Seingatku pertama kali saya baca buku ini pas waktu SMA, sekitar tahun 2009-2010 lah. Dan bagiku mungkin ini adalah buku komedi paling lucu yang pernah kubaca.

Sebenarnya genre buku ini bukan komedi. Penulisnya sendiri bilang kalau ini adalah buku memoar. Namun cara dan teknik penulisannya seperti teknik penulisan buku komedi. Jadi kita masukkan saja buku ini ke kelompok buku komedi ketimbang memoar.

Mungkin terdengar subjektif jika saya katakan bahwa ini adalah buku komedi paling lucu yang pernah saya baca. Pasalnya di luar sana cukup banyak penulis buku komedi selain Arham Kendari.

Apalagi namanya “saja” Arham Kendari. Memang ada yang tahu Kendari itu di mana? Barangkali tidak semua orang tahu Kendari itu di mana.

Ya, Kendari itu letaknya di Papua. Ini kata si penulis sendiri loh. Hahahah.

Ini membuktikan pahwa penulis-penulis daerah pun tidak kalah kualitas dengan penulis-penulis yang berkeliaran di Pulau Jawa.

Perihal buku komedi, cukup banyak penulis-penulis komedi yang cukup dikenal orang banyak. Raditya Dika, Ernest Praksa, Boim Lebon, dan masih banyak nama beken lain lagi di luar sana. Yang saya pun sebenarnya tidak banyak tahu, sebab memang tidak begitu banyak referensi buku komedi yang saya ketahui.

Saya sendiri sempat juga baca Kambing Jantan-nya Raditya Dika pas waktu SMA juga. Persis setelah selesai baca Jakarta Underkompor, saya penasaran baca buku komedi lagi. Akhirnya terbeli lah Kambing Jantan. Tapi setelah kubaca-baca, sensasinya ternyata tidak selucu ketika membaca Jakarta Underkompor. Bukan berarti tidak lucu. Lucu juga. Tapi sensasi lucunya lebih lucu Jakarta Underkompor deh.

Buku ini cukup unik. Walaupun bukunya diterbitkan oleh Gramedia, hampir semua perkerjaannya dilakukan oleh Arham. Mulai dari naskah, sampai layout, desain, dan model sampul, semuanya Arham. Hahaha… emang gokil sih penulisnya.

Dari halaman thanks to saja, sudah kelihatan kalo penulisnya memang lucu parah. Coba saja tengok akun IG dan FB nya. Memang orangnya storyteller banget. Nulisnya kayak air mengalir gitu saja tanpa ada hambatan.

Dimensi bukunya juga ramah di kantong lah. Maksudnya mudah dan enak dibawa kemana-mana soalnya ukurannya tidak begitu besar dan juga tidak begitu tebal.

Isinya pun tidak membosankan. Ada begitu banyak gambar-gambar kocak yang diselipkan si penulis. Tidak mengherankan memang, sebab latar belakang penulis memang seorang jurnalis merangkap kartunis di sebuah media cetak di Kendari (dulu, sekarang sudah tidak).

Yang sedikit agak janggal menurutku adalah gaya bahasanya. Gaya bahasanya Jakarta banget, pake lo-gue-lo-gue. Jika orang Sulawesi yang baca kesannya agak sombong. Kesannya kayak anak kampung sok-sokan pake lo gue.

Bagiku tidak masalah sih. Ya mungkin target pasarnya memang bukan cuman Sulawesi saja, tapi seluruh Indonesia. Siapa orang Indonesia yang tidak tahu logat lo gue-nya Jakarta. Kayaknya hampir semua orang sudah tahu deh. Jakarta kan ibu kota–sekarang sih sudah tidak.

Dan itu juga bisa dipahami kenapa Arham memakai lo gue. Bukan asal pake saja, tapi memang si Arham pernah merantau ke Jakarta, walaupun tidak begitu lama. Cuman 6 bulan sudah kangen kampung, balik lagi deh di Kendari.

Ya sudahlah tidak perlu panjang lebar saya jelaskan. Cus aja sana langsung baca. Seriusan memang selucu itu bukunya. Jika kamu orang Sulawesi wabil khusus Kendari, lawakan buku ini mungkin bisa kamu nikmati sepenuhnya. Jika kamu orang Sulawesi, minimal menambah informasi tentang Kendari lah. Hahaha.

Oke selamat membaca ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *