Angka bukan hanya soal hitungan. Dalam politik, mereka lebih dari itu. Bahkan angka yang menjadi simbolisme dari pasangkan kontestan dalam pilkada di Bumi Lamaranginang bisa dihalusinasikan dengan berbagai halusinasi yang berbeda beda pula.

Ada yang menghalusinasi angka dengan mengidentikannya dengan nilai-nilai keagamaan dan pluralisme, nilai kesatuan dengan tekad kuat, nilai keseimbangan, bahkan ada yang sempat lupa untuk menghalusinasikan angka kontestasi yang didapatkan.

Sebenarnya, setiap angka menyimpan makna mendalam. Bukan sekedar yang dihalusinasikan dan menjadi simbolisme paslon, melainkan akan memengaruhi jalan cerita dari kontestasi sirkulasi elit politik untuk menyelesaikan persolan pelik yang terjadi di Bumi Lamaranginang.

Angka-angka ini bagian dari potret dan fakta yang terus berkembang tentang fenomena sosial ekonomi yang terjadi yang tercatat rapi dalam setiap lembar catatan statistik hari ini, sebagaimana angka angka yang menjadi nomor urut kontestan diantaranya;

Ke-SATU, kondisi permukaan infrastruktur jalan yang masih berupa tanah sepanjang 381,16 Km menjadikan Bumi Lamaranginang menjadi urutan ke SATU di Provinsi Sulawesi Selatan dengan kondisi permukaaan jalan masih berupa tanah. Sehingga menjadi hambatan dalam kelancaran arus barang dan penumpang dan pada akhirnya berdampak pada perlambatan ekonomi di daerah.

Ke-DUA, jumlah pengangguran di Bumi Lamaranginang menyumbang sebasar DUA persen dari total pengangguran Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah angkatan kerja 169.825 jiwa. Sehingga upaya pembukaan lapangan pekerjaan harus dikerjakan dan menjadi perhatian dalam lima tahun ke depan.

Ke-TIGA, pertumbuhan ekonomi hanya TIGA persen pada tahun ini atau hanya tumbuh sekitar 0,6 Persen dari tahun sebelumnya. Hal ini terbilang sangat rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada lima tahun silam. Potret ini memberikan gambaran bahwa betapa lamahnya daya beli masyarakat di Bumi Lamaranginan hari ini.

Ke-EMPAT, Bumi Lamaranginang urutan ke EMPAT di Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah penduduk miskin terbanyak dengan persentase sebesar 12,66 persen atau sekitar 40,79 ribu penduduk. Dengan kata lain bahwa penduduk di Bumi Lamaranginang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Rp. 1.252.551 atau dibawah Rp. 41.751 perhari. Lebih kecil dibanding rata-rata pendapatan buruh harian lepas.

Sehingga angka-angka diatas sudah semestinya tidak untuk dihalusinasikan. Melainkan angka-angka tersebut menjadi terget yang diupayakan untuk diselesaikan dengan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas dalam lima tahun kedepan.

Penulis: Penggemar Dhurdara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *