Sebelum kalian membaca tulisan ini, terlebih dahulu saya memberikan peringatan bahwa tulisan ini mengandung spoiler. Jadi segera hentikan membaca jika anda tidak ingin mendapat spoiler.

***

Film ini sudah lama beredar diproduksi tahun 2024, tentu sekarang sudah turun layar. Masuk ke Netflix juga sudah lama. Tapi memang saya dasarnya saya orangnya kudet, film ini baru saya nonton Senin kemarin.

Sebenarnya sudah lama saya ingin nonton film ini. Tapi ada satu alasan yang membuat saya menahan diri untuk menonton film ini. Karena konflik ceritanya.

Alur ceritanya sederhana saja khas-khas kisah perselingkuhan. Tokoh utama perempuan, Nisa, dimintai tolong oleh ibunya untuk diitipkan adik perempuannya tinggal di rumahnya karena ibunya khawatir adiknya akan kenapa-nepa jika tinggal indekos. Setelah konsultasi dengan suaminya, Nisa akhirnya menerima adiknya tinggal di rumahnya. Alur cerita pun mulai dibangun. Konflik-konflik dimunculkan. Hingga benih-benih asmara lahir diantara suami Nisa, Aris dengan adik ipar perempuannya, Rani. Dan seperti yang bisa ditebak. Tabir perselingkuhan antara Aris dan Rani yang ditutup-tutupi akhirnya tersingkap setelanjang-telanjangnya.

Nisa yang kecewa akhirnya pulang ke rumah ibunya di Salatiga. Mengadukan kisah menyakitkan itu kepada ibunya. Dan ketika mereka bertiga berkumpul, Nisa, Rani, dan Ibunya. Alur cerita berbelok ke konflik batin dalam diri Rani.

Rani sebenarnya kecewa dengan ibunya yang dia merasa ibunya kurang mempercayai dirinya dengan tidak membolehkannya tinggal sendiri ngekos. Dan lebih mempercayai kakaknya ketimbang dia. Sibling rivalry muncul. Di lain sisi dia juga mengkonfrontasi kakaknya, karena kakaknya sibuk dengan binisnya sendiri hingga melupakan suaminya. Hingga suaminya berpaling ke dia.

Klimaksnya ketika Rani ketahuan hamil. Nisa menumpahkan semua emosi, amarah, kesedihan, dan rasa jijiknya kepada suaminya. Dengan mengatakan bahwa suaminya telah merusak rumah tangganya dan juga adiknya. Aris yang tidak mengelak lagi hanya bisa roboh dan jatuh dalam tangisannya.

Kurang lebih begitulah alur ceritanya filmnya. Namun jika membaca kisah aslinya, ternyata jauh jauh jauh lebih gelap lagi dari apa yang tampilkan di film.

Jujur saja. Saya merasa jijik dengan konflik cerita film ini. Membayangkannya saja sudah menjijikkan. Itulah yang membuatku merasa enggan menonton film ini. Bagaimana kalau kisah itu menimpa diriku? Aduuh… amit-amit, deh. Bisa kacau semuanya. Hiiih..

Film ini adalah tamparan kerasa bagi semua pasangan suami istri. Menjadi pengingat bahwa kita harus hati-hati jika ingin membawa sanak keluarga tinggal di rumah sendiri. Siapapun itu. Mau orang tua, adik, kakak. Apalagi jika yang dibawa adalah saudara yang berlawanan jenis dengan pasangan. Beh, ini bisa warning keras. Kalau tidak, bisa jadi satu film kolosal lagi yang sama dengan Ipar Adalah Maut.

Karena bagaimanapun orangnya, siapapun orangnya. Menambah penduduk rumah berarti juga adalah menambah konflik. Itu sudah konsekuensi logis. Tinggal kitanya saja mau menghadapi konflik yang mana. Karena bagaimanapun setan akan masuk dari pintu mana saja.

Ini juga jadi peringatan keras buat para suami sekaligus kepala rumah tangga. Otak rumah tangga ada di dia. Pemikiran logis ada pada pertimbangannya. Seorang suami harus sensitif mendeteksi bahaya yang mengancam rumah tangga sedini mungkin. Dan mengambil tindakan yang tegas, berani, dan terukur dari segala ancaman.

Buat para istri juga penting. Karena naluri seorang istri itu sangat tajam. Seperti pesannya Nisa, jangan pernah matikan nalurimu. Jika ada perasaan bahaya yang mengancam agar segera disampaikan kepada suami. Didiskusikan sama-sama. Jangan setengah-setengah diskusinya. Diskusikan sampai tuntas ke akar-akarnya. Sebelum jadi kata terlanjur. Jika sudah terlanjur, selanjutnya adalah kecewa.

Buat para orang tua juga penting. Orang tua harus belajar menitipkan kepercayaan kepada anaknya. Jangan takut, resiko memang harus diambil. Masalah ibunya Rani adalah dia tidak bisa memberikan kepercayaan kepada Rani ngekos sendiri. Dan memilih menitipkan Rani kepada Nisa. Sesuatu yang akhirnya dibayar mahal oleh mereka semua.

Memberikan kepercayaan itu berarti mendidik dengan benar dan penuh tanggung jawab. Kita harus memberikan bekal ilmu, agama, moral, akhlak, sikap hidup yang benar kepada anak. Karena sulit memang memberikan kepercayaan jika masih ada keraguan dalam diri. Di sinilah dibutuhkan keberanian. Berani menitipkan kepercayaan dan berani ambil resiko.

Dan korban paling parah dan tragis dari konflik rumah tangga ini sudah pasti anak. Korban dari keegoisan orang dewasa. Korban dari kebodohan orang dewasa. Korban dari kelalaian orang dewasa. Semuanya ditanggung oleh anak dari kecil sampai dewasa. Menjadi luka dan trauma yang menyertai tiap langkah hidup mereka. Bayangkan saja kau adalah anak dari bapak yang tukang selingkuh. Selingkuhnya dengan tantemu sendiri. Bagaimana tidak kacau hidupnya tuh anak. Kasihan. Bagaimana mungkin orang tua bisa memberikan trauma yang begitu gelap dan sayatan permanen yang begitu dalam pada anaknya sendiri. Astagfirullah. Jangan sampai saya menjadi suami dan bapak yang bodoh, kacau, dan tak bermoral kepada istri dan anakku, ya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *