Kemenangan Argentina pada pada Piala Dunia 2022 menyisakan cerita tersendiri. Kemenangan ini sekaligus menyempurnakan koleksi trofi sang mega bintang Lionel Messi.

Trofi piala dunia. Trofi yang selama ini menjadi bahan olok-olok publik kepada Messi sebagai titisan Maradona. Malam itu Messi menyudahi semua olok-olok itu dengan kemenangan dramatis melawan Prancis yang dimotori bintang sepak bola saat ini, Kylian Mbappe.

Meraih juara dunia bersama timnas Argentina adalah mimpi Messi kecil. Maka ini adalah kisah anak kecil yang berhasil meraih mimpi-mimpinya dengan segala usaha, perjuangan, dan air mata yang menyertai.

Messi lahir dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ayahnya pekerja pabrik dan ibunya pembersih paruh waktu. Ketika Messi didiagnosis mengalami kekurangan hormon pertumbuhan, ayahnya tidak punya biaya untuk memberikan pengobatan yang memadai. Seakan semesta merestui, Carles Rexach yang saat itu menjabat sebagai direktur olahraga Barcelona menemukan bakat Messi. Mengetahui bahwa Messi butuh dana untuk pengobatan kekurangan hormon pertumbuhannya, Rexach langsung mengambil celah itu. Barcelona bersedia menanggung biaya pengobatan hormon Messi dengan syarat Messi harus mau pindah ke Spanyol dan masuk akademi sepakbola Barcelona. Ayah Messi pun menyetujui.

Messi pindah ke Spanyol sejak usia 13 tahun. Anak seusia SMP meninggalkan kampung halamannya dan datang ke tempat yang benar-benar baru dan asing baginya. Saya rasa tidak semua anak usia segitu bisa mampu melakukannya.

Messi memulai hidup barunya di Barcelona sebagai pemain akademi. Perlahan-lahan Messi mulai menapaki satu per satu anak tangga. Dan akhirnya memulai debutnya di tim utama Barcelona pada tahun 2003 pada usia 16 tahun 145 hari, ketika itu melawan FC Porto di pertandingan persahabatan. Debutnya di kompetisi resmi adalah melawan RCD Espanyol pada 16 Oktober 2004.

Perlahan karir Messi menanjak. Yang awalnya hanya bocah ingusan. Setapak demi setapak Messi mulai mengunci satu posisi di tim utama. Gelar demi gelar diraihnya. Baik itu prestasi individu ataupun gelar bersama tim. Bersama timnas Argentina U20 Messi memenangkan piala dunia U20 di tahun 2005 dan memenangkan medali emas olimpiade di tahun 2008. Setahun berselang, Messi mulai menyundul puncak dunia dengan memenangkan gelar UCL bersama Barcelona dengan mengalahkan seteru abadinya, Cristiano Ronaldo di partai puncak.

Semua kerja keras dan pencapaiannya sepanjang musim 08/09 membuatnya diganjar gelar Ballon d’Or dan The Best FIFA Men’s Player di tahun 2009. Messi menjadi bintang sepakbola.

Yang menakjubkannya adalah Messi–bersama Ronaldo–mampu mempertahankan performa puncaknya dalam waktu lama. Selama 10 tahun Messi dan Ronaldo bergantian menjadi pemenang Ballon d’Or. Sesuatu yang tidak ditemukan pada bintang-bintang sepakbola sebelumnya.

Semua prestasi individu dan gelar di level klub sudah dimenangkan oleh Messi bersama Barcelona. Tidak ada lagi yang perlu dimenangkan. Top skor dan pemain terbaik kompetisi, Ballon d’Or, pemain terbaik FIFA, pemain terbaik Eropa semua sudah diraihnya. Level klub pun sama. UCL, liga, piala, piala super Eropa, piala super Spanyol, piala dunia antar klub, semua sudah diraihnya kecuali gelar Ligina.

Namun publik masih dipandang sebelah mata tak punya reputasi–baca pake nada lagu Bondan. Apalagi kalau bukan gelar di tingkat negara. Messi memang kering kerontang di kompetisi antar negara. Gelar klubnya memang lengkap. Tapi gelar juara antar negara masih nihil. Dua gelar juara antar negara sebelumnya dia raih bersama timnas kelompok umur. Belum ada gelar juara yang dimenangkannya bersama timnas Argentina senior.

