Perdebatan soal apakah pemenang Ballon d’Or adalah pemain terbaik dunia ataukah FIFA Best Player yang permain terbaik dunia sebenarnya sudah tidak perlu ada. Itu karena penentuan pemenang Ballon d’Or ataupun FIFA Best Player sama sama subjektif. Penentuan pemenang keduanya berdasarkan voting yang dilakukan oleh pelatih, kapten, dan media. Apakah pemilik suara menentukan pemenang berdasarkan kaidah objektifitas? Tentu saja tidak.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemilik suara, penentuan pemenang dengan cara voting tentu saja tidak mempunyai sandaran objektifitas. Apa dasarnya pemilik suara menentukan pemenang? Menempatkan satu nama diatas nama yang lain? Adakah ketentuan-ketentuan yang harus diikuti untuk menentukan pemanang selain memilih yang sudah menjadi nominasi? Apakah ada yang mengawasi agar pemilik suara menntukan hak votingnya sesuai dengan SOP yang berlaku? Jawabannya adalah tidak ada–atau mungkin saya yang belum tahu.

Tidak ada aturannya pemilik suara menentukan pemenang yang mereka inginkan. Karena tidak ada aturannya maka tidak salah jika menyebut hasil yang keluar adalah murni subjektifitas pemilik suara. Maka untuk apa memperdebatkan apakah mereka yang menang adalah pemain terbaik dunia. Perdebatan itu sudah batal bahkan sejak sebelum pemungutan suara dilakukan.

Mirip-mirip dengan sistem demokrasi, “one man one vote”. Siapa yang memenangkan vote terbanyak, dialah pemenangnya. Apakah yang terpilih adalah pemain terbaik? Belum tentu juga. Pemain terfavorit mungkin benar. Jadi seharusnya kita menyebut pemenang Ballon d’Or atau FIFA Best Player adalah pemain terfavorit bukan pemain terbaik.

Jika ingin mencari pemain terbaik maka sistem penilaian harus dirubah. Bukan lagi menggunakan sistem voting melainkan menggunakan statistik. Siapa yang statistiknya terbaik maka dialah pemenangnya. Bukan juga menggunakan voting yang mana pemilik suaranya adalah pelatih, kapten, dan jurnalis di seluruh negara–yang pasti tidak memiliki independensi menentukan pilihannya. Melainkan harus ada tim panelis khusus yang melakukan penilaian berdasarkan statistik, kontribusi, dan raihan yang dicapai seorang pemain. Tim panelis itulah yang nantinya memutuskan siapa pemenangnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang sudah disepakati. Cara penilaian seperti ini lebih objektif daripada menggunakan voting.

Selama mengunakan sistem voting dalam menentukan pemenang, pasti akan selalu terjadi perdebatan setelah keluar hasilnya. Ya, memang tidak ada jaminan penilain berdasarkan statistik, kontribusi, dan raihan tidak akan menimbulkan perdebatan. Perdebatan pasti akan selalu ada. Mungkin sudah jadi hobinya manusia berdebat. Tapi setidaknya itu lebih objektif daripada menggunakan sistem voting.

Bukannya tidak ada. Yang paling mendekati adalah penghargaan pemain terbaik dari IFFHS (International Federation of Football History & Statistics). IFFHS adalah sebuah organisasi yang diakui FIFA yang dibentuk dengan tujuan untuk mencatat sejarah dan statistik sepak bola dunia. Penentuan pemenang pemain terbaik dunia versi IFFHS menggunakan statistik. Yah, walaupun ada unsur subjektifnya juga karena ada unsur pemungutan suara. Paling tidak penghargaan inilah yang paling mendekati untuk menentukan pemain terbaik dunia karena menggunakan statistik.

Walau bagaimanapun. Secara gengsi, Ballon d’Or dan FIFA Best Player tetap lebih di atas ketimbang IFFHS. Karena berkaitan juga dengan sejarah. Yang pertama kali memberikan penghargaan pemain terbaik adalah Ballon d’Or malah, bukan FIFA. Awalnya hanya untuk pemain Eropa yang bermain di kompetisi Eropa. Namun sekarang Ballon d’Or diperuntukkan kepada semua pemain dunia yang berkompetisi di mana pun. Walau pemenangnya dominan pemain-pemain yang berkompetisi di Eropa.

Dan FIFA Best Player, sudah pastilah bergengsi. Secara nama FIFA sendiri menempel di penghargaan itu. FIFA adalah satu-satunya federasi sepak bola dunia. Tidak ada lagi federasi sepak bola dunia selain FIFA. Maka jangan ditanya lagi gengsinya FIFA Best Player.

Tapi karena mekanismenya menggunakan voting. Siapa yang menang Ballon d’Or belum tentu menang FIFA Best Player. Karena tergantung moodnya pemilik suara juga kan. Selamat untuk Rodri. Selamat Unti Vini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *