Jakarta sebagai ibu kota negara–sekarang sih sudah tidak–tidak bisa dipungkiri kerap dijadikan pencapaian karir tertinggi oleh orang-orang Indonesia. Berbondong-bondong orang datang ke Jakarta untuk mengadukan nasib. Dari desa maupun kota. Mulai dari ibu kota kecamatan, ibu kota kabupaten, sampai orang-orang ibu kota provinsi, semua pada datang ke Jakarta. Sarjana-sarjana sampai orang tidak punya ijazah pun semua datang ke Jakarta. Berharap nasibnya berubah menjadi lebih baik setibanya di Jakarta.
Ada yang berhasil, ada juga yang tidak. Entah seperti apa kita mendefinisikan berhasil itu. Apakah cukup mampu untuk hidup hari ini dikatakan berhasil? Ataukah gaji dua digit yang dikatakan berhasil? Bekerja di perusahaan multinasional ataukah bekerja di pabrik sebagai operator produksi dikatakan berhasil?
Berhasil mungkin memiliki definisi subjektif. Sebab berhasil itu berarti memperoleh hasil. Hasil apa yang diperoleh? Sesuaikah dengan apa yang diinginkan? Semua berdasarkan standar subjektif. Tidak ada yang pasti.
Teringat dulu pernah suatu waktu saya mendapatkan tawaran yang cukup menggiurkan dari Jakarta. Saya sendiri bukan orang yang begitu memimpikan bekerja di Jakarta. Bukan berarti saya tidak mau. Saya pun juga punya keinginan bisa bekerja di salah satu perusahaan multinasional yang bertebaran di Jakarta.
Siapa juga yang tidak tertarik dengan gravitasi Jakarta coba. Ibu kota negara, kota metropolitan, pusat pemberitaan, dekat dengan artis-artis, pusat politik semua berkumpul di sini. Keluar ke rumah ketemu artis. Kalau beruntung, keluar rumah bisa ketemu Presiden lah. Tapi nyatanya keluar ke rumah ketemunya malah macet. Apes deh.
Jakarta memang menggiurkan. Menjadi gubernur di DKI Jakarta–sorry ya kalau masih pakai ibu kota, realitanya memang begitu kan–adalah pencapain yang cukup mentereng bagi politisi. Satu tangga ke atas sudah jadi Presiden deh, kayak Pak Jokowi. Menggiurkan untuk orang gede, juga menggiurkan untuk wong cilik. UMK DKI Jakata: Rp. 5.067.381 berada di urutan ke empat UMK tertinggi di Indonesia. Di bawah Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, dan Kabupaten Bekasi. Itulah kenapa banyak wong cilik yang berbondong-bondong ke Jakarta.
Kembali ke tawaran menggiurkan di awal. Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang kawasan industri menawari saya untuk mengisi posisi lowong yang baru saja ditinggalkan oleh salah seorang karyawannya. Kebetulan saya kenal dengan karyawan yang resign itu. Perusahaan saya pun juga adalah rekanan dengan perusahaan di Jakarta ini.
Pas saya tanyakan kisaran berapa gajinya, katanya sih dua digit. Woow.. Bagiku itu jumlah yang lumayan besar. Sebelumnya memang saya tidak pernah dapat gaji dua digit. Kalau saya masuk ke sini lumayan lah peningkatannya. Peluang emas di depan mata. Kalau ini lewat, tidak tahu deh bisa dapat lagi atau tidak.
Namun ternyata ada keraguan dalam diriku sendiri. Bukan soal pekerjaannya. Justru soal Jakarta-nya yang membuatku ragu. Saya memang tertarik namun saya juga ragu.
Saya cukup percaya diri. Saya yakin bahwa saya bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cukup baik. Backgroundku memenuhi. Baik secara pendidikan formal maupun relasi dari lingkungan sebelumnya.
Yang mengkhawatirkan justru datang dari persoalan non teknis. Tentang kehidupan sosial di Jakarta.
Asal saya dari desa. Kehidupan desa cukup berpengaruh dalam tindak tanduk laku hidupku sehari-hari. Menyenangkan bagiku tinggal di desa. Namun soal pekerjaan dan mencari penghasilan, kota lebih cocok denganku.
Jakarta adalah ibu kota Indonesia, kota metropolitan. Itu dia masalahnya. Buatku Jakarta terlalu metropolitan, terlalu kekotaan. Rasa-rasanya sudah hilang aura kehidupan sosial masyarakat desa di Jakarta.
Sejauh mata memandang hanya tampak gedung-gedung bertingkat, tidak ada sawah. Berteduh hanya bisa di balik bayang gedung dan halte, tidak di bawah pohon rindang.
Kehidupan kota sangat menitikberatkan pada kecepatan. Semua serba cepat. Di Surabaya saja apa-apa harus cepat. Di Jakarta mungkin harus kilat, sudah kayak pesantren saja. Capek mengikuti kecepatan itu tanpa ada jeda.
Belum lagi godaan wanita dan hiburannya. Aduuh minta ampun deh. Di Surabaya yang belum terlalu internasional, hal biasa orang lalu lalang berbusana minim kain. Apalagi di Jakarta. Tiap hari bisa cuci mata tuh. Ada istri saja bisa cuci mata tiap hari, apalagi kalau belum ada istri.
Soal macet juga. Jakarta masuk 10 besar untuk kota termacet dunia. Tinggal dekat kantor di daerah Jaksel, pasti harga kos mahal. Mau tinggal di luar Jakarta ketemunya macet. Pergi sebelum subuh, tiba setelah isya di rumah. Tidak pernah lihat matahari selama di rumah. Bisanya hari sabtu dan ahad tok. Yayaya…
Itu semua membuatku tidak mengambil peluang emas itu. Entah ini keputusan bodoh atau bijak. Melewatkan kesempatan besar yang bisa jadi datang hanya sekali mungkin orang melihatnya sebagai keputusan bodoh. Mungkin juga keputusan ini adalah simbol ketakutan. Ketakutan akan prasangka. Ketakutan akan ketidakpastian. Apa pun itu, keputusan sudah diambil. Dan hari ini saya masih di Surabaya.