Baru saja selesai membaca novel Tentang Kamu karangan Tere Liye. Secara keseluruhan, konsep novel ini sangat mirip dengan novel Janji-nya Tere Liye. Perjalanan menyusuri jejak masa lalu seseorang.
Jadi dikisahkan ada seorang pengacara muda asal Indonesia yang bernama Zaman Zulkarnaen bekerja di firma hukum terkenal di Kota London, Thompson & Co. Suatu waktu, Zaman mendadak di telepon oleh atasannya untuk segera datang ke kantor guna membahas suatu kasus penting bersama Sir Thompson langsung. Cukup mengejutkan bagi Zaman, sebab sebelum-sebelumnya Zaman tidak pernah bercengkrama langsung dengan Sir Thompson. Tentu ini suatu hal penting jika Sir Thompson turun langsung.
Setiba di kantor telah ada Eric (senior lawyer) dan Sir Thompson menunggu. Kemudian dijelaskan bahwa salah seorang klien mereka telah meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan yang sangat besar. Harta warisan itu berupa kepemilikan saham 1% di perusahaan multinasional. Nilai saham itu setara satu miliar pound sterling alias 19 triliun rupiah. Namun yang jadi masalah adalah klien tersebut tidak meninggalkan surat wasiat sama sekali. Hanya meninggalkan surat keterangan kepemilikan aset yang dititipkan kepada pihak ketiga melalui pos ke kantor firma hukum Thompson & Co. beberapa tahun silam.
Klien tersebut bernama Sri Ningsih, orang Indonesia asli yang memiliki paspor Inggris. Maka diutus lah Zaman yang kebetulan berkewarganegaraan Indonesia untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kasus ini juga sekaligus sebagai ujian bagi Zaman untuk naik level menjadi senior lawyer.
Maka dimulai lah petualangan Zaman menelusuri jejak-jejek kehidupan Sri Ningsih. Petualangan itu dimulai di kota Paris, di sebuah panti jompo, tempat awal mula kabar duka itu datang. Di Paris, Zaman menemui Aimee, petugas panti jompo sekaligus orang terdekat Sri di selama di Paris. Aimee kemudian memberikan buku diary milik Sri. Berbekal buku diary tersebut, Zaman menelusuri kehidupan Sri Ningsih mulai dari lahir sampai kematiannya, mulai dari pulau Bungin sampai ke Paris. Menemui orang-orang yang pernah berinteraksi dengan Sri berharap bisa menemukan ahli warisnya.
Ya konsep novel ini mirip dengan novel Janji yang meceritakan kisah Bahar. Sama-sama menceritakan perjalanan hidup seseorang yang sudah meninggal dengan mendatangi kota-kota yang pernah disinggahi dan juga wawancara dengan orang-orang yang pernah berinteraksi. Dengan alur maju-mundur, Tere Liye juga menyertakan peristiwa-peristiwa bersejarah yang pernah terjadi yang bersinggungan dengan kehidupan Sri Ningsih, seperti Malari dan Y2K, namun tidak begitu mendalam menceritakannya–tidak jadi masalah lah.
Walaupun novelnya beralur maju-mundur, pembaca tidak akan kesulitan untuk membedakan alur ceritanya. Sebab ceritanya sangat jelas untuk kita bisa membedakan alur cerita.
Yang menjadi kekurangan dari novel ini menurut saya ada dua. Pertama, telatnya tokoh antagonis muncul. Sebab tokoh antagonis inilah yang membuat Sri pindah ke kota London kemudian ke Paris. Memang di awal cerita ada tokoh Nusi Maratta yang merupakan ibu tiri Sri Ningsih, tapi bukan dia ternyata tokoh antagonis utamanya. Kemudian juga ada mbak Lastri yang menjadi tokoh antagonis pas di Surakarta. Namun ternyata tokoh antagonis dari keseluruhan cerita baru muncul di akhir cerita. Tokoh yang menjadi hantu bagi Sri Ningsih, yang membuatnya pindah secara mendadak. Tokoh yang membuat Sri ingin menghilangkan jejak langkahnya.
Kekurangan kedua adalah plot twist yang terlalu dipaksakan. Kalo yang ini sebaiknya tidak perlu diceritakan ya, gak serunya jadinya kalau sudah tau plot twistnya padahal belum baca bukunya. Hehehe.
Selebihnya seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, imajinasi penulis dalam merangkai cerita, penggambaran karakter yang cukup rapi, dan gaya penulisan yang lugas membuat kita mudah memahami isi cerita. Akhir kata, idak perlu berlama-lama lagi. Saya ucapkan selamat membaca.