Messi hampir saja memenangkan piala dunia di tahun 2014. Ketika itu Argentina sudah berhasil lolos sampai ke partai puncak. Bertemu dengan Jerman, tim yang selalu mengandaskan Argentina di dua edisi piala dunia sebelumnya. Kedua tim bermain alot sampai waktu normal habis. Memasuki babak perpanjangan waktu, sekali lagi Argentina harus takluk di tangan Jerman setelah Mario Goetze berhasil mencetak gol tunggal di menit ke-113.

Setahun berselang Messi kembali harus menahan malu setelah gagal di partai puncak Copa America. Kali ini Chile yang mematahkan hati Messi. Setelah bermain sama kuat 0-0 di waktu normal dan extra time. Pertandingan berlanjut ke adu penalti. Argentina kalah dengan skor 4-1.

Berselang setahun lagi, Argentina kembali kalah melawan Chile dengan skenario yang sama sama, adu penalti. Kegagalan di tiga final beruntun di tiga tahun beruntun membuat Messi remuk redam. Messi memutuskan pensiun setelah final Copa America 2016. Namun tidak berselang lama Messi menarik kembali kata-katanya. Messi kembali memperjuangkan mimpi-mimpi masa kecilnya. Namun tidak mudah ternyata. Kegagalan kembali menghampirinya.

Messi kembali gagal di piala dunia 2018. Tim penuh bintang, Prancis, berhasil mengalahkan Argentina dengan skor ketat 4-3. Messi gagal di kesempatan keempatnya di piala dunia.

Tahun 2019, kompetisi Copa America diadakan di tanah Samba, musuh bebuyutan Argentina. Kali ini Argentina gugur di fase semi final. Brasil berhasil memulangkan Argentina. Lagi-lagi nihil bagi Argentina dan Messi.

Namun seperti pepatah bijak, “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”. Benar sudah. Rentetan kegagalan Messi dari tahun 2006-2019 hanyalah waktu tunda meriah juara. Kegagalan-kegagalan itu bagaikan anak tangga yang tersusun rapi untuk mencapai puncak.

Messi berhasil memenangkan gelar juara pertamanya bersama timnas Argentina di kompetisi Copa America 2021. Kemenangan ini sekaligus membuat Argentina berhak mewakili Conmebol untuk menantang Italia sebagai juara Eropa untuk memperebutkan gelar Finalissima–semacam piala super–di tahun 2022.

Seperti sudah ditakdirkan menjadi pemenang. Argentina dengan mudah membantai Italia dengan skor telak 3-0, melalui gol Lautaro Martinez, Di Maria, dan Pauo Dybala.

Belum selesai tahun 2022. Argentina yang dikapteni Messi berhasil menapak puncak dunia dengan mengalahkan Prancis melalui pertandingan dramatis dan menegangkan. Argentina mampu menjaga skor 2-0 sampai 3/4 permainan berjalan. Kemenangan gemilang di depan mata buyar seketika. Mbappe berhasil mencetak 2 gol hanya dalam waktu 2 menit, di menit ke-80 dan 81. Pertandingan berlanjut ke babak extra time.

Messi kembali membawa Argentina unggul setelah mencetak gol di menit ke-108. Lagi-lagi, Mbappe yang tampil kesetanan berhasil menyamakan skor di menit ke 118 lewat eksekusi penalti. Prancis bahkan hampir saja berbalik unggul andai Emi Martinez gagal menghalau sepakan Randal Kolo Muani di penghujung laga. Pertandingan selesai dengan skor sama kuat 3-3.

Di babak adu penalti nasib sial menghampiri Prancis. 2 dari 4 penendang penalti Prancis gagal menunaikan tugas dengan sempurna. Di sisi lain keempat penendang Argentina berhasil menunaikan tugas tanpa celah. Argentina resmi menjadi juara dunia. Setelah 3 kali gagal secara beruntun di babak final, Argentina dan Messi berhasil memenangkan 3 babak final secara beruntun pula.

Kemenangan Argentina di piala dunia 2022 bagi seorang messi seperti orang yang sangat haus menemukan oase untuk melepaskan dahaganya. Bagaikan memetik buah setelah bertahun-tahun memelihara pohonnya. Kemenangan yang diraih setelah melewati semua proses kegagalan. Dengan sikap pantang menyerah, bekerja keras, tidak berputus asa, selalu berusaha, dan tidak pernah melupakan mimpi-mimpi. Ya, itulah yang diperlihatkan Messi kepada seluruh dunia. Kita hanya perlu bangkit satu kali lebih banyak dari kejatuhan kita. Dan terus mencoba, berusaha keras, mengusahakan segala cara yang terhormat untuk meraih mimpi-mimpi itu. Dan setelahnya, serahkan kepada alam. Biarkan alam yang bekerja untuk mewujudkan mimpi-mimpi masa kecil itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *