Setelah isunya ramai belakangan ini, akhirnya pemerintah resmi mengizinkan ormas mengelola tambang dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2024.

Lah untuk apa ormas mengelola tambang bos? Apa urgensinya? Tanpa bermaksud underestimate terhadapa ormas, sejauh mana kesiapan–kemampuan ormas–ngurusi tambang. Kalaupun bisa ngurusi, ormas-ormas mana yang punya kapabilitas mengurusi tambang. Jelas tidak semua ormas kapabel ngurusi tambang, yg profesional saja banyak hancur.

Saya yakin orang-orang terhormat macam KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan ketika mendirikan NU dan Muhammadiyah tidak ada niatan nyari duit dan ngejar materi.

KH. Hasyim Asy’ari, orang yang sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mempelajari Al Qur’an dan hadits, dikenal sebagai ahli hadits. Saya yakin tidak pernah terbersit dalam pikirannya kelak NU akan ngurusi tambang.

KH. Ahmad Dahlan yang sudah terkenal dengan jargonnya dari dulu, “Hidup-hidupilah Muhammadyiah, jangan cari hidup dari Muhammadiyah”. Sudah jelas ngelarang orang ngambil keuntungan dari Muhammadiyah, bahkan disuruh menghidupu Muhammadiyah.

Dan sekarang. Entah ide dari mana dan siapa yang ngusul. Ujug-ujug ormas diberikan izin mengelola tambang. Yang terbaru malah izin tambang NU sudah hampir rampung. Dengam memberikan izin tambang ke NU itu berarti mengotori cita-cita luhur KH. Hasyim ketika mendirikan NU.

Yang namanya ormas, tujuan ketika dia dibentuk, seyogyanya tidak ada niatan mencari keuntungan. Kalau mencari keuntungan, ya ngapain buat ormas, buat saja perusahaan. Benar kan.

Kalaupun ada ormas yang kegiatannya bergerak mencari profit. Itu lebih dilihat sebagai salah satu upaya ormas dalam menghidupi organisasinya. Dan kalau diperhatikan lebih seksama, kegiatan ormas yang menghasilkan profit itu biasanya bergerak di bidang pengabdian dan pelayanan, semisal pendidikan,kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Terus apa salahnya jika ormas juga mencari profit dari usaha tambang? Bukan persoalan logika salah dan benar, tapi lebih ke persoalan etika, baik atau buruk. Sebab usaha pertambangan memiliki banyak sisi. Dan sisi-sisi pertambangan yang buruk malah sangat parah dan merusak. Konfilik agraria, emisi karbon, persoalan tenaga kerja, kerusakan lingkungan, bencana alam, dll.

Ketika ormas agama mengambil peran itu, apakah itu berarti agama juga berperan dalam perusakan lingkungan dan konflik horizontal? Agama menjadi antagonis dalam perusakan lingkungan. Begitu kah?

Salah satu alasan yang mendasari diperbolehkannya ormas mengelola tambang karena mereka memiliki jasa dalam memerdekakan bangsa Indonsia. Katanya Pak Bahlil sih begitu.

Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi/Kepala BKPM cum politisi Partai Golkar sekaligus orang kepercayan Presiden Jokowi. Pernyataan pembenaran dari Pak Bahlil jelas adalah sebuah pernyataan yang bersayap, sarat motif politis.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan Presiden Jokowi dengan PBNU mesra belakangan ini. Apalagi sejak PBNU dipimpin oleh Gus Yahya–kakak Gus Yaqut, Menteri Agama. Hubungan itu semakin harmonis. Sudah jutaan pujian yang diberikan Gus Yahya kepada Presiden Jokowi. Dan Jokowi pun membalasa dengan (akan) memberikan izin tambang kepada PBNU.

NU sendiri sah dikatakan sebagai ormas keagaaman terbesar di Indonesia. Simpatisan dan anggotanya menyebar di seluruh negeri. Dan itulah yang menjadi magnet terbesar NU kepada politisi semisal Jokowi.

Jokowi butuh NU untuk mengamankan legasinya. Dan NU pun sudah terbiasa masuk dalam pusaran politik praktis. Pada pilpres kemarin pun, NU seperti malu-malu kucing terkait langkah politiknya. Di awal ketika Gus Yahya naik jadi ketua beliau menyatakan bahwa PBNU tidak akan masuk ke ranah politik praktis. Namun menjelang pilpres ketika Jokowi sudah menentukan pilihan politiknya, NU akhirnya mengamini pilihan politik Jokowi. Ya walaupun tetap dengan sikap begitu, malu-malu kucing.

*****

Tidak bisa tidak. Ada dua pemain aktor besar dalam drama ini, NU yang diwakili PBNU dan pemerintah yang diwakili Presiden Jokowi.

Jelas terlihat di publik bahwa NU lah yang paling dianak emaskan dalam perkara ini. Izin untuk PBNU sudah hampir rampung. NU akan mengelola cadangan batubara yang cukup besar. Bahlil sendiri menyatakan dengan lantang karena dia lahir dari rahim NU, tidak lama lagi dia akan teken IUP untuk dikasih ke PBNU.

Jika memang itu yang akan terjadi–kemungkinan besar akan terjadi. Maka wajah NU akan berubah total. Tidak akan sama lagi sepeti yang dulu. Akan banyak masalah yang berkelindan ketika NU mengelola tambang.

Salah satu masalah yang serius adalah lahirnya konflik horizontal. NU berkonflik dengan masyarakat luas. Konflik agraria misalnya. Bagi siapa yang melawan NU akan dianggap dengan melawan agama.

Konflik lain bisa jadi lahirnya kecemburuan sosial antar ormas. Karena tidak semua ormas akan diberikan izin usaha tambang.

Dan juga yang tidak kalah penting, matinya daya kritis ormas kepada pemerintah. Ketika ormas diberikan izin oleh pemerintah, maka sulit bagi ormas melakukan kritik kepada pemerintah. Karena tidak bisa dipungkiri ada transaksi di belakang layar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *