Saya cukup terkesan dengan KM. Dharma Kencana 7 milik DLU. Ekspektasi itu juga turut menyertai ketika saya numpaki KM. Dharma Rucitra 7 untuk pertama kali pada saat arus balik kemarin. Namun ekspektasi itu runtuh seketika saat itu juga. Perbedaan yang sangat kontras terlihat di depan mata.

Berbeda dengan saudaranya yang layaknya kapal pesiar. Rucitra 7 lebih pas disebut kapal barang. Selain muatan barangnya yang memang banyak, juga karena kapal ini hanya menyediakan satu dek saja untuk penumpangnya. Satu dek dengan koridor yang sempit dan apa adanya. Tidak ada hall di bagian buritan tempat orang kongko-kongko santai menikmati udara laut yang asin sebagaimana saudaranya Kencana 7. Tetapi menariknya, kapal ini memiliki haluan yang bisa ditempati orang-orang menatap matahari tenggelam di horizon. Asik jadinya. Bisa fokus menatap ke depan mengikuti laju kapal sambil melihat sunset. Ya, walau begitu. Haluannya sempit. Untuk bisa dilewati kadang harus senggolan bokong dengan pantat saking sempit koridornya.

Gambar 1. Koridornya hanya selebar ini.

Ruang penumpangnya juga mengecewakan. Tidak ada kamar kelas maupun VIP. Full semuanya ekonomi. Ada tiga kasta kelas ekonomi. Kelas pertama adalah ekonomi tidur, kemudian ekonomi duduk, dan terakhir non seat.

Di ruang tidur ekonomi, tinggi langit-langitnya sangat rendah. Kebetulan saya mendapat tempat di bed bagian atas. Dengan tinggiku yang hanya 160 cm dan dalam posisi duduk. Kepalaku dengan mudah menyundul langit-langit. Jarak antara ujung kepala dan langit-langit paling hanya sekitar satu jengkal, atau bahkan mungkin kurang. Dengan kondisi seperti itu, ruangan ini menjadi tempat sauna yang sempurna untuk mengeluarkan keringat dan juga baunya secara maksimal. Cuman bedanya di aroma saja. Jika sauna aromanya aroma sabun, di Rucitra 7 aromanya adalah bau badan dan keringat penumpang.

Gambar 2. Ketinggian langit-langit KM. Dharma Rucitra 7 yang super duper pendek

Rucitra 7 memiliki satu toilet yang digunakan untuk seluruh penumpang kapal. Memiliki 7 bilik mandi sekaligus buang air. Dan 2 westafel untuk cuci-cuci. Namun sayang satu westafel rusak pada saat saya tumpaki kemarin.

Dengan hanya satu-satunya toilet yang ada, jangan heran jika toilet ini selalu penuh terisi apalagi di jam-jam sibuk. Maka bisa dipastikan antriannya selalu panjang mengular. Saya sendiri berusaha menghemat-hemat minum agar tidak keseringan kencing. Karena tidak senang dengan antriannya yang panjang sekali. Atau bisa juga kau mengempet kencing dan tahimu. Nanti buangnya pada saat tengah malam ketika orang-orang pada tidur. Tentu saja kalau kau bisa menahan selama itu. Hahahah…

Kalau musallanya, secara ukuran tidak jauh beda dengan Kencana 7. Musalla menjadi tempat pelarian yang nyaman bagi orang-orang yang merasa gerah di bednya. Musallanya juga bersih. Namun karena banyak orang yang ngungsi jadinya agak berantakan.

Tengah malam ketika orang sibuk beristirahat, terpantau pendingin ruangannya masih berfungsi normal. Namun besok paginya menjelang siang. Pendingin ruangannya bermasalah. Dengan rusaknya pendingin ruangan di Musalla, maka tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk berlindung dari gerahnya suhu di kapal. Sebenarnya bukan tidak ada sama sekali. Ada kok tempatnya. Di haluan. Tinggal siapkan minyak kayu putih saja jaga-jaga jika masuk angin.

Kapal ini juga dilengkapi dengan dua pujasera. Satu pujasera surga, satunya lagi pujasera neraka. Pujasera surga ini tempatnya tertutup dilengkapi AC dan colokan. Karena orang-orang pada gerah makanya mereka ngungsi, nyari tempat-tempat yang adem. Dan pujasera inilah salah satu targetnya. Jadinya orang pada numpuk. Karena orang pada numpuk, banyak mulut dan hidung yang menghisap udaranya, ACnya jadi tidak dingin. Kasihan, deh.

Di pujasera neraka lebih parah lagi. Karena ruangnya terbuka, tempat ini menjadi spot yang paling asyik buat para ahli hisap. Produksi asap nikotinnya kayak fogging DBD. Tambahkan lagi bau keringat. Jadilah tempat ini adalah tempat terkutuk bagi orang-orang bukan perokok seperti saya.

Dengan pengalaman yang seperti kuceritakan barusan. Sepertinya cukup bagiku untuk menaiki kapal ini lagi. Tidak untuk kedua kali. Selama Kencana 7 masih ada, maka mending naik Kencana 7 saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *