Sejauh-jauhnya perjalanan ke Timur masih dekat Timur. Sedekat-dekatnya perjalanan ke Barat masih jauh Barat. Setidaknya itu yang kurasakan sebagai orang Timur.

Urusan kantor mengharuskanku melakukan perjalanan ke banyak daerah di Indonesia. Perjalanan barat ke daerah Jawa dan Sumatera dan perjalanan timur ke Sulawesi, Maluku, Papua. Antara perjalanan ke barat dan timur. Timur selalu spesial. Ada kedekatan emosional jika melakukan perjalanan ke timur.

Sebagian besar hidupku memang dihabiskan di timur Indonesia. Mulai dari lahir, sekolah sampai perguruan tinggi semuanya di timur. Saya baru bergeser ke barat setelah selesai kuliah. Itu pun juga tidak barat-barat amat, masih ada timurnya juga, Jawa Timur. Walau begitu orang timur selalu menganggap Tanah Jawa adalah barat.

Perjalanan ke Timur vibe-nya seperti pulang kampung. Apalagi jika transit di Makassar. Lima tahun saya habiskan di Makassar. Masa dewasa awalku adalah Makassar. Melihat orang-orangnya, menghirup udara, menginjakkan kaki di tanah Makassar memang beda. Seperti ada kerinduan yang memupuk dalam dada. Ingin singgah sejenak di rumah ataukah sekedar berkeliling di kotanya yang macetnya makin hari makin gila. Namun apa daya waktu jua membatasi. Aah.. lagi-lagi salahnya waktu.

Kedekatan memang bukan persoalan jarak dan geografi. Ada yang namanya kedekatan emosional. Bahkan gaya dan energi kedekatan emosional bisa jadi lebih kuat dibanding kedekatan jarak. Hukum Gravitasi Newton tidak berlaku.

Kedekatan emosional membuat kita bisa terkoneksi dengan berbagai macam hal. Walaupun sudah delapan tahun tinggal di Tanah Jawa, saya pun tetap memantau juga perkembangan di Sulawesi sana, khususnya Makassar dan Masamba.

Di era sosial media kedekatan membuat kita lebih mudah lagi terkoneksi. Kecanggihan zaman membuat semuanya menjadi dekat. Mudah saja video call dengan teman yang tersebar di seluruh penjuru mata angin. Semudah membalik telapak tangan–asal sinyal aman saja sih.

Menjadi ironis juga ketika teknologi yang membuat kedekatan emosional semakin jauh manakala fisik berdekatan. Jauh-jauh datang dan menyempatkan waktu untuk ngumpul. Eeh, giliran kumpul semua malah pada sibuk dengan yang jauh. Sibuk dengan gawainya masing-masing.

Kembali ke Timur dan Barat. Perasaan emosional itu pun juga terasa dalam scope kecil. Perjalanan ke timur Jawa Timur lebih dekat daripada perjalanan ke barat. Mungkin beda rasanya dibanding perjalan ke luar pulau. Namun ada perasaan kedekatan yang hampir-hampir mirip jika melakukan perjalanan ke timur Jawa Timur.

Perjalanan ke Gresik dan ke Pasuruan beda feelnya. Ke Banyuwangi dan ke Ngawi juga beda rasanya. Perjalanan ke Timur seperti perjalanan menuju ke rumah. Dan perjalanan ke barat entah kenapa agak sedikit asing rasanya. Seperti saya melakukan perjalanan bertamu ke rumah seseorang. Semuanya serba asing. Vibe dan budayanya terasa asing. Padahal sama-sama Jawa aslinya. Memang ada sedikit beda Jawanya. Timurnya Jawa Timur adalah Jawa Pandalungan, percampuran Jawa dan Madura. Baratnya Jawa Timur adalah Jawa Halus. Lekat dengan budaya Krama Inggil. Sesuatu yang memang asing bagi saya. Arek suroboyoan lebih sering pake ngoko sih.

Tetap saja keduanya asing bagiku. Memang saya ada darah Jawa. Tapi 22 tahun hidupku dihabiskan di Sulawesi. Apa karena Pasuruan dan Banyuwangi adanya di timur. Semakin ke timur semakin dekat rumahku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *