Kebijakan naturalisasi yang dilakukan PSSI semakin gencar semenjak Erick Thohir menduduki kursi nomor satu PSSI. Terakhir proses naturalisasi Calvin Verdonk dikabarkan telah selesai. Dengan begitu, Calvin Verdonk menambah panjang daftar pemain naturalisasi yang akan bermain untuk timnas Indonesia.

*****

Naturalisasi lagi, naturalisasi lagi. Kenapa kira-kira PSSI rajin banget melakukan naturalisasi? Jawabannya adalah karena timnas Indonesia kering prestasi. Dan itu sudah berlangsung lama. Bahkan Indonesia belum pernah sekalipun menjuarai Piala AFF yang notabenenya kompetisi lokal antar negara ASEAN. Padahal Indonesia total sudah enam kali melaju ke partai puncak, namun selalu berakhir dengan runner up.

Beda nasib dengan juniornya. Timnas junior beberapa kali merasakan gelar juara. Sebut saja Timnas U19 yang dikomandoi Evan Dimas yang berhasil juara Piala AFF U19 tahun 2019. Terakhir Timnas U23 berhasil meraih medali emas SEA GAMES tahun 2023 dibawah arahan Shin Tae Yong. Namun perlu dicatat. Ketika SEA GAMES 2023 program naturalisasi sudah gencar dilakukan.

Prestasi timnas junior seakan hilang tanpa bekas ketika pemain-pemain itu mulai masuk ke timnas senior. Lihat saja timnas U19-nya Evan Dimas. Praktis hanya Dimas Drajad yang masih dipakai STY di timnas senior. Evan Dimas bahkan sudah jarang main di timnas senior.

Ada begitu banyak masalah di persepakbolaan Indonesia. Dan itu semua berujung dengan hampanya prestasi di timnas senior.

Tanpa mengecilkan peran timnas junior. Untuk apa juara di timnas junior, tapi tingkat senior malah kepayahan. Orang tidak begitu ingat siapa juara piala dunia U20. Orang lebih mudah ingat siapa yang juara piala dunia senior. Dan juga penghargaan prestisius dunia semisal Ballon d’Or hanya untuk pemain level senior.

Keringnya prestasi level senior adalah puncak dari semua penyakit kronis sepakbola Indonesia. Kualitas liga yang buruk, suporter yang suka bikin rusuh kalau timnya kalah, pembinaan pemain muda yang tidak serius, kualitas wasit yang parah, PSSI sendiri lebih dekat dengan gosip daripada kerja nyata. Selama ini PSSI kebanyakan diurus orang yang tidak ngerti bola makanya kebanyakan gosip saja.

Kedatangan Erick Thohir membuat hawa segar menghampiri timnas. Tahu sendirilah bagaimana kiprah Erick di dunia olahraga. Erick pernah menjadi presiden Inter Milan. Namun bukan berarti Erick tanpa kritik di PSSI.

Dengan langkah percaya diri Erick melancarkan program naturalisasi. Dan seperti yang kita tahu, timnas mulai kelihatan taringnya di level dunia. Lawan di level ASEAN perlahan mulai ketar-ketir. Vietnam apalagi, bolak-balik dibombardir. Perlahan demi perlahan publik Indonesia mulai melihat kemajuan di timnas.

Namun tanpa menyelesaikan penyakit kronisnya, rasa-rasanya itu semua hanyalah solusi parsial alias solusi jangka pendek.

Peningkatan kualitas liga paling penting. Kualitas liga yang baik akan mendatangkan pemain terbaik untuk bermain. Pada akhirnya menaikkan level kompetisi antar klub. Level kompetisi juga akan meningkatkan level pemain. Akhirnya pemain dengan level top akan memenuhi timnas itu sendiri.

Kualitas liga juga harus memikirkan format kompetisi yang cocok untuk klub Indonesia. Karena persoalan format kompetisi tidak dipukul rata harus mengikuti contoh yang sudah mapan. Harus ada pembicaraan dengan klub format seperti apa yang harus diambil. Karena ini juga berkaitan dengan biaya operasional klub.

Pembinaan pemain muda meliputi sistem akademi dan kompetisi. Klub sudah seharusnya punya akademi sebagai tempat lahirnya bibit pemain. Dan tampa kompetisi, gak ada gunanya akademi.

Pengelolaan klub dan infrastuktur juga harus dikejar. Klub yang dikelola secara profesional sudah menjadi keharusan. Tujuannya jelas, klub harus belajar mandiri terutama soal keuangan. Memang sulit, tapi perjalanan menuju tujuan harus tetap ada walaupun majunya cuman semili.

Dan jangan lupakan juga soal kualitas wasit dan edukasi suporter. Kadang masalah ini yang banyak bikin gemes. Sudah banyak bertebaran di medsos betapa kelirunya keputusan-keputusan yang di ambil wasit.

Dan terkait suporter apalagi. Suporter klib Indonesia hanya mau timnya menang. Kalau tidak menang, sukanya bikin rusuh. Akibatnya fasilitas rusak dan klub kebanggannya membayar denda. Jadi pengeluaran lagi bagi klub. Sudah klub susah cari dana, malah diusilin sama suporter sendiri.

Ya memang susah jadi atlet sepakbola di Indonesia. Besok-besok kalau ada pemain berbakat yang lahir dari Indonesia, sufahlah pergi saja main diluar sana. Disini lingkungannya toxic.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *