Aah, saya pikir novel ini akan semenarik dengan Sang Alkemis–novel pertama Paulo Coelho yang saya baca, ternyata tidak. Lagian buku ini rasa-rasanya tidak tepat disebut novel, dengan segala hormat untuk Mr. Paulo. Menurutku pribadi buku ini lebih tepat disebut sebagai buku kumpulan puisi.

Saya tertarik membeli novel ini karena setting cerita yang berlatar Yerusalem, sebuah kota suci tiga agama samawi. Namun setelah membacanya. Jujur saja saya merasa sedikit kecewa. Kecewa bukan karena bukunya jelek dan buruk. Tidak sama sekali. Buku ini tetap bagus dan menarik, jika dikemas menjadi buku kumpulan puisi dan sajak.

Tepat tanggal 14 Juli 1099 di kota Yerusalem, terjadi pengepungan kota oleh tentara Prancis. Masyarakat Yerusalem sadar bahwa tinggal menunggu waktu saja kota ini takluk di bawah kaki tentara Prancis.

Sore itu masyarakat berkumpul di sebuah lapangan tempat Yesus disalib. Di tengahnya berdiri seseorang bijaksana, orang Yunani. Masyarakat menyebutnya Sang Guru. Di sampingnya berdiri tiga pemuka agama: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Masyarakat yang panik telah berkumpul di lepangan siap mendengar petuah-petuah bijak dari Sang Guru. Mulailah orang-orang bertanya kepada Sang Guru. Semua hal, semua masalah ditanyakan oleh orang-orang. “ajari kami tentang kekalahan, “bicaralah tentang keindahan”, “bicaralah tentang seks”, “aku tak berguna, apa yang harus kulakukan”. Dan menjawablah panjang lebar Sang Guru dengan petuah-petuahnya.

Orang-orang bergantian bertanya. Adegan orang-orang bertanya dan Sang Guru menjawab mengambil hampir keseluruhan isi novel sampai akhir cerita. Dan inilah yang menurutku membosankan untuk sebuah novel. Minim tokoh, praktis tokoh Sang Guru menjadi aktor tunggal dari awal sampai akhir cerita. Awal kisah dibuka dengan tokoh aku, namun pada akhirnya tokoh aku sudah tidak jelas lagi juntrungannya. Hilang gak tau ke mana.

Latar tempat juga cuman satu itu: lapangan kota. Cuman itu saja sampai akhir. Memang ada latar cerita yang mengkisahkan pengepungan kota Yerusalem. Namun mbah Paulo tidak menceritakan itu. Karena memang tidak ingin menceritakannya saja. Mbah Paulo sepertinya ingin membagikan renungannya tentang perdamaian. Dan dia memilih membagikannya dalam bentuk cerita. Namun jadinya tidak pas karena pilihannya adalah novel.

Alur cerita yang begitu-begitu saja sampai akhir, menjadikan novel ini minim konflik. Konflik antar tokoh praktis tidak ada. Karena dialog yang terjadi hanya satu arah. Penduduk bergantian bertanya dan Sang Guru yang menjawab.

Buku ini buruk untuk sebuah novel, tapi apakah buku ini buruk secara keseluruhan? Tentu saja tidak. Seperti yang saya sampaikan di awal. Buku ini sepertinya akan menarik jika dijadikan buku kumpulan puisi atau sebuah catatan kontemplasi penulisnya.

Jika menjadi buku kumpulan puisi maka banyak sekali kutipan-kutipan yang bisa dijadikan kutipan motivasi untuk mejeng di status WA atau caption IG. Kalau jadi buku kontemplasi maka ini adalah buku ini cocok untuk dibaca oleh pemimpin-pemimpin dunia yang hobi perang. Tidak salah PBB memilih Paulo Coelho membawakan pesan perdamaian pada tahun 2007. Pesannya begitu mendalam hasil dari perenungan yang sungguh-sungguh.

“Kau akan dicintai dan dihormati hanya kalau kau mencintai dan menghormati dirimu sendiri. Jangan pernah mencoba menyenangkan hati setiap orang; kalau itu kau lakukan tak seorang pun akan menghormatimu.” 

Nasihat-nasihatnya sepenuhnya adalah pertanyaan kegalauan kita sehari-hari. Jika kamu lagi kering kerontang, jiwamu lagi kosong mungkin buku ini cocok menemanimu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *