Stand up comedy adalah bentuk komedi baru yang lagi digandrungi oleh banyak orang hari ini. Terutama oleh generasi muda, generasi milenial dan generasi Z. Dan tentu pemainnya otomatis menjadi idola. Kita mengenalnya dengan sebutan comika.

Sebenarnya tidak baru-baru amat. Seingatku pertama kali saya menonton acara stand up comedy waktu SMA sekitar tahun 2010-2011 di Metro TV. Bisa dibilang tahun itu merupakan tahun-tahun awal lahirnya stand up comedy di Indonesia. Stand Up Comedy Indonesia alias SUCI pertama kali diselenggarakan pada tahun 2011. Hingga hari ini SUCI telah mencapai season 10. Dan sekarang sedang mengadakan audisi untuk season 11. Selain SUCI, ada juga SUCA, saudaranya. SUCA adalah singkatan dari Stand Up Comedy Academy. SUCI diadakan oleh Kompas TV dan SUCA diadakan oleh Indosiar.

Kedua kompetisi ini talah melahirkan banyak komika-komika yang namanya namanya sudah banyak dikenal masyarakat dan perlahan menjadi idola masyarakat juga. Masyarakat yang dulu kebanyakan mengidolakan artis-artis, penyanyi, dan pemain band. Kini mereka punya referensi baru, mereka kini punya alternatif idola pada komika.

Ada perbedaan yang sangat kontras antara komika dengan artis, penyanyi, dan pemain band. Ada jarak yang sangat jauh antara pengidola dengan artis dan musisi sebagai idola. Disebabkan karena kehidupan galmor yang kerap ditunjukkan oleh artis. Dekat dengan dunia hitam, narkoba dan seks bebas. Kehidupan kawin-cerai sebagai hal yang biasa. Beberapa artis juga lahir memiliki previlage karena lahir dari orang tua artis.

Sedangkan kehidupan komika adalah kehidupan kita kebanyakan. Lahir dari keluarga biasa. Bekerja sebagai karyawan rendahan sebelum menjadi idola. Merintis karir dari bawah. Berjuang sekuat tenaga untuk meraih kesuksesan. Tidak ada jalan instan. Dan akhirnya stand up comedy merubah nasib mereka.

Kehidupan komika sangat relate dengan kehidupan pengidola. Cek saja akun ig mereka. Konten-kontennya sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Membuat pengidola merasa sangat dekat dengan idolanya. Beda dengan artis-artis yang isi ig-nya jalan-jalan dan endorse produk-produk gede. Isi ig anak-anak komika kebanyaan endorse produk-produk kecil. Bahkan tidak jarang juga endorse produk UMKM.

Latar belakang komika juga sangat Indonesia sekali. Berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ibunya Apos jadi TKW di Arab. Arif Brat pernah jadi karyawan di toko Ace Hardware. Ada beberapa juga yang punya latar keluarga yang cukup mapan. Semisal Praz Teguh yang ayahnya adalah rektor. Namun apa yang ditampilkannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat itulah yang membuat para komika menjadi lebih dekat.

Selain soal konten yang ditampilkan relate. Yang paling utama yang membuat relate sebenarnya ada di materi komedi mereka.

Stand up comedy sebenarnya bukan pertunjukan komedi favoritku. Stand up comedy itu kan tipe komedi monolog. Ngomong sendiri di atas panggung untuk membuat orang tertawa. Saya lebih menyenangi tipe komedi yang dialog. Dialog antara kedua lakon lebih cocok denganku. Namun bukan berarti saya tidak menikmati acara stand up comedy. Saya juga bisa kok menikmatinya walaupun bukan tipe komedi favoritku.

Selain menjadi idola para komika juga belakangan menjadi aktivis. Itu bisa dibaca dari materi stand up-nya. Komika memang biasa membawakan kritik sosial dalam materi stand up-nya. Materi-materi komika adalah hal-hal yang lahir dari keresahan. Keresahan itu kemudian di modifikasi. Di-delivery sedemikian apik dan pecah menjadi komedi.

Hal biasa membawakan materi tepi jurang di stand up. Bahkan itu yang membuatnya seru. Komika mampu menyuarakan kritik dengan sangat elegan. Kritik yang menyindir keras membuat tersenyum kecut para penikmatnya. Namun yang dikritik jadi panas dalam. Para komika mampu membawa keresahan masyarakat di ruang-ruang publik dan ditonton banyak orang. Apalagi di era sosial media membuat segela-galanya lebih mudah tersebar.

Momen demo kawal putusan MK lalu menjadi panggung menjelmanya komika menjadi aktivis. Berbondong-bondong komika turun demo ke lapangan menjadi aktivis. Tambah jadi idola deh mereka-mereka. Ternyata tidak hanya pandai melawak. Komika pun juga pandai berorasi. Jika aktivis membawa isu ke arah yang lebih serius dan teknis. Para komika menerjemahkan kerjaan aktivis menjadi lebih funny namun tetap menusuk. Sudah mengambil peran artis kini mau geser peran aktivis juga. Wah..wah..

Begitulah komika. Mereka membawa komedi menjadi lebih bermakna. Mereka membuat kita mikir dan juga merenung dengan materinya. Tidak hanya ketawa saja. Daftar audisi SUCI gak ya. Eeh..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *