Sains dan agama memang ada perbedaan mendasar dan sangat kontras diantara keduanya. Sains mengharuskan pembuktian dalil berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Sedangkan agama bergerak dalam alam dogma. Sekuat apapun usaha sains membuktikan fakta-fakta dalam kitab suci dengan proses ilmiah yang benar, tetap saja agama adalah dogma. Eksplorasi sains bertujuan untuk memuaskan akal pikir manusia. Sedangkan agama berkaitan dengan keyakinan manusia. Dan keyakinan letaknya di hati. Jika sains letaknya di otak, agama letaknya di hati.
Sempat viral beberapa waktu lalu diskusi terbuka antara Ustad Muhammad Nuruddin VS Guru Gembul dengan judul diskusi “Bisakah Kesahihan Akidah Islam Dibuktikan Secara Ilmiah?”. Saya pribadi menyambut baik diskusi-diskusi seperti ini. Diskusi seperti ini memang harus sering-sering diselenggarakan untuk meningkatkan gairah masyarakat pada ilmu pengetahuan. Bangsa ini mau maju kan? Bangsa yang maju tentu masyarakatnya juga harus maju. Dan hanya satu jalan untuk membuat masyarakat maju melalui ilmu pengetahua. Tidak ada jalan pintas.
Kemajuan peradaban zaman dahulu ditandai dengan bergairahnya ilmu pengetahuan di tengah kehidupan masyarakat. Zaman keemasan Yunani, periode Islam, sampai kemajuan barat saat ini, semuanya diraih dengan ilmu pengetahuan. Siapa yang menguasai ilmu pengetahuan majulah bangsanya.
Sejujurnya saya tidak menonton secara penuh diskusi antara keduanya. Namun sepertinya Guru Gembul memilih lawan yang salah. Nama Ustad Nuruddin baru saja saya dengar setelah diskusi kemarin. Masih muda. Usianya bahkan belum 30 tahun. Namun isi kepalanya ternyata brlilian. Riwayat pendidikannya pun bukan main-main. Lulusan Universitas Al Azhar, Mesir, jurusan Akidah-Filsafat. Ya, terang saja Guru Gembul keok. Judul diskusi ternyata linier dengan apa yang digeluti selama bertahun-tahun kuliah.
Walau usia masih muda. Karya-karyanya ternyata sudah sangat banyak untuk seusianya. Saya sendiri usia 31 tahun belum menghasilkan karya apa-apa. Hahaha.. Buku-buku tulisannya kebanyakan seputar keilmuan yang digelutinya, ilmu mantik.
Hasil dari perdebatan Ustad Nuruddin VS Guru Gembul seperti yang sama-sama sudah kita ketahui bersama, Guru Gembul kalah. Kalah telak. Guru Gembul sendiri dengan jantan mengakui kekalahannya. Apapun hasil diskusi itu menurutku sudah tidak penting lagi. Disuguhi tontonan keilmuan seperti itu lebih penting dari hasil diskusinya.
Guru Gembul walaupun sudah dibantai habis-habisan, sepertinya tetap berpegang teguh kepada keyakinannya bahwa akidah Islam tidak bisa dibuktikan secara ilmiah walau penjelasan panjang lebar sudah dipaparkan Ustad Nuruddin. Yah, sepertinya memang agak gak nyambung juga antara argumen Guru Gembul dan Ustad Nuruddin. Guru Gembul minta pembuktian yang berbasis indrawi empiris. Sedangkan penjelasan Ustad Nuruddin sebenarnya logis, namun kurang indrawi saja menurut Guru Gembul. Keduanya mempunyai basis berbeda dalam memahami persoalan diskusi.
Memahami hakikat Allah memang tidak bisa dilakukan dengan panca indra, sebab kemampuan indra itu terbatas. Memahami hakikat Allah hanya bisa dilakukan melalui jalan akal pikiran. Hanya dengan itu kita bisa memahami hakikat Allah, zat yang maha gaib.
Ketuhanan adalah pencarian manusiawi dari seorang manusia. Manusia yang berpikir akan menyadari bahwa ada zat yang maha besar yang mengatur hidup ini sedemikian rupa. Mustahil keteraturan hidup ini berjalan tanpa ada yang mengaturnya. Orang-orang itu kemudian menemukan jawabannya salah satunya dalam agama. Orang ateis menemukan jawabannya dalam penjelasan saintifik.
Orang-orang yang memilih jalan agama dalam pencarian ketuhanannya tidak memerlukan penjelasan sains. Kalaupun ada penjelasan sains itu tidak lebih sebagai pelengkap saja. Karena sekali lagi pencarian ketuhanan sejatinya adalah pergolakan hati bukanlah akal. Penjelasan empiris tidak akan selalu memberikan kepuasan batin. Sebab kepuasan batin tidaklah harus mendapat suplai dari otak. Antara otak dan hati memiliki ruang yang berbeda.