Sebrapa penting uang parkir untuk kepentingan masjid? Kenapa harus membayar parkir jika bawa kendaraan ke masjid?
Saya bukan orang yang sepakat dengan biaya parkir masjid? Tidak ada urgensinya biaya parkir diadakan untuk kepentingan masjid apapun namanya, entah mau disebut zakat, infak, dan sedekah sekalipun.
Dengan mewajibkan biaya parkir, pihak masjid berarti sudah bertindak selaku penguasa, layaknya penguasa negara yang mewajibkan rakyatnya membayar pajak–sejak kapan pengurus masjid boleh bertindak layaknya penguasa?
Parkir seharusnya sudah termasuk pelayanan dasar masjid yang tidak pelru dikomersilkan. Masjid lahir dan dirawat menggunakan dana dari masyarakat. Maka tidak elok jika masjid memalak jamaahnya yang datang menggunakan kendaraan beroda harus membayar pajak parkir.
Pajak adalah pemaksaan. Mengapa masjid harus memaksa jamaahnya membayar biaya parkir, padahal masjid sendiri menghidupi dirinya dari uang donatur yang sifatnya sukarela. Sungguh ironis jika masjid memaksa jamaahnya membayar biaya parkir yang tarifnya hanya seribu sampai lima ribu perak sedangkan masjid sendiri bisa berdiri tegak dengan uang jutaan yang datangnya dari sukarela dari donatur.
Pihak masjid sudah mendapat dana besar yang nilainya jutaan bahkan miliaran dari semua donatur–masukkan unit usaha masjid jika ada. Sudah seharusnya masjid memberikan pelayanan yang prima kepada para donaturnya (jamaah), paling tidak dengan menggratiskan biaya parkir.
Tidak semua donatur masjid adalah orang-orang kaya yang tidak memikirkan uang seribu, dua ribu. Kebanyakan donatur masjid adalah orang-orang yang ekonominya biasa-biasa saja, yang begitu berat mengeluarkan uang seribu dari dompetnya. Dengan menggratiskan biaya parkir itu berarti masjid juga turut berkontribusi membantu menguatkan ekonomi umat yang zaman sekarang harga-harga pada naik–mana ppn mau dinaikkan jadi 12% lagi. Masa sih masjid ikut majaki rakyat juga. Cukuplah DPR saja yang berkhianat, masjid gak usah ikutan.
Lagian obrolan soal parkir ini memang lagi hangat di kalangan masyarakat. Ada parkir liar, ada juga parkir mokondo. Tiper-tipe parkir kayak gini yang menyebalkan.
Pas datang tukang parkirnya tidak ada, pas pulang tukang parkirnya tiba-tiba sumprit. Jelas-jelas sudah ada tulisan parkir gratis, eh masih juga malaki parkir.
Kalau tukang parkir mokondo adalah tipe parkir yang gak ada kerjaan, gak bantu-bantu sama sekali namun tetap mintai orang biaya parkir. Haduuh.
Parkir adalah layanan dasar yang harus diberikan masjid secara sukarela. Orang-orang yang datang ke masjid tidak semua jalan kaki, pastilah ada yang naik sepeda, naik motor, atau naik mobil.
Mereka-mereka yang datang ke masjid–entah apa tujuannya–pastilah mendapat keberkahan. Keberkahan dari lantunan ayat dan dzikir yang di lantunkan dari sound system masjid. Apalagi orang-orang yang datang yang memang bertujuan untuk beribadah pastilah tambah berkah langkahnya ke masjid. Dan Allah menggratiskan semua keberkahan itu. Tidak perlu bayar, diberikan secara cuma-cuma tanpa berharap imbalan. Namun mengapa masjid justru memalak biaya parkir? Sungguh ironis.
Allah menggratiskan shalat, namun manusia justru memintai uang orang-orang yang datang ke masjid untuk shalat. Aah manusia memang kejam.
Tuhan maha pemurah. Memang sampai kapanpun manusia tidak akan pernah menjadi maha pemurah seperti tuhan. Namun itu bukan berarti manusia boleh bersikap melawan tuhan dengan menjadi maha pemahal.
Minimal manusia mencoba mengikuti sifat-sifat tuhan walau sekecil apapun. Jikan tuha maha pemaaf, manusi juga harus mencoba memaafkan. Jika tuhan maha kaya, manusia juga harus mencoba menjadi kaya.