Bulan November telah berakhir. Kini sudah memasuki bulan Desember, bulan terakhir di tahun 2024, bulan yang identik dengan hujan. Lagu Efek Rumah Kaca yang berjudul “Hujan di Bulan Desember” adalah salah satu lagu favoritku. Banyak hal telah terjadi di bulan November. Ada suka duka itu pasti.

Cukup berat perjalanan di bulan November terutama karena cuacanya. Hampir sepanjang November cuacanya panas dan kering. Bahkan angin yang bertiup pun terasa panas tidak sejuk. Temperatur mencapai puncaknya di angka 37oC pada siang hari. Feels like-nya bahkan sampai 41oC. Wuuh lumayan lah aklimatisasi pergi ke tanah suci. Sedangkan suhu terendah hanya main di angka 27oC pada pagi hari.

Dengan suhu sepanas itu, otomatis kipas angin jalan terus. Satu bahkan tidak cukup lagi untuk membendung hawa panas yang menerpa. Dua kipas harus jalan. Dengan level medium. Level low sudah gak ngatasi. Terpaksa naik ke level medium. Hanya karena tidak ingin ketergantungan dengan kipas, atau bisa juga khawatir kipasnya malah jebol dan bayar listrik banyak, kipas tidak disetel ke level high.

Bekerja dan beraktivitas di cuaca panas memang berat. Apalagi rumahku yang menghadap langsung ke timur tanpa ada penghalang pohon apapun. Bukan berarti tidak ada sama sekali. Ada pohon pisang kok. Tapi ya cuman pohon pisang saja. Habis itu los hamparan sawah yang menjadi tempat terbit sinar matahari.

Pagi setelah bangun, badan sudah menguap. Seperti habis keluar sauna. Walapun tidur tidak pake baju (saya laki loh), tetap saja masih sumuk. Jadinya malah masuk angin karena kipas anginnya jalan terus. Tidak jarang malamnya saya terbangun pindah ke kamar depan yang gak ada orang dan menikmati kipas angin sendiri.

Pulang shalat subuh sudah setel kipas angin kencang-kencang. Padahal masih subuh juga. Siang jangan ditanya lagi panasnya kayak gimana. Habis mandi pagi saja, setelah keluar pintu kamar mandi langsung keringetan lagi.

Sepanas itulah bumi. Inilah dampak langsung yang dirasakan akibat pemanasan global dan perubahan iklim: naiknya suhu bumi. Maka penting memilih pemimpin yang betul-betul sadar dan peduli dengan isu lingkungan global. Karena suka tidak suka, di tangan mereka semua lah masa depan bumi dipertaruhkan. Presiden, Perdana Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, bahkan level Kepala Desa sekalipun mempunyai peranan penting untuk menjaga keberlanjutan bumi. Sebeb merekalah yang pembuat kebijakan. Tentu tanpa mengurangi peran pihak-pihak swadaya yang bergerak di isu lingkungan dan pelestarian alam. Maka menjaga bumi harus dimulai dari diri sendiri.

Panasnya bulan November agak berkurang di akhir bulan. Sekitar seminggu atau 2 minggu sebelum November berakhir, hujan mulai menyapa sekai-kali. Masih hujan gerimis. Kadang-kadang deras saat tengah malam. Sayang cuman sebentar. Setelah itu panas kembali menyongsong dengan gagah. Itupun suatu kesyukuran juga sudah mulai hujan. Daripada gak hujan sama sekali. Dan masuk Desember suhu sudah mulai menurun. Sekarang maksimalnya di angka 34oC. Dan pagi bisa sampai 25oC. Lumayan lah.

Lanjut ke isu yang lain. Pekerjaan kantor lumayan padat juga. Tapi padatnya di urusan laporan. Ke lapangan jarang-jarang. Itu berarti ceperan gak begitu banyak. Positifnya tanggungan laporan kembali reset ke nol. Tidak ada utang antara kau dan aku. Gak perlu di kejar-kejar sama atasan lagi. Tapi ya… tetap aja ceperannya kurang.

Padatnya urusan laporan merembet ke web ini. Penyakit lama kambuh lagi. Akhirnya saya fokus mengerjalan laporan dan akhirnya web ini terbengkalai untuk kesekian kalinya. Satu hari satu tulisan akhirnya buyar lagi. Akhirnya kembali ke nol lagi. Padahal cukup banyak isu yang menarik untuk dituliskan sepanjang bulan November. Terutama yang berkaitan dengan Pilkada.

Soal Pilkada juga menyita waktu di akhir November. Sebenarnya tidak begitu menyita juga tapi tetap saja itu menjadi bagian dari tanggung jawab. Paling tidak otaknya ikut mikir.

Butuh 10 saksi untuk 10 TPS di Desa Gelam. Tidak begitu sulit, tinggal manggil orang lama saja. Dan akhirnya terpenuhi tujuh. Tiga sisanya dari orang sendiri. Namun apesnya yang jadi koordinator saksi ternyata dari Tim Pemenangan. Jadi gak bisa ikut ngatur. Lebih apes lagi, si Kordes ini gayanya sudah kayak bos beneran. Padahal ini loh cuman saksi tok. Gak lebih. Cuman nanya hal-hal sepele kok jawabnya malah ngegas. Cuman nanya lokasi TPS saja malah dilempar balik ke saksi suruh nyari tahu sendiri. Eh eh eh. Kalau saksi gak dapat TPS nanti yang repot Kordes juga Pakde. Makanya jadi Kordes jangan galak-galak.

Selesai urusan Pilkada ternyata laporan belum selesai. Lanjut lagi kerja laporan. Dan akhirnya semua laporan selesai tepat di tanggal terakhir bulan November. Menyongsong Desember dengan nol laporan ibarat bayar melunasi utang. Tidak ada tanggungan tidak ada yang kejar-kejar. Namun itu berarti kosong, gak ada kerjaan. Kudu gerilya kembali nyari kerjaan.

Urusan ngaji sebelas dua belas dengan nulis. Ngaji cuman sampai Juz 12 saja. Setengah pun gak nyampe. Haah, payah deh. Memang urusan ini gak selesai-selesai dari dulu. Muara jelas: iman minim. Kena ombak dikit saja tenggelam sudah. Targetnya satu hari satu juz. Itu kurang lebih memakan 40 menit ngaji. Setara dengan 2,7% kehidupan satu hari yang berlangsung selama 1440 menit. Cuman 2,7% saja, tapi susahnya minta ampun. Gak bisa istiqamah.

Solusinya sudah ada sejak dari dulu: “Di mana ada keinginan, di situ ada jalan”. Sebuah quote klasik, namun masih manjur hingga saat ini. Jika memiliki keinginan kuat, secara otomatis otak akan jeli mencari peluang. Dan tambahkan sedikit dedikasi waktu, pasti jadi. Tapi ya begitulah saya. Keinginan gak kuat, dedikasi kurang. Haduuh.

Hanya satu target saja yang tercapai. Yaitu target membaca dua buku satu bulan. Syukurlah ada yang berhasil masio cuman sebiji. Wkwkwkw..

Masuk bulan Desember mari tata kembali semuanya. Mencoba menguatkan diri, semoga diri ini mampu menjalani bulan terkahir di tahun ini dengan gemilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *