Tahun ini perhelatan Pilkada serentak bersemi di seluruh tanah air Indonesia. Perhelatan utamanya adalah Pilkada Gubernur dan Pilkada Bupati/Walikota.

Beragam janji di obral oleh masing-masing calon untuk menarik dukungan msyarakat. Citra dipoles sedemikian rupa agar memperoleh suara. Ujungnya kemenangan yang diharapkan dari semua usaha yang dilakukan. Tidak lain tidak bukan.

Perhelatan selesai, pemenang telah ditunjuk. Pemenang menjalankan program kerjanya sampai lima tahun kedepan. Berikutnya, jika masih bisa berkesempatan, si pemenang akan ikut lagi perhelatan lagi. Jika tidak, ya sudah selesai. Tinggal menjadi kenangan. Entah kenangan baik atau kenangan buruk yang akan dikenang oleh masyarakatnya.

Di Masamba, ibu kota Kabupaten Luwu Utara, terdapat dua ikon yang menggambarkan bahwa kota ini pernah dijadikan “ajang pamer” oleh bupatinya tanpa ada manfaat yang dirasakan oleh masyarakatnya. Dua ikon itu adalah Taman Pintar dan Taman Arjuna. Dua ikon–entah pantaskah disebut ikon–yang lahir dari sifat narsistik rezim tanpa ada perhitungan manfaat dan keberlanjutan buat masyarakat luas.

Taman Pintar merujuk ke pasangan Indah-Thahar, yang memenangi kontestasi Pilkada Luwu Utara 2015. Sedangkan Arjuna adalah akronim Arifin Junaidi, Bupati Luwu Utara tahun 2010-2015.

Taman itu sekarang terbengkalai. Taman Pintar masih sempat dinikmati oleh masyarakat walau minim perawatan dari pemda. Saya pun sempat berkeliling di taman itu waktu mudik beberapa tahun silam.

Sedangkan Taman Arjuna, entah sempat dinikmati atau tidak oleh masyarakat. Sangat terasa jelas bahwa proyek ini hanyalah seperti poroyek narsistis Bupati Arjuna.

Dari lokasinya saja sudah “tidak banget”. Saya tidak paham kenapa taman bisa ditempatkan persis berdampingan dengan pasar tradisional. Saya tidak tahu ide itu datangnya dari mana.

Belum lagi jalan di pasar itu sendiri bisa dikatakan jauh dari kata layak untuk ukuran ibu kota kabupaten. Tahun 2022 saya sempat pulang dan berkeliling di pasar, dan yang saya dapati begitu banyak jalan yang rusak dan berlobang. Syukurnya 2 tahun setelahnya, jalan sudah ada perbaikan. Kini jalannya mulus. Cukup nyaman kalau mau JJS ke taman bersama keluarga.

Namun tetap saja taman itu menyimpan sejuta pertanyaan yang bisa bikin orang geleng-geleng.

Kenapa taman letaknya jauh dari pusat kota? Sebenarnya tidak begitu jauh–jaraknya kira-kira 3-5 km–namun untuk ukuran kota Masamba yang tidak begitu ramai, jarak itu tetap jauh. Kurang terjangkau bagi orang-orang Radda yang jaraknya tidak begitu jauh dari Kota Masamba.

Dan sekali lagi, kenapa taman itu dibangun persis berdampingan dengan pasar? Filosofinya bagaimana?

“kalau pagi pasarnya ramai om. Orang-orang bisa jogging terus kemudian belanja kulineran di pasar,” Jogging apanya kalau jalannya rusak. Soal kuliner juga aneh kalau mau dijadikan alasan. Sebab belum banyak orang jualan kudapan di sekitar pasar. Kalau mau makan ya harus masuk pasar beli makan. Masuk pasar otomatis sepatu kotor, memangnya orangnya mau?

Dari taman itu setidaknya ada satu yang menjadi kritik membangun untuk pemerintah. Jika ingin membangun hal-hal yang bersifat fisik tentu harus ada rencana keberlanjutan. Termasuk soal biaya perawatan dan bagaimana persepsi masyarakat terhadap pembangunan itu.

Memungkinkan atau tidak biaya perawatan di tanggung oleh pemerintah, jika tidak memungkinkan maka hentikanlah pembangunan. Apa gunanya membangun jika tidak bisa merawat, mubazir jadinya. Hanya buang-buang uang saja. Padahal uangnya mungkin bisa digunakan untuk keperluan yang lain.

Terkait persepsi masyarakat, pemerintah juga harus mampu menganalisis dan memprediksi bagaimana persepsi masyarakat terhadap pembangunan itu. Pemerintah harus melakukan survey atau semacam penelitian untuk mengetahuinya. Bukan sekedar keinginan kosong pejabat saja.

Tidak salah pejabat ingin ini ingin itu. Namun jika sudah masuk tataran kebijakan. Keinginan haruslah berpijak pada akal sehat dan logika. Jika hanya menuruti keinginan saja, seperti itulah jadinya: Taman Arjuna. Alih-alih dikenang positif oleh masyarakat, malah sekarang menjadi monumen dosa yang bisa dijadikan potensi olok-olok oleh lawan politik Arjuna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *