Pertanyaan ini terlontar dari salah seorang mentor menulisku di (Kelas Menulis Bahagia). Oke langsung saya tuangkan di tulisan ini.
Saya ingin menulis untuk mengeluarkan isi pikiran saya yang sudah semrawut. Sama seperti ejakulasi. Ketika sudah keluar rasanya pastilah lega. Menulis pun seperti itu. Ada kelegaan ketika kita berhasil mengeluarkan semua keluhan dan sambatan yang ada dalam kepala. Kalian bisa baca tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Mungkin lebih banyak isinya sambatan. Begitulah hidupku saat ini: banyak sambatan.
Sebenarnya bukan cuma sambatan tentu saja. Secara lebih general saya ingin mencoba menuangkan isi pikiran saya dalam bentuk tulisan. Kenapa kok harus tulisan? Karena saya senang baca–gak tahu, ya, kalau hobi.
Bukannya saya tidak menikmati jenis media yang lain, audio ataupun audio visual. Saya pun juga menikmatinya. Tapi rasanya menyenangkan saja berkutat dengan teks-teks yang tersusun dalam sebuah tulisan. Mengimajinasikan tulisannya. Dan kagum bagaimana mungkin bisa seseorang mengeluarkan kata-kata sihir itu.
Dari kecil saya senang baca. Walau begitu saya bukanlah pembaca yang tekun. Sampai hari usia saya sudah 31 tahun, dengan segenap keyakinan saya menyatakan kalau diri saya bukanlah pembaca yang tekun. Koleksi buku saya memang banyak. Tapi jujur saja kawan, banyak juga koleksi itu yang belum saya baca sampai hari ini. Hanya mengeluarkan uang untuk membeli. Habis itu masuk rak. Entah kapan buku itu akan dibaca. Ini memang penyakitnya orang yang suka buku. Jadi jangan kira kalau orang yang suka buku pasti berpengetahuan luas. Karena, ya, itu tadi. Beli buku tapi bukunya tidak dibaca.
Menjadi pembaca sudah seharusnya juga belajar menulis. Setidaknya begitu menurutku. Sederhana saja. Orang-orang yang senang membaca pasti akan masuk begitu banyak menumpuk informasi di kepalanya. Debat sengit terjadi di kepalanya. Juga ada perenungan. Dan menahan semua itu sama rasanya seperti seorang suami menahan rasa ingin berhubungan seksual–bagi yang sudah nikah , loh–karena istrinya lagi haid. Gelisah rasanya kawan. Hahahaha..
Dan ketika berhasil menuangkan kegelisahan dalam bentuk tulisan. Rasanya seperti istrimu sudah selesai haid dan langsung gas berhubungan. Bagaimana rasanya? Legaaaa… seperti semua kegelisahan hidupmu larut dalam air mani yang keluar saat ejakulasi. Ah, apa sih. Kok, malah ngomongin yang gituan. Tapi, ya, jujur saja. Memang perasaannya kayak gitu.
Alasan lain kenapa saya ingin menulis adalah karena motif ekonomi. Pengennya, sih, tulisan-tulisanku kelak bisa menjadi salah sumber penghasilan untuk ketahanan fiskal rumah tangga. Hidup di zaman sekarang semakin sulit kawan. Biaya hidup makin hari makin mencekik. Kudu pintar-pintar nyari second income. Main income sudah gak cukup lagi untuk jabatan karyawan kasta sudra. Dan inilah pelarianku. Mencoba menjadikan kesenangan menjadi pundi-pundi cuan. Makanya aku gabung di KMB ini. Karena mentornya juga punya visi yang sama denganku. Ya, walaupun belum pernah ada tulisanku yang aku setorkan ke Mas Rizky. Maaf, ya, mas. Hehehe
Apa lagi, ya? Kayaknya dua itu yang utama, deh. Keduanya lahir dari keresahan. Keresahan alam pikir dan keresahan ekonomi. Jujur saja aku tidak menanamkan ekspektasi yang tinggi dari tulisanku ini. Aku tidak berekspektasi kalau tulisanku kelak akan mengguncang dunia. Bahwa tulisannku kelak akan merubah peradaban. Kagak.. gak pernah aku berekspektasi kayak gitu di tulisanku. Lah, tulisanku saja acakadul kayak gitu kok. Kalau pun tulisanku kelak akan merubah dunia. Ya, itu bonus aja sih. Bonus dari keisengan. Hahahaha..
Sudah, ya. Tulisan ini sudah cukup panjang untuk memulai nulis lagi setelah sebulan lebih gak nulis. Semoga kedepannya bisa konsisten nulis lagi dan bisa menghasilkan cuan tentu saja. Salam.