Aktivis atau orang pergerakan. Tentu sudah tidak asing dengan nama itu.
Mahasiswa aktivis bukanlah mahasiswa biasa. Sebab mereka berkuliah tidak hanya kuliah saja terus pulang–mahasiswa seperti ini biasanya disebut mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang).
Seorang mahasiswa aktivis biasanya aktif di organisasi, biasanya oraganisasi pergerakan semisal HMI, KAMMI, PMII, IMM, dll. Atau ada juga yang aktifnya di organisasi intra kampus seperti Himpunan, BEM, Senat.
Organisasi-organisasi inilah yang dalam sejarah selalu menjadi motor penggerak dalam tiap gerakan-gerakan demonstrasi. Tidak jarang gerakan demonstrasi yang dilakukan bikin takut penguasa. Tidak jarang pula gerakan demonstrasi itu membuat penguasa tiran tumbang.
Mahasiswa aktivis tidak selalu berasal dari organisasi pergerakan ekstra dan intra kampus. Mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam komunitas-komunitas diskusi kecil pun layak disebut mahasiswa aktivis. Dan semua organisasi dan komunitas yang bertujuan sosial dan perbaikan kemasyarakatan pun layak disebut aktivis. Oleh karenanya mahasiswa yang tergabung dalam organisasi itu pun juga layak disebut mahasiswa aktivis.
Kurang lebih seperti itu gambaran ketika menjadi mahasiswa aktivis. Setelah mereka lulus, kira-kira mahasiswa aktivis cocok dengan peran apa di masyarakat?
Profesional
Menjadi profesional di bidang keilmuan adalah pilihan paling realistis. Mahasiswa aktivis yang baik adalah aktivis yang tidak melupakan kuliahnya. Tidak salah menjadi aktivis. Namun mengabaikan kuliah juga tindakan keliru.
Mengabaikan kuliah atau nilai kuliahnya menjadi buruk karena sibuk menjadi aktivis tidak jarang menjadi bumerang bagi seorang aktivis. Ibratnya ngurus diri sendiri saja tidak becus, apalagi mau ngurusi negera. Oleh karenanya seorang aktivis juga harus mampu memperlihatkan kalau aktivis pun juga pandai dalam perkuliahan.
Maka setelah menjadi sarjana, menjalani karir di bidang keilmuannya adalah pilihan yang realistis. Pilihan yang sudah jelas-jelas ada di depan mata.
Dengan menjalani karir di bidang keilmuan tentu dia akan dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah.
Pengusaha
Merintis karir menjadi pengusaha juga bisa dilakukan aktivis. Tidak harus langsung modal besar. Usaha kecil-kecilan pun tak mengapa. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Mulai dari omset kecil seupil akhirnya menjadi omset jutaan bahkan miliaran.
Dengan memiliki usaha sendiri memungkinkan seorang aktivis mengatur model kerjanya sendiri. Bisa membuat dirinya bebas, sesuatu yang menjadi dambaan seorang aktivis.
Dengan menjadi pengusaha memungkinkannya untuk tidak terikat oleh siapapun.
Dengan menjadi pengusaha pula dia bisa mempekerjakan orang-orang. Membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Jika suatu saat usahanya menjadi besar, si aktivis jelas akan menjadi orang terpandang. Menjadikan dia lebih mampu mewujudkan cita-cita aktivisnya di masa muda.
Menjadi orang berduit juga menjadikannya sedikit lebih dekat dengan kekuasaan. Bukankah kekuasaan senang dengan orang-orang berduit kan?
Kuliah Lagi
Ini juga pilihan yang cukup populer diantara para aktivis. Melanjutkan studi, memperdalam ilmu, dan menambah relasi.
Menjadi aktivis memerlukan otak yang senantiasa di-upgrade dengan ilmu dan diisi dengan pengetahuan-pengetahun termutakhir. Sebab aktivis memmang pekerjaan otak.
Tanpa otak yang berisi seorang aktivis tidak ada bedanya dengan orang-orang pada umumnya. Maka penting bagi aktivis untuk selalu mengisi otaknya. Dan melanjutkan studi adalah pilihan yang mantap.
Dengan melanjutkan studi, melihat kampus yang baru di luar negeri juga bisa membuka cakrawala aktivis dalam melihat dunia.
Anggota DPR/DPRD
Mahasiswa aktivis tentu sudah tidak asing dengan kegiatan politik. Apa yang dilakukannya selama menjadi mahasiswa adalah kegiatan politik itu sendiri. Namun belum sampai masuk ke level politik praktis.
Hal yang paling realistis bagi aktivis yang baru keluar dari cangkang kampus dan ingin langsung terjun ke politik praktis, bermain di kekuasaan adalah dengan cara mengikut kontestasi Pemilu melalui jalur legislatif dengan menjadi anggota DPR/DPRD.
Ini adalah jalan yang paling memungkinkan ketimbang bertarung di Pilkada ataupun Pilpres–siapa juga partai yang mau mencalonkan anak muda yang tidak jelas rimbanya. Hahaha..
Bertarung di eksekutif jelas adalah jalan berat dan butuh modal besar. Sedangkan di legislatif cukup bergabung dengan partai, turun sana-sini, aktif di lingkungan masyarakat, punya program jelas, menjadi populer, sudah cukup modal mencalonkan jadi anggota legislatif.
Dengan menjadi legislatif dia juga bisa membawa perubahan atas peran legislatif kita selama ini. Legislatis selama ini hanya menjadi stempel eksekutif–apalagi jika koalisi partai di legislatifnya dominan. Akibatnya fungsi legislatif yang seharusnya mengawasi eksekutif tidak berjalan.
Nah, aktivis-aktivis yang masih muda itu bisa memberi angin perubahan jika dia masuk ke legislatif. Tentunya dengan catatan jika dianya sendiri berani dan punya nyaki melawan arus.
Tenaga Pengajar
Menjadi tenaga pengajar seperti dosen atau guru adalah pekerjaan mulia. Mengajarkan ilmu kepada manusia dan memberinya pengetahuan baru.
Aktivis yang menjadi tenaga pengajar juga bisa menyebarkan semangat dan idelisme aktivisnya kepada generasi muda. Menjadi contoh guru yang baik kepada generasi penerus.
Seorang dosen selain mengajarkan keilmuannya. Juga bisa menghandel dan menjadi mentor bagi mahasiswanya bagaimana seharusnya mahasiswa paripurna.
Seorang guru tidak hanya mengajarkan keilmuan pada siswa sekolah. Dia pun juga bisa membantu mengarahkan siswanya dengan segenap potensi yang dimilikinya ke jalur yang seharusnya.
Tenaga pengajar bukan hanya dosen di kampus dan guru di sekolah. Semua orang yang bergerak di bidang pendidikan, mendidik, memberikan, dan memperbaiki pendidikan adalah tenega pengajar.
Maka guru ngaji dan komunitas pendidikan non profit pun juga termasuk tenaga pengajar.
Jurnalis
Menjadi jurnalis juga cocok dengan aktivis. Sama halnya dengan aktivis, jurnalis juga pekerjaan otak. Jadi aktivis tentu sudah terbiasa.
Menyusun strategi dan bertarung di lapangan. Menghadapi tekanan dan upah yang kecil. Hidup yang biasa-biasa saja dan otak harus tetap bekerja. Menulis dan menyebarkannya ke khalayak luas.
Ya seperti itulah kesamaan seorang jurnalis dan aktivis. Mungkin bedanya dalam hal menulis saja.
Menjadi jurnalis jelas harus bisa dan terbiasa menulis. Sebab memang itu kerjaan utamanya, sebagai juru tulis.
Namun tidak semua aktivis terbiasa menulis. Jenis-jenis mahasiswa aktivis pun beragam macam. Ada yang pandai orasi, ada yang pandai mengumpulkan massa, ngurusi dapur dan logistik, sebagai sutradara dan orkestra, menulis narasi untuk disebarluaskan. Banyak macam lah tidak tunggal satu.
Yah kalau aktivis mau jadi jurnalis tinggal membiasakan menulis saja.
Bekerja di NGO
Ini juga masuk akal. Bekerja di gerakan sosial kemasyarakatan di sebuah NGO juga menjadi pilihan banyak aktivis.
Karena NGO itu non profit. Otomatis pemikiran idelalisme si aktivis juga bisa lebih terjaga. Tidak digodal oleh materi dan kekuasaan.
Bekerja di NGO juga bisa membantu banyak orang dalam banyak aspek. Bisa membantu menghembuskan isu, melakukan advokasi terhadap masyarakat kecil, menjadi relawan, dll.
Itu semua sesuai dengan kerja-kerja aktivis. Jadi tinggal meneruskan saja apa-apa yang dikerjakannya dulu waktu masih menjadi mahasiswa aktivis.
*****
Pilihan karir di atas urutannya bukan skala prioritas atau apapun itu. Itu cuman sekedar pikiran, renungan iseng saya saja. Bisa sepakat bisa juga tidak. Kalau misal kalian pengen pilihan karir yang lain selain itu, ya terserah kalian saja–saya kan bukan bapakmu.
Apapun pilihan karirmu, pastikan idealismemu tetap terjaga. Idealismemu sebagai aktivis tetap suci tak terjamah. Yah walaupun berat sih. 🙂