trofi UCL. Bahkan kau adalah salah satu antagonis utama dalam pembantaian 8-2. Dan kini kau bersama kami. Berjuang bersama. Mendirikan kembali bangunan yang sudah roboh. Menyuntikkan jiwa. Dan memberikan warisan tak ternilai bagi generasi muda setelahnya. Setelah kepergianmu, entah kapan lagi kami akan menemukan orang yang spesial sepertimu. Terima kasih, Lewa. Selamat jalan legenda. Semoga sukses di manapun kau berada. Semoga keberuntungan selalu menyertaimu.

Visca Barca. Visca Catalunya. Siempre culers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *