Jika kalian menganggap penganut paham komunis itu pasti ateis, maka kalian salah 100%. Faktanya Partai Komunis Indonesia alias PKI dilahirkan oleh orang-orang Islam, yaitu Sarekat Islam Semarang. Paham komunis memang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Komunis adalah salah satu paham kenegaraan atau bisa juga kita sebut paham ekonomi–hampir samalah keduanya itu. Tidak ada satupun ideologi negara yang mengharuskan masyarakatnya harus beragama tertentu kecuali ateisme. Lagian ateisme bukan idealisme negara kan.

Saya baru saja menyelesaikan sebuah buku tipis karangan Soe Hok Gie yang berjudul Di Bawah Lentera Merah. Kenal Soe Hok Gie kan? Payah ah kalo gak kenal. Kenalan dulu sana. Buku ini tipis. Hanya 110 halaman. Namun informasi yang dirangkum cukup padat. Namun sayang buku yang saya beli buku bajakan. Untuk yang ini jangan sampai ditiru ya. Biasakan lah membeli buku asli. Kalau buku asli harganya mahal, coba cari buku bekas. Harganya bisa lebih murah.

Di Bawah Lentera Merah merangkum periode sejarah yang cukup singkat namun menjadi masa krusial bagi salah satu pergerakan sosialis dalam sejarah bangsa Indonesia. Mulai dari tahun 2017-1920 tahun lahirnya PKI. Buku ini menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana proses lahirnya PKI. Kondisi-kondisi sosial yang mempengaruhi, peristiwa, tokoh, dan pergolakannya sampai akhirnya lahirlah PKI.

Titik mulanya pada 6 Mei 1917. Terjadi perubahan kekuasaan di tubuh SI Semarang. Semaoen menggantikan Mohammad Joesoef menjadi Presiden SI Semarang. Perubahan tampuk kekuasaan ini juga menandakan perubahan jalan perjuangan menjadi lebih radikal.

Proses radikalisasi SI Semarang tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi yang terjadi pada saat itu di tahun 1917 di mana konflik agraria marak terjadi. Tanam Paksa kita menyebutnya. Ditambah dengan struktur sosial masyarakat Jawa saat itu makin mempersulit kehidupan golongan buruh dan tani. Gula sebagai komoditi saat itu lagi viral-viralnya. Kondisi ini membuat modal asing berbondong-bondong masuk ke Hindia Belanda saat itu. Walaupun pengusaha-pengusaha perkebunan tidak dapat memiliki tanah, mereka dapat dan berhak menyewanya dari pemerintah atau “bumiputera” (hal. 11). Nahasnya uang sewa itu ternyata hanya dinikmati oleh para lurah. Belum lagi upeti dan fee marketing yang diberikan pengusaha kepada lurah. Alhasil lurah-lurah kala itu tidak lain hanya menjadi kaki tangan pengusaha. Melihat kondisi hari ini rasa-rasanya tidak ada bedanya dengan tahun 1900an awal.

Akhirnya banyak persawahan yang beralih menjadi perkebunan tebu. Produksi gula meningkat dan produksi beras menurun. Tambahkan dengan meningkatnya populasi masyarakat Jawa pada saat itu, maka harga beras naik pesat diluar daya beli masyarakat.

Peristiwa tanam paksa ini juga merubah struktur kehidupan masyarakat Jawa saat ini. Ketika area persawahan masih melimpah, kebanyakan masyarakat berprofesi sebagai petani. Setelah sawah berubah menjadi perkebunan, otomatis masyarakat yang tidak memiliki lahan harus menjadi kuli-kuli perkebunan atau kalau tidak lari ke kota untuk mencari pekerjaan.

Selain soal tanam paksa tentu saja perkenalan Semaoen dengan paham sosialis yang dibawa Sneevliet. Sneevliet lah yang membawa paham komunis ke Indonesia. Sneevliet adalah pentolan ISDV sebuah organisasi pergerakan sosialis yang didirikan oleh orang Belanda. Mula-mulanya ISDV diisi oleh orang Belanda saja, namun perlahan orang Indonesia pun juga masuk.

Perubahan SI Semarang menjadi semakin sosialis bukannya tanpa rintangan, terutama dari Centraal Sarekat Islam (CSI). Dan tokoh utamanya adalah Agoes Salim. Di tiap kongres tahunan yang diadakan CSI, Agoes Salim selalu menjadi penentang serius ide-ide Semaoen yang ingin membawa SI merapat ke ke kiri. Buku ini mengambarkan dengan detail secara garis besar dan kronologis peristiwa-peristiwa itu.

Takdir tidak dapat di tolak. Hanya persoalan waktu SI Semarang menjadi PKI pada tanggal 23 Mei 1920.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *