Di negeri tempatku berpijak, semua terasa asing
Bahasa kian menjadi sekumpulan kata pening
Namun, langkahku tidak bisa berhenti begitu saja
Sebab sepucuk surat undangan telah membawaku sejauh ini
Di negeri sakura ini, tubuh manusia berlalu begitu cepat
Membuatku tidak sempat menatap wajah mereka sejenak
Lantas aku bertanya, pantaskah kakiku berpijak di sini?
Sementara namaku masih kecil di negeri sendiri
Kini, aku menjadi lebah pekerja di sela riuh kota
Memahat hari dengan peluh tiada henti
Menelan sepi di antara deru mesin dan mimpi
Demi janji yang tertulis di sepucuk surat tadi
(Didasarkan pada cerpen Hitarakibachi oleh ©Awit Radiani)
-Ryuuna