Buku Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga adalah buku non fiksi pertama yang saya baca di tahun 2024. Belinya akhir tahun kemarin, pas tanggal 31 Desember. Langsung mulai baca pas 1 Januari. Sampai sekarang belum selesai baca..karena malas saja. Heheheh..
Pertama kali lihat buku ini pas di Gramedia TP, pas acaranya Tere Liye di TP. Iseng aja buka-buka karena penasaran. Pas baca isinya ternyata menarik. Menariknya karena cara penyampaiannya dengan cara dialog. Dialog naratif antara seorang filsuf dan pemuda. Mirip dengan buku-buku karangan Plato gak ya??
Secara eksplisit penulis ingin menyampaikan gagasan-gagasan psikolog Austria, Alfred Adler, tentang bagaimana melihat dan memaknai realita kehidupan sehari-hari. Tapi sampulnya bilang “fenomena dari Jepang untuk membebaskan diri, mengubah hidup, dan meraih kebahagiaan sejati”, memangnya Adler orang Jepang?? Aah bingung.
*****
Ditengah usaha melawan kemandekan pemikiran kreatif saya sebagai orang yang sudah usia kepala tiga, maka mulai tahun ini saya mencoba mulai rajin menulis lagi. Mulai rajin menuangkan pikiran saya ke web ini-eman bayarnya kalo gak diisi. Jadi saya coba berbagi kepada kalian tentang poin-poin menarik yang sy dapati di buku ini.
Tahu Alfred Adler? Tahu tentang teori psikologi Adler seperti apa? Kalau tidak tahu, sama. Saya juga tidak tahu dan baru dengar di buku ini.
Teori psikologi Adler lebih mengarah pada teleologi (ilmu yang mempelajari tujuan dari suatu fenomena, ketimbang penyebabnya) ketimbang aetiologi (studi tentang hubungan sebab dan akibat).
Dalam pandangan psikologi, aetiologi hanya menjelaskan kejadian-kejadian atau trauma di masa lalu lah yang membentuk kepribadian kita hari ini-lebih berfokus pada hubungan sebab akibat. Hanya sebatas itu. Sedangkan teleologi Adler dengan jelas menyangkal masa lalu. Tidak peduli apa trauma yang kau alami di masa lalu, yang tertpenting adalah hari ini. Bagaimana kau memaknai trauma itu untuk menuju ke arah tujuan baru di masa depan.
Semua orang pernah mengalami trauma di masa lalu. Sebagian trauma bersifat takdir, sebagian lainnya karena kesalahan pribadi. Tapi apapun trauma itu, semuanya telah terjadi. Trauma- trauma itu kemudian membentuk pribadi manusia, namun proses pembentukan itu tidak lepas dari bagaimana manusia memaknai trauma yang dia alami.
Ada anak yang terlahir dari keluarga miskin, yang sepertinya semesta mendukung untuk dia gagal di kehidupan masa depan? Apakah pada akhirnya anak tersebut akan betul-betul gagal di masa depan? Ya, anak tersebut betul-betul gagal. Tapi bukankah ada juga anak yang berhasil dengan kondisi yang mirip-mirip? Pasti ada, tidak sedikit juga malahan. Cari saja di google pakai kata kunci “kisah inspiratif”, pasti nemu deh.
Yap, tidak peduli seperti apa trauma yang kau alami, bagaimana kau memaknai trauma itu jauh lebih penting. Karena hidup terus berjalan maju, waktu tidak akan me-rewind. Tinggalkan masa lalumu. Fokus ke masa depan. Apa yang kau inginkan, apa yang akan kau tuju di masa depan. Kebahagiaan apa yang kau inginkan.
Namun sayang, trauma begitu kuat bagi manusia dan itu kemudian mempengaruhi emosi sebelum menjadi bentuk yang lebih kuat. Menyangkal trauma sama saja menyangkal emosi. Menyangkal emosi sama saja menyangkal eksistensi manusia itu sendiri. Karena manusia adalah cerminan emosi. Ketika emosi tidak ada berarti itu bukan manusia, itu adalah robot. Bagaimana kemudian manusia hidup dengan menyangkal emosi/trauma di masa lalu? Poin utamanya adalah “kita tidak dikendalikan oleh emosi”.
Tidak bisa disangkal emosi pasti ada pada diri manusia. Marah misal. Ketika di hari minggu yang cerah, anak bayimu yang lucu menjatuhkan laptopmu dari meja kerja, dan kau dapati laptopmu yang berisi ribuan file penting tiba-tiba rusak, tidak bisa dinyalakan, sedangkan deadline dari bos telah menunggu senin besok. Bagaimana reaksimu? Apa kau marah? Jelas marah. Setelahnya apa yang kau lakukan? Apa kau akan memukul anak bayimu yang lucu itu? Orang waras tentuk tidak akan berbuat demikian. Ya betul kita akan marah jika mengalami kondisi seperti itu. Namun tindakan yang kita ambil pada saat marah itu lah yang terpenting. Bukan soal “apa yang terjadi”, tapi “bagaimana menyikapinya”. Terlepas dari kejadiannya seperti apa, makna yang diberikan pada kejadian jauh lebih penting. Kita tidak bisa memutar kembali waktu untuk meletakkan laptop di tempat yang tepat. Jika terus-terusan terjebak di masa lalu, maka kebahagiaan di masa depan akan sirna.
Pada akhirnya, semua orang ingin berubah, sekuat apapun trauma yang dialami di masa lalu. Namun perubahan itu menakutkan, terlepas perubahan itu baik atau buruk. Karena ketika perubahan terjadi, maka kita akan menjalani suatu kehidupan baru, kehidupan yang tidak pernah kita kenali/alami sebelumnya. Ada rasa cemas ketika ingin melakukan perubahan, ada rasa takut ketika menghadapi situasi baru, di titik ini keberanian kita diuji. Apakah kita berani manjadi bahagia atau tidak? Tidak semua orang berani menjadi bahagia. Sebab kebahagian bisa di dapatkan dengan perubahan. Sedangkan untuk melakukan perubahan, ada rasa cemas yang harus di taklukkan.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya untuk berubah? Gampang. Yang harus kau lakukan adalah menghentikan gaya hidupmu sekarang dan mengambil gaya hidup baru. Tapi apakah semudah itu menghentikan gaya hidup sekarang? Sepertinya sulit ya, karena memang kita sudah nyaman dengan gaya hidup lama. Heheheh..
*****
Menarik kan bukunya? Oke dilanjut besok ya pembahasannya. Buat yang penasaran dengan bukunya, noh dibawah bukunya.
