Mencintai Indonesia itu ibarat kau punya saudara kandung yang punya begitu banyak sifat buruk yang kau tidak senangi, residivis berbagai macam kasus, orangnya resek, angel dikandani, omongannya gak dijaga, dan berbagai macam sifat buruk menempel plek di dia-nya. Sebegitu sebalnya kau dengan saudara kandungmu sendiri, rasa-rasanya ingin kau usir saudaramu dari rumahmu sendiri.
Namun layaknya saudara kandung. Sesebal-sebalnya kau dengan saudara kandungmu, tetap saja dia aalah saudara kandungmu. Dalam dirinya mengalir darah yang sama dengan darahmu. Berasal dari rahim yang sama dan berasal dari mani yang sama.
Sesebal-sebalnya dengan saudara kandungmu, kamu sendiri adalah entitas yang sudah kadung melekat dengan saudaramu, tidak bisa dilepaskan. Maka tidak ada jalan kabur dari saudaramu sendiri. Satu-satunya jalan adalah dengan menerimanya lahir batin, menerimanya apa adanya, menerimanya dengan segala kekurangan–dan jika ada kelebihannya. Menerima dengan lapang dada sambil berharap adanya perubahan di masa datang. Sulit memang, namun sekali lagi, apa ada jalan lain selain menerimanya, berdamai dengannya.
Selain berharap, tentu kita bisa menasehatinya. Walau ya, terkadang juga kita sudah putus asa untuk menasehatinya. Toh dianya juga batu talinga.
Seperti sudah tidak ada harapan lagi dengan saudara yang satu itu. Mau diapakan juga tetap saja kelakuannya seperti itu tidak ada perubahan.
Berat punya saudara seperti itu. Entah saya sendiri bisa atau tidak menghadapi saudara yang seperti itu. Tidak terbayangkan deh, jangan sampai.
Namun ternyata pemilik jagat raya menciptakan dunia ini selalu dua sisi secara berdempetan, melekat satu sama lain dan tidak bisa lepas. Walau saudaramu sudah buruk rupa dan perangai seperti itu. Pastilah dia juga punya sifat-sifat baik yang melekat padanya.
Kadang, jika sifa menyenangkannya tiba-tiba keluar, kita juga bisa tersenyum lepas melihatnya. Melupakan sejenak keresekannya yang baru saja dilakukan kemarin. Kita pun juga bisa tertawa lepas dengan banyolan khasnya. Guyonan yang sangat Indonesia banget lah, hanya satu di dunia. Tidak ada duanya.
Begitulah alam ini bekerja. Selalu menawarkan dua sisi kepada manusia. Tidak selamanya kamu bersedih, masa senang akan sudah menunggumu di depan. Tidak selalu hidup itu susah, yang gampang juga ada–tapi kok gampangnya cuman sebentar, hadeeh.
Cinta adalah damai. Mencintai adalah jalan kedamaian. Jika ingin mencinta maka berdamailah. Damai akan melahirkan cinta. Sesederhana itu sebenarnya. Namun seperti kata Johan Cruyff, “Bermain sepakbola itu sederhana. Tapi bermain sederhana dalam sepakbola itu sulit”. Seperti itu pula damai. Sederhana namun sulit menerapkannya.
Damai adalah pekerjaan hati. Jika pekerjaan fisik gampang saja kita berdamai. Gencatan senjata selesai masalah. Namun damai bagaimana?
Bagaimana caranya memaafkan orang yang menyakiti hatimu bolak-balik. Bisa saja kamu memaafkan, namun apakah memaafkan akan menghilangkan luka hatimu? Luka hati akan tetap tergores selamanya walau seribu maaf sudah turun bagaikan hujan dan datang bagaikan badai.
Entah apakah saya sendiri adalah orang yang bisa memafkan atau tidak, saya sendiri pun tidak tahu. Sebab begitulah kadang-kadang kesalahan dan dosa masa lalu seenaknya saja merengsek menerobos ke masa kini ketika damai sudah diikrarkan.
Urusan hati memang jadi serba salah. Mau begini salah, mau begitu salah. Tidak begini salah, tidak begitu salah. Urusan hati adalah urusan privat antara diri sendiri dengan Maha Pencipta. Hanya diri sendiri dan Sng Pencipta yang tahu urusan hati.