Ini adalah buku pertama Gus Mul a.k.a Agus Mulyadi yang saya baca. Sebuah buku komedi ringan yang mengisahkan keseharian penulisnya yang ditulis sejenaka mungkin. Mirip-mirip kayak Kambing Jantannya Raditya Dika lah.
Pertama kali tahu Agus Mulyadi dari ig. Akun ig-nya bernama agusmagelangan. Awalnya saya pikir belio adalah stand up comedy-an. Ternyata bukan. Belio adalah seorang penulis sekaligus blogger. Buku-bukunya sudah banyak. Karena penasaran, akhirnya mari kita beli bukunya. Setelah melakukan riset ringan. Saya memutuskan beli 2 bukunya. “Jomblo Tapi Hafal Pancasila” dan “Bergumul Dengan Gusmul”.
Jomblo Tapi Hafal Pancasila saya beli karena ini adalah buku pertama Agus Mulyadi. Rasanya senang saja menikmati karya pertama seniman dan penulis. Bergumul Dengan Gusmul saya beli karena covernya yang sangat mencolok. Warna pink cerah ditambahkan foto jenaka si penulis dengan kaos oblong putih polos. Hanya karena desain covernya yang terlihat menarik saya pun rela mengeluarkan duit untuk membelinya. Ternyata sepenting itu ya pencitraan.

Awalnya saya pikir buku ini berkisah tentang kisah cinta Agus Mulyadi. Tapi ternyata tidak juga. Memang buku ini dipersembahkan penulis untuk seseorang yang disukainya berinisial NZ–sungguh perempuan malang. Tapi isinya tidak semua berhubungan dengan kisah cinta penulis dengan NZ. Ada memang kisahnya tapi itu bukan menjadi materi utama buku ini. Kebanyakan ya itu tadi kehidupan keseharian. Tentang gerombolan gentho pemabuk yang jenaka. Ada juga kisah tentang keluarganya. Ataupun keresahan-keresahan penulis tentang isu sehari-hari. Semua dikemas dengan sangat lucu dan jenaka.
Salah satu tulisannya adalah kisah tentang bapaknya yang pernah ikut pesugihan waktu Agus masih kecil. Alkisah waktu Agus baru lahir, bapaknya kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan itu menjalar sampaike otaknya. Otaknya juga kesulitan berpikir bagaimana caranya mencari penghasilan untuk keluarganya.
Singkat cerita bapaknya Agus dapat rekomendasi tempat pesugihan dari temannya. Dengan hati mantap, pergilah pak Trimo–bapaknya Agus–ke lokasi pesugihan. Oleh juru kuncinya, pak Trimo cuma disuruh menyelipkan uang sepersepuluh dari jumlah penghasilan di tikar yang menjadi alas tidur selama seminggu sekali. Tidak boleh terlewat. Jika terlewat sekali saja maka tumbalnya adalah peserta pesugihan, alias pak Trimo sendiri. Pak Trimo mikir, “syaratnya sih mudah saja tapi tumbalnya yang bikin ngeri” kurang lebih begitulah gumamnya.
Setelah menimbang dengan matang akhirnya pak Trimo tidak jadi melanjutkan pesugihan. Karena berat di syaratnya itu tadi.
“Ah, pak’e kicil (penakut), mosok gitu aja ndak berani!” ejek Agus
“Kicir ndasmu, lha yang jadi jaminan tumbal ki bapakmu sendiri je, lha kalau yang jadi tumbal anak pertama, mesti bakal langsung tak lakoni!” balas bapaknya Agus. Wkwkwkwk…
Saya jadi mengerti kenapa konten-konten Agus di blog ataupun ig kocaknya minta ampun. Karena memang Agus dikelilingi orang-orang yang juga kocak. Tidak bapaknya, tidak teman-temannya semua kocak. Dengan kehidupan yang serba sulit yang mungkin membuat orang lain menjadi stres. Orang-orang ini justru menjadikan kesulitan hidup itu menjadi suatu guyonan yang lagi membuat stresnya hilang walaupun hanya sesaat. Hahaha…
Buku ini juga mengajarkan kita bahwa guyonan itu ada unsur waktunya. Kembali ke kisah pak Trimo pesugihan. Jika cerita itu diceritakan kepada istrinya sesaat setelah dia pulang pesugihan tentu saja istrinya langsung marah dan jadi takut. Tapi ketika diceritakan sekarang, jauh setelah momennya. Jadinya kan lucu.
Agus memang pandai menangkap unsur lucu dari momen-momen kehidupanya. Sesulit dan sesusha apan hidupnya. Ada saja yang bisa dijadikan humor. Ah, andai saya juga seperti itu.