Sudah enam tahun saya menikah sejak 2018. Dari apa yang saya alami sendiri maupun yang saya dengar dari pengalaman orang lain, ataukah yang saya baca dari buku maupun artikel online, ada beberapa hal yang menjadi pilar rumah tangga. Yang mana jika ini terwujud dalam rumah tangga, maka insya Allah rumah tanga tersebut bisa bertahan digempur badai persoalan rumah tangga hari-hari. Beberapa diantaranya adalah:
Ekonomi
Ekonomi jelas jadi penopang utama rumah tangga. Tanpa tumpuan ekonomi, sulit melihat rumah tangga bisa bertahan. Ini bukan soal materialistis, ekonomi yang dimaksud disini adalah kemandirian–kemampuan–suatu rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan rumah tangga sudah jelas: sandang, pangan, dan papan. Syukur-syukur kalau bisa memenuhi sedikit dari keinginan. Yang terpenting, kebutuhan terpenuhi terlebih dahulu. Jika mampu mandiri memenuhi kebutuhan hidup, satu titik aman tercapai.
Ketika kebutuhan ekonomi telah tercukupi namun kebutuhan tersebut tercukupi dengan cara utang juga berat nantinya. Karena tidak semua orang bisa bertahan dengan hidup bergelimang utang, entah itu si suami ataupun si istri. Makanya di paragraf awal tadi saya memakai diksi “kemandirian”. Mandiri itu berarti mampu memenuhi kebutuhan tanpa bantuan orang lain. Artinya rumah tangga itu bisa berdaya dengan kemampuannya sendiri. Atau bahasa lainnya juga berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.
Sudah banyak contoh rumah tangga bubar karena masalah ekonomi. Karena pernikahan memang bukan hanya soal cinta. Cinta sudah pasti, namun cinta harus berdiri diatas ekonomi yang stabil. Tanpa itu, semuanya buyar. Makan tuh cinta!
Komunikasi
Komunikasi antara suami dan istri juga ikut menentukan langgeng tidaknya suatu pernikahan. Dalam masyarakat kita, pernikahan dipandang sebagai suatu ikatan yang sakral. Bahkan tidak jarang perceraian dianggap suatu aib. Makanya tidak sedikit orang kemudian mempertahankan pernikahannya dengan berdarah-darah, walau sudah jelas pernikahan tersebut toxic.
Pernikahan membawa kita ke dalam suatu hubungan yang baru. Hubungan yang membuat kita terus bersama dengan satu orang dari pagi hingga malam. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. Oleh karena terus-terusan bersama gak mungkin dong gak komunikasi sama sekali. Entah ngobrol ringan, serius, marahan, bercanda, atau apalah.
Oleh karenanya, komunikasi menjadi suatu alat untuk menjaga iklim tangga. Jadi walaupun, lagi marah atau ngambek-ngambekan. Marah kecil atau marah besar. Jika komunikasi antar pasangan baik, insya Allah rumah tangga gak akan buyar.
Kalau istri ada mau dikomunikasikan yang baik. Jika suami ada mau juga dikomunikasikan yang baik.
Dan komunikasi ini tidak terbatas hanya pada komunikasi vebal. Komunikasi non verbal juga penting untuk diperhatikan. Seperti bahasa tubuh, sentuhan-sentuhan romantis, atau yang biasa juga dikenal dengan love language.
Keterbukaan
Mustahil menjaga hubungan rumah tangga yang baik tanpa adanya keterbukaan. Dalam agama Islam sendiri, tiap pasangan dianggap sebagai pakaian oleh pasangan lainnya. Istri adalah pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian bagi istri. Layaknya pakaian yang menutupi seluruh tubuh, tentulah pakaian juga menutupi seluruh borok tubuh bagian dalam maupun bagian luar.
Tiap pasangan harus terbuka kepada pasangannya. Suami harus terbuka dengan penghasilannya berapa dan didapatkan dari mana. Istri sebagai pengelola keuangan juga harus terbuka uang yang didapat dari suaminya digunakan untuk apa saja. Jika istri ada masalah dengan keluarganya, suami berhak untuk tahu, begitupun sebaliknya.
Masing-masing pasangan sebaiknya secara terbuka menyampaikan apa yang dia inginkan atau yang dia butuhkan kepada pasangannya.
Intinya semua masalah rumah tangga apapun itu, harus disampaikan secara terbuka.
Saling Pengertian
Kata “saling”, menuntut usaha kedua belah pihak (suami dan istri) untuk bisa mengerti masing-masing pasangannya. Tanpa adanya usaha masing-masing pihak mustahil terciptanya rasa saling pengertian.
Sikap saling pengertian juga menuntut rasa maaf dan kompromi. Memaafkan jika pasangan berbuat salah dan kompromi jika berbeda pendapat dengan pasangan.
Tidak bisa tidak, hidup serumah pastilah akan memunculkan gesekan apa saja. Hukum fisika pun seperti itu, jika dua benda yang saling bersentuhan makan akan timbul gaya gesek. Gaya gesek ini biasanya berwujud panas.
Jika timbul gesekan dan akhirnya panas. Muncullah api. Dan api, sebelum melebar kemana-mana, harus segera dipadamkan. Caranya memadamkankan adalah dengan memaafkan.
Seks
Pernikahan adalah seks itu sendiri. Pernikahan melegalkan seks. Tidak ada seks sebelum nikah. Setidaknya begitu kalau kau masih menggunakan norma agama dalam bertindak.
Seks menjadi kebutuhan biologis baik bagi suami ataupun bagi istri. Bagi suami sih, gampang saja memenuhi kebutuhan biologisnya. Maaf saja kalau agak jorok. Sekali ngaceng, ejakulasi, selesai. Sesederhana itu bagi laki.
Tidak demikian dengan wanita. Bagi wanita seksual tidak hanya itu. Bagi wanita seksual lebih kompleks lagi. Karena melibatkan perasaan, treatment seksual pada perempuan lebih banyak lagi.
Tidak jarang hubungan pernikahan bisa hancur karena tidak adanya kepuasan seksual yang dirasakan oleh pasangan. Ketidakpuasan dalam hubungan seksual pun harus dibicarakan. Jangan ada memendam. Kalau dipendam malah bisa jadi bom waktu, tinggal nunggu waktu aja meledaknya.
Pada pokoknya terkait dengan hubungan seksual, baik suami maupun istri harus sama-sama merasakan kepuasan dalam hubungan seksual. Jika ada ketidakpuasan agar dibicarakan. Ya sesederhana itu.