Kita mengenal Pandji Pragiwaksono sebagai komika yang gemar membahas politik dalam pertunjukan stand up comedy-nya. Tidak hanya dalam materi stand up, Pandji bahkan pernah terjun langsung ke dunia politik praktis. Tercatat pertama kali Pandji terjun langsung ke lapangan politik praktis adalah ketika masuk menjadi tim pemenangan Faisal Basri pas Pilkada Jakarta 2012. Hingga mencapai posisi tertingginya pada saat menjadi jubir Anies Baswedan pada perhelatan Pilkada Jakarta 2017.

Semua perjalanan dan momen-momen politik itu Pandji tuangkan ke dalam buku Septictank ini. Pandji mengeluarkan semua uneg-unegnya tentang politik di buku ini. Mulai dari awal mula perkenalannya dengan politik, keresahan, pemikirian, pengalamannya terjun ke dunia politik praktis, sampai belik ke titik nol kembali. Mulai dari warga sipil, menjadi pemain politik, dan balik menjadi warga sipil lagi. Semuanya dia tuangkan ke dalam buku ini.

Buku Septictank bisa menjadi semacam manifesto politiknya Pandji. Melalui buku ini kita bisa melihat Pandji dalam bingkai politik. Bisa saya katakan kalau Pandji termasuk orang yang idealis dengan pemikirannya. Idealismenya itu pula yang membuat Pandji tidak bisa berlama-lama dengan bergumul di dunia politik praktis.

Pandji memasuki dunia politik praktis dengan berbekal idealismenya itu. Bagi Pandji, kesucian cita-cita harus juga diraih dengan cara-cara benar dan etis. Tidak dengan jalan asal sapu rata. Pandji memahami bahwa menjadi pelaku politik beda ketimbang hanya menjadi pengamat. Menjadi pengamat akan bebas saja mengomentari segala macam kebijakan pejabat dan tindak-tanduk aktor politik. Namun akan beda ceritanya dengan pelaku politik yang mengalaminya langsung. Pandji menemukan fakta bahwa untuk mengambil keputusan dalam dunia politik tidak semudah yang dibayangkan. Realitanua, dalam mengambil suatu keputusan publik, seorang politisi tidak cukup dengan mempertimbangkan hal-hal teknis semata. Namun ada juga sisi non teknis yang kadangkala menuntut seorang politisi untuk melakukan kompromi dengan berbagai kekuatan politik yang ada di sekitarnya.

Kompromi dan keluwesan bisa jadi adalah salah satu skill dasar yang dibutuhkan untuk menjadi politisi yang andal. Tanpa adanya skill itu sulit seseorang bisa bertahan lama dalam dunia politik. Pandji mengambil contoh seorang Faisal Basri.

Faisal Basri yang kita kenal adalah seorang ekonom handal dengan gagasan dan ide-ide brilian. Dalam suatu kesempatan di depan para pengusaha properti, dengan lantang Pak Faisal menyampaikan jika para pengusaha itu tidak mengikuti aturan main yang ada maka para pengusaha itu tidak punya kesempatan di Jakarta. Tentu ini tidak lazim bagi di dunia politik. Alih-alih mengemis mencari dukungan dan dana. Faisal Basri justru seperti memberi garis batasan yang tegas kepada para pengusaha itu.

Dalam kacamata Pandji Ide dan gagasan itulah yang membuat Pandji tertarik mendukungnya menjadi calon independen pada Pilkada Jakarta 2012 walau sadar peluang menangnya setipis tisu. Disitulah terletak idealisme Pandji. Dia masih tetap mendukung walau tahu yang didukung tidak memiliki peluan untuk menang.

Dalam salah dua babnya Pandji memberikan starter pack demokrasi dan starter pack politik. Ini semacam kompetensi dasar jika kita ingin meningkatkan kualitas politik dan demokrasi di Indonesia.

Buku ini tidak begitu tebal, hanya 194 halaman. Gampang saja memahami tulisan Pandji. Tulisan Pandji khas Stand Up Comedyan, mengalir bagaikan air mengalir. Diksinya sederhana dengan bumbu-bumbu humor yang pas. Sangat mudah memahami tulisannya. Tidak perlu capek menganalisa tulisannya, sebab semudah itulah memahami tulisan Pandji. Buat Anda yang mulai tertarik dengan dunia politik. Ataukah tergelitik dengan fenomena politik yang ada. Membaca buku ini bisa menjadi titik start yang oke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *