Bapakku pernah berpesan kepada saya ketika saya masih muda. Kira-kira seusia SMP-SMA lah kalo gak salah. Kurang lebih pesannya begini: “Kalau mau kaya, jangan jadi PNS”. Saya yang saat itu masih remaja kurang begitu paham kenapa Bapak berpesan begitu. Bapak saya sendiri bekerja sebegai PNS.

Bertahun-tahun beliau menjalani perannya sebagai PNS. Tentu beliau paham dan sadar betul apa makna pesannya kepada saya. Saya sendiri tidak begitu tahu bagaimana kiprah bapak saya selama bekerja sebagai PNS. Apakah beliau memiliki citra yang baik atau buruk di mata orang lain? Bagaimana teman-temannya sesama PNS memandang beliau? Bagaimana temannya yang bukan PNS memandang beliau? Gelap. Saya tidak tahu sama sekali. Bapak memang orang yang jarang bercerita tentang kehidupannya. Sampai sekarang pun masih seperti itu. Faktanya keluarga kami hidup sederhana. Tidak ada barang mewah yang pernah kami punyai. Kalau ada yang bisa dikatakan mewah, mungkin hanya PC tabung layar datar yang dibeli waktu saya masih SD. Selebihnya tidak ada sama sekali. Mesin cuci pun kami tidak punya apalagi mobil.

Keluarga kami jelas bukan keluarga kaya. Namun bukan juga keluarga miskin yang untuk urusan makan saja susah nyari duitnya. Kelurga kami adalah keluarga pas-pasan. Tetapi bukan pas mau beli motor ada duitnya. Pas mau bei mobil ada duitnya. Tidak. Bukan begitu. Keluarga kami pas-pasan dalam artian sebenarnya. Yang mana penghasilan Bapak dan Ibu pas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bisa sedikit membeli keinginan. Dan ada disimpan menjadi tabungan. Selain bekerja sebagai PNS, bapak juga menjalankan usaha sampingan. Beliau pernah buka kios majalah kecil-kecilan. Pernah juga jadi agen koran. Cukup lama juga usahanya berjalan sampai akhirnya yang entah apa alasannya harus tutup juga.

Saya kemudian tumbuh menjadi dewasa. Tanggung jawab dan relasi saya bertambah. Dan entah mengapa pekerjaan saya pun banyak terkait dengan mereka-mereka yang berstatus PNS. Dari luar saya bisa melihat kehidupan PNS seperti apa. Dan perlahan-lahan saya bisa memahami kenapa dulu bapak berpesan seperti itu.

Tidak ada celah seorang PNS menjadi kaya jika hanya mengandalkan gaji yang dia dapat dari PNS. Berapa gaji PNS? Bapakku sampai pensiun rasa-rasanya tidak pernah gajinya sampai 2 digit. PNS jika ingin kaya, satu-satu jalannya adalah ajukan pinjaman ke bank. Jadikan duit pinjaman itu menjadi modal usaha. Dengan begitu bisa kaya. Bisa juga duit pinjaman itu dijadikan untuk modal investasi. Namun kalau mau menggandakan uang lewat investasi, waktunya lama. Tidak bisa sebentar.

Sebenarnya ada jalan menjadi kaya juga selain buka usaha: pake dana gratifikasi dari swasta. Tapi ini untung-untungan juga dan kurang berkah. Kalo penempatannya pas lahan kering, duitnya juga tipis. Kalo penempatannya lahan basah, duitnya seger. Di sinilah godaanya menjadi seorang PNS.

Lahan kering bisa diartikan sebagai tempat yang potensi dana gratifikasinya sedikit. Sebaliknya, lahan basah bisa diartikan sebagai tempat yang potensi dana gratifikasinya banyak. Instansi yang lahan kering itu berarti instansi tersebut jarang berkorespondensi dengan pihak swasta. Sebaliknya, lahan basah itu berarti sangat intens berkorespondensi dengan pihak swasta. Sebenarnya tidak ada satupun instansi pemerintah yang tidak berkorespondensi sama sekali dengan pihak swasta. Pasti ada. Misalkan ada pengadaan, pastilah berurusan juga dengan swasta. Di situlah potensi gratifikasinya muncul: berurusan dengan pihak swasta.

Panitia lelang minta sesuatu dari pihak swasta. Atau yang lebih halus. Pihak swasta memberikan sesutau kepada orang dinas setelah pekerjaan selesai. Anggapnya pihak swasta sih terima kasih. Namun di orang dinas tetap saja jatuhnya adalah gratifikasi.

Selain gratifikasi secara langsung. Ada juga kasus konflik kepentingan. Katakan seorang panitia lelang dari pihak dinas mempunyai hubungan keluarga dengan pihak calon vendor. Maka wajar saja kalau panitia lelang tadi menjadi berat sebelah dan menguntungkan saudaranya yang calon vendor itu. Sudah banyak kejadian seperti itu. Kasus seperti ini lebih parah lagi malah. Ini sudah bisa masuk ranah fraud.

Pekerjaan PNS sejatinya adalah pekerjaan pelayanan. Karena PNS adalah bagian dari pemerintah. Dan sudah menjadi tugasnya pemerintah melayani masyarakat. Gratifikasi sudah seharusnya dihilangkan. Karena gratifikasi inilah yang akhirnya merusak mental-mental PNS menjadi mental peminta-minta. Sangat bertolak belakang dengan citra melayani, yang mana justru mengharuskan untuk sering-sering memberi. Dan memberi membutuhkan pengorbanan. Siap kah PNS-PNS itu untuk berkorban? Jika mereka yang masuk PNS tujuannya adalah untuk mencari keamanan. Uang pensiunnya ada, masa depan jelas. Mudah dapat kredit. Minim tekanan di kantor. Maka saya yakin orang-orang seperti ini sulit untuk memahami artinya berkorban.

Menjadi PNS itu berarti membatasi ruang gerakmu. Karena gaji PNS berasal dari uang rakyat maka wajar kalau PNS akan selalu mendapat sorotan masyarakat. Tingkah lakunya, tindak tanduknya, etikanya semua menjadi perhatian. Maka lahirlah aturan yang mengatur tentang kehidupan PNS supaya tidak seenaknya menghabiskan uang rakyat. Beda dengan swasta. Karena tidak ada dana masyarakat yang dipakai di situ maka aturannya tidak begitu ketat.

Jadi kalau anda mau kaya, berhentilah jadi PNS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *