Ini adalah buku pertama Agus Mulyadi. Buku ini bergenre komedi. Dan seperti buku Gus Mul yang lain, buku ringan ini juga menceritakan semesta kehidupan Gus Mul. Dirangkai dengan bahasa yang ringan dan kocak. Sebuah buku yang cukup berani untuk karya debut seorang penulis. Tapi itu bisa dipahami. Buku ini adalah hasil adaptasi dari blog si penulis. https://www.agusmulyadi.web.id/ Coba deh sekali-kali mampir di blog ini, mumpung blognya masih bisa diakses.

Gaya kepenulisan Agus Mulyadi adalah favorit saya. Lugas, jelas, tegas, dan mudah memahami maknya. Mirip-mirip dengan Pandji, Tere Liye, Dandhy Laksono, dan sebangsanya. Gaya kepenulisan ini memang adalah yang paling saya gemari. Jujur saja, saya adalah orang yang sulit memahmi tulisan yang terlalu berbelit-belit yang kaya dengan kata-kata sulit. Sangat suit bagiku untuk memahami tulisan seperti itu. Perlu jeda lama hanya untuk mengetahui makna kata, buka KBBI, dan memahami maknanya secara menyeluruh. Nah, jika memmbaca tulisannya Agus. Kalimat dan kata-kata sulit jelas tidak ada. Ya, mau apa juga pake kata-kata yang sok akademisi. Lah, tulisannya tentang kehidupan sehari-hari kok. Gak nyambung malah jadinya kalo jadi sok akademis.

Kalau kalian senang dengan buku komedi, ini bisa menjadi salah satu bacaan yang segar. Apalagi jika Anda adalah orang Jawa, bukunya menjadi sangat relate. Sebab buku ini isinya adalah kehidupan seorang Agus Mulyadi yang seorang Jawa asli. Agus cukup sering menggunakan bahasa Jawa dalam tulisannya. Anda yang orang Jawa menjadi lebih dekat dengan penulis jika membaca tulisannya.

Karena Agus lahir dari keluarga yang miskin dan jelek–saya yakin sampean gak marah, kan, mas. Hehe–jadilah isu kemiskinan dan jeleknya menjadi satu isu yang cukup dieksploitasi banyak. Namun Agus cukup cerdas memainkan isu ini. Dengan gaya kepenulisannya yang jenaka, pembaca tidak akan merasa kasihan dengan masyarakat miskin. Bukan maksud saya tidak bersimpati kepada masyarakat miskin. Tidak. Bukan begitu maksud saya.

Agus pandai menulis isu kemiskinan keluarganya menjadi sesuatu yang segar yang bisa dinikmati. Selama ini mungkin banyak orang yang memandang kasihan terhadap orang-orang miskin. Seakan orang miskin tidak pernah bahagia. Dari buku ini kita tahu bahwa kebahagaian itu ada di mana saja. Menyapa semua orang yang memang ingin senang dan bahagia. Agus yang lahir dari ayah yang seorang hansip dan ibu bekerja sebagai ART, toh, masih tetap bahagia dengan kehidupannya. Agus yang–mohon maaf, mas, sekeli lagi aku yakin sampean gak marah–jelek juga pede-pede aja ngedit fotonya mejeng sama Nabilah JKT48.

Itulah yang dilakukan Agus. Bukan jadi masalah jika kita terlahir miskin dan jelek. Yang terpenting bagaimana kita memaknai semua peristiwa kehidupan yang kita alami dan menentukan masa depan seperti apa yang kita inginkan. Bukan salah kita jika terlahir dari keluarga miskin. Tidak penting jika kita lahir dari keluarga miskin. Sebab itu semua di luar kendali kita. Yang terpenting adalah bagaimana memaknai kemiskinan itu. Apakah menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk mengutuk kemiskinan di masa depan. Ataukah menjadikan kemiskinan semacam dorongan semangat untuk meriah kehidupan yang layak di masa depan. Dan Agus mengambil pilihan nomor dua: kemiskinan menjadi dorongan semangat. Dan Agus berhasil dengan usahanya itu. Saya yakin buku-buku, tulisan, dan karyanya telah mengangkat dirinya dan keluarganya dari kemiskinan. Kini Agus tidak miskin lagi, tidak jomblo lagi. Agus bahkan sudah punya anak perempuan yang lucu. Kurasa, kita memang perlu belajar tentang rasa syukur dari Agus Mulyadi. Jadi tunggu apa lagi, ayo amankan bukunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *