Ternyata hari ini adalah hari ayah. Pas juga momennya untuk menulis tulisan ini. Saya menyebutnya bapak, bukan ayah. Sama saja sebenarnya.

Kita tidak akan pernah bisa merasakan apa yang orang lain rasakan terkecuali sudah mengalaminya sendiri. Paling tidak kita hanya bisa mendekatinya lewat empati. Namun bagaimana perasaan sesungguhnya hanya bisa dirasakan apabila sudah pernah mengalami.

Begitulah yang kurasakan sekarang menjalani peran bapak. Ternyata begini ya rasanya menjadi bapak. Suatu peran yang tidak mudah dimainkan.

Waktu masih anak-anak tidak pernah terpikirkan bagaimana beban dan tanggung jawab yang dipikul oleh bapak. Taunya hanya bermain saja, minta uang, dan pergi nongkrong bersama teman-teman. Pulang menjelang hari berganti. Waktu bergulir, lakon berganti. Kini saya yang menjadi bapak. Punya satu istri cantik dan satu anak lucu.

Tidak mudah menjadi bapak. Bapak adalah kepala rumah tangga. Baik buruknya rumah tangga adalah tanggung jawab bapak. Bukankah dia kepala rumah tangga. Di kepala ada otak. Dan otak adalah sumber segala sesuatu. Otak yang memerintahkan kaki berjalan. Otak yang memerintahkan mata melihat. Otak yang memerintahkan mulut berbicara. Semua pusat kendali ada di otak. Jika otaknya ada masalah maka semua ikut beramasalah. Jika otaknya cerdas maka semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Tindak tanduk semua anggota keluarga juga adalah tanggung jawab bapak. Anak berbuat salah, bapaknya harus tangung jawab. Istri berulah di lingkungan, suami juga harus diseret.

Menjadi bapak berarti menafkahi. Memenuhi kebutuhan semua anggota keluarga, istri dan anak. Makan, pakaian, dan tempat tinggal. Tidak harus makanan mahal yang penting bergizi. Tidak harus pakaian branded yang penting layak dan nyaman. Rumah tidak harus langsung beli, rumah kontrakan pun tidak mengapa. Jika sudah memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga, maka tengoklah keinginannya. Wujudkan keinginan-keinginan kecil istri dan anak. Belikan perhiasan. HP perlu diganti. Belikan anak mainan. Ajak berwisata keluarga.

Menjadi bapak berarti mendidik. Memberikan pendidikan terbaik kepada anak dan istri. Carikan sekolah yang bagus. Bagus bukan berarti mahal karena bagus bisa jadi relatif juga. Tergantung nilai dan tradisi yang dianut tiap keluarga. Pendidikan bukan cuman anak saja, juga kepada istri. Jika ibu adalah madrasah pertama anak, maka bapak adalah kepala sekolahnya. Tugas kepala sekolah memastikan tiap gurunya adalah guru terbaik. Karena hanya guru terbaik yang bisa melahirkan siswa cemerlang.

Menjadi bapak berarti keteladanan. Keteladanan dalam segala hal. Dan inilah yang paling sulit. Kita tahu bahwa kita juga banyak kurangnya. Bagaimana caranya menjadi teladan dengan cacat yang sedemikian banyak. Sulit sekali pastinya. Namun mungkin inilah momentum yang dikirim Sang Kuasa, sebuah petunjuk menuju arah perbaikan. Meninggalkan kegelapan menuju cahaya.

Menjadi bapak berarti waktu. Memberikan waktu yang berkualitas bukan hanya kuantitas. Apalah artinya kuantitas tanpa kualitas. Orangnya ada di depan mata namun jiwanya melayang ke mana-mana.

Begitulah suka duka menjadi bapak. Berat pasti. Namun yakinlah semakin berat bebanmu maka semakin berat juga kenikmatan yang kau dapatkan setelahnya. Seperti angkat beban. Semakin berat beban yang kau angkat semakin cepat ototmu terbentuk. Kenikmatan paling tinggi ketika semua usaha-usaha yang dilakukan berbuah senyum dari istri dan anak. Senyum lepas penuh cinta kasih sayang. Memang cuman senyum. Namun senyum itulah obat lelah fisik dan kepayan hati bapak-bapak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *