Ada hubungan sentimental antara koran dan saya. Hubungan yang terjalin lama. Bahkan saya sendiri tidak tahu kapan hubungan itu bermula. Bisa dibilang saya bersekolah juga sebagian dari uang koran. Selain PNS, bapak saya juga sempat menjadi agen koran untuk menghidupi keluarganya dengan satu istri dan tiga orang anak. Kedekatannya dengan media bahkan sempat membawanya menjadi seorang wartawan. Saya tidak tahu pasti sepak terjang bapak saya di bidang media seperti apa. Tampaknya sih biasa-biasa saja, sepertinya tidak ada sesuatu yang spesial.

Namun bagiku waktu kecil menjadi wartawan sangatlah menarik. Saya teringat dengan satu momen. Ketika itu ada kompetisi tarkam yang diselenggarakan di ibu kota kabupaten. Lumayan elit lah waktu itu. Sebab pesertanya Gaspa Palopo dan Gaslut Luwu Utara, dua tim utama yang bermarkas di Kabupaten Luwu Utara dan Kota Palopo.

Saya ingin menonton namun tidak punya tiket. Tapi bapak tetap mengajak saya pergi ke lapangan. Dan akhirnya saya dan bapak bisa masuk berbekal kartu pers punya bapak. Itu hanya salah satu cerita. Ada juga cerita lain yang bagiku sangat keren waktu itu. Jika bapak kena tilang polisi di jalan, polisinya pasti tidak berani ngapain-ngapain bapak, walau cuma minta uang rokok. Tanya kenapa? Karena bapak punya kartu pers. Waah.. Keren banget jadi wartawan gumamku waktu itu. Setelah dewasa baru saya merasa kesaktian semacam ini hanyalah semacam trik konyol wartawan.

Saya tidak tahu kapan tepatnya bapak menjadi agen majalah dan koran. Itulah usaha sambilan bapak sambil menjalani profesi PNS. Dari sinilah perkenalan pertama saya dengan dunia media. Bobo, Femina, Kartini, Kompas, Fajar, Ujung Pandang Ekspres, Tribun Timur, majalah TTS, dll. Nama-nama itu sudah akrab dengan saya sejak saya kecil. Bahkan saya sendiri pernah jadi loper koran waktu SMP-SMA. Lantas berhenti karena fokus UN waktu SMA.

Menjadi loper koran adalah salah satu masa-masa masa indah yang pernah kulalui waktu masih remaja. Karena saya bisa memiliki penghasilan bulanan–di luar uang jajan sekolah–ketika teman-teman saya yang lain belum memilikinya. Jadi saya tidak perlu khawatir uang pulsa dan beberapa kebutuhan kecil bisa saya beli sendiri tanpa minta uang jajan tambahan dari orang tua.

Menjadi loper koran adalah salah satu cara orang tua saya mendidik saya. Menjadi loper koran membuat saya sedikit mengerti arti kata bekerja. Membuat saya lebih menghargai hasil jerih payah dari pekerjaan yang saya lakukan. Hasil dari menjalani profesi loper koran juga bisa membuat bangga di masa itu. Dengan hasil itu saya bisa membeli HP dengan uang tabungan sendiri. Sesuatu yang cukup langka ketika banyak anak-anak masih merengek minta dibelikan HP sama orang tuanya.

Menjadi loper koran juga membuat saya menyenangi dunia media. Berawal dari kekaguman saya terhadap bapak saya yang wartawan. Kini saya juga mengidolakan beberapa orang yang bekerja di industri media. Dandhy Laksono, Farid Gaban, Najwa Shihab, dll. Sejujurnya ada semacam obsesi dalam diri saya menjadi wartawan. Namun tidak mudah menjadi wartawan.

Profesi jurnalis membutuhkan kebernanian, ketelitian tinggi, dan dedikasi. Keberanian untuk mengungkap fakta-fakta pahit. Ketelitian dalam melakukan riset dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dan dedikasi terhadap profesi yang tidak jarang menuntut waktu lebih, tenaga besar, dan gaji yang tidak seberapa. Tidak jarang nyawa menjadi taruhan. Jujur saya bukan orang seberani seperti Dandhy Laksono. Makanya saya tidak menjadi wartawan. Saya hanyalah orang penakut yang takut dengan gaji kecil dan ancaman-ancaman itu. Maafkan saya.

Saya hanyalah salah satu orang yang mencintai profesi ini. Bisa jadi inilah yang mendorong saya membuat website ini. Saya sedikit-sedikit ingin menjadi wartawan. Menjadi juru tulis. Menuangkan isi hati dan pikiran di web ini. Berharap suatu hari nanti–yang entah kapan hari itu datang–beberapa tulisan di web ini bisa melanglang ke penjuru dunia menemukan pembacanya sendiri.

Kata orang bijak, “segala sesuatu pasti ada penyebabnya”. Mungkinkah web ini ada karena obsesi saya pada dunia wartawan? Tidak juga. Ketika membuat web ini dulu, yang terpikirkan: “keren ya kalau bisa punya web sendiri dan nulis ngalor ngidul,”. Sesederhana itu saja ketika dulu web ini dibuat. Tidak ada sama sekali karena saya obsesi pada dunia jurnalistik.

Seperti itulah hubungan saya dengan koran. Hubungan yang telah terjalin lama selama bertahun-tahun. Hubungan itu telah melanglangbuana ke mana-mana. Dulu yang hanya tertarik baca koran bagian olahraga. Usia bertambah dan status berubah. Berita ekonomi, politik, daerah, olahrag, cerpen, hampir semuanya dilahap. Dulu hanya penikmat berita, sekarang coba-coba nulis. Kali aja besok-besok tulisan saya bisa ada yang kecantol entah di manalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *