Ini bukan makna kiasan. Jelas. Ini adalah makna secara harfiah.
Kata ujian akan selalu berdampingan dengan kata hidup. Karena sejatinya ujian adalah hidup itu sendiri. Tidak ada kehidupan tanpa ujian. Dan ujian hanya diberikan kepada orang-orang yang masih hidup. Sejauh ini belum ada pembuktian secara empiris dan testimoni dari orang-orang yang belum lahir ataukah sudah mati. Apakah mereka-mereka juga mengalami ujian dalam masa-masa itu.
Yang bisa kita lihat dan rasakan adalah testimoni dari orang-orang yang masih hidup. Bahwa, ya memang mereka mengalami ujian dalam hidupnya. Entah soal kesehatan, keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dll.
Sejak lahir kita sudah menerima ujian kehidupan itu. Ada ujian yang ringan, ada juga yang berat. Ringan atau berat sebenarnya bersifat subjektif. Karena ini berkaitan dengan kemampuan atau kapasitas dari pribadi masing-masing. Namun satu yang pasti: ujian adalah sesuatu yang sifatnya menyusahkan ataukah menantang. Tanpa ada salah satunya, rasa-rasanya tidak pantas disebut ujian.
Bahkan bayi baru lahir pun juga mengalami ujian. Bayi ketika baru keluar dari rahim ibunya langsung nangis karena mengalami perbedaan suhu ketika masih dalam rahim dan setelah lahir ke dunia. Itu lah ujian bagi bayi baru lahir. Bayi baru lahir saja sudah mengalami ujian, apalagi orang yang sudah tua. Sudah jutaan ujian hidup yang dialami dalam masa hidupnya.
Tapi banyak orang yang sepertinya tidak punya ujian dalam hidupnya. Orang kaya misalnya. Dengan uang yang dimiliki bisa saja dia membeli segalanya.
Eits, jangan salah. Bahkan sesuatu yang kelihatannya menyenangkan pun mungkin saja itu ujian. Dalam contoh kasus orang kaya tadi misalnya. Harta banyak pun termasuk ujian.
Dengan uang yang banyak, mudah saja mendatangkan orang-orang untuk mendekat, bahkan menjadi teman. Namun ternyata kebanyakan dari orang-orang yang mendekat hanya bermotifkan materi. Hanya tertarik kepada harta dan benda. Ketika harta bendanya sudah habis. Habis juga lah teman. Tidak ada teman yang tersisa kecuali orang yang benar-benar tulus.
Jadi inilah hidup. Hakikat kehidupan memanglah ujian kawan. Hanya orang yang masih hidup yang menghadapi ujian. Orang yang sudah mati lah yang tidak mengalami ujian. Itu kenapa orang-orang putus asa, yang sudah kehilangan harapan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Karena sudah tidak tahan dengan ujian hidup, jadi lebih baik mati saja.
Untuk bisa lolos dalam ujian kehidupan tentu harus berjuang. Jadi hidup juga adalah perjuangan. Sebuah perjuangan untuk hidup itu sendiri. Perjuangan akan eksistensi manusia secara fisik maupun psikis.
Sebagaimana jika ingin lolos dalam ujian sekolah tentu lah harus berjuang. Berjuang, sifat dan bentuknya bisa berbagai macam. Belajar, bersabar, dan berusaha adalah bantuk lain dari perjuangan. Ketika manusia telah berjuang mengerahkan seluruh usaha dan kemapuannya, maka hasil tidak penting lagi. Sebab hasil dari perjuangan tidaklah di petik hari ini. Melainkan jauh di masa depan. Bahkan tidak menutup kemungkinan hasil perjuangan di petik setelah jiwa telah terpisah dengan raga.
Maka dari itu, berjuang harus senantiasa bergandengan dengan bersabar. Sebab sabar adalah teman setia dalam perjuangan. Sabar lah yang menemani perjuangan sampai tahap akhir, sampai selesai. Perjuangan tanpa rasa sabar hasilnya adalah kesia-sia-an. Tidak ada hasilnya.