Politisi adalah salah satu jenis manusia yang memiliki kadar optimis yang cukup tinggi dalam dirinya–nomor satu tetap motivator. Hal itu bisa dilihat dari omongan politisi, terutama janji-janjinya. Luar biasa optimis, walau realita berbicara lain.

Politisi-politisi itu selalu menjual cita-cita masa depan yang utopia. Terus optimis menatap masa depan dan selalu mengumbar janji. Indonesia emas 2045, pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi yang meroket, pengentasan kemiskinan, pendidikan yang merata. Namun yang tidak pernah mereka jelaskan adalah bagaimana caranya mewujudkan janjinya itu. Kenapa ini penting untuk dijelaskan? Sebab dari argumen ini kita bisa mengukur realistis atau tidak janji si politisi. Dari argumen itu kita jadi bisa tahu apakah janji itu suatu gagasan konkrit atau hanya omong besar saja. Selama tidak ada penjelasan bagaimana caranya mewujudkan, selama itu pula utopia itu hidup.

Namun realita yang kita hadapi, tiap ada hajatan politik. Sangat jarang ditemukan politisi yang berani ngomong dengan lugas tentang ide apa yang dia bawa dan bagaimana merealisasikannya. Yang ada hanyalah perang jargon. Spanduk dan baliho si calon isinya tidak lebih dari foto, identitas politik, dan jargon. Yah, mungkin yang memang diperlukan oleh masyarakat kita hanyalah jargon dan janji. Masyarakat kita

Politisi itu adalah pedagang dan dunia politik ibarat jual beli. Orang datang silih berganti menawarkan dagangannya. Toko-toko muncul bagaikan jamur di musim hujan menawarkan barang keunggulan barang dagangannya. Siapa yang jago menjual dia yang menguasai pasar. Entah produknya seperti apa, kalau dia jago jualan produknya pasti laku. Percaya deh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *