Tidak dewasa.

Suka sekali bertindak seenak jidatnya.

Suka sekali bertindak dikendalikan oleh emosi.

Egois. Munafik. Kasar.

Aku berpikir tidak akan ada segelintir orang dewasa yang akan memberiku contoh yang seharusnya pada waktu itu. Yang ada dipikiranku justru, “Ah, si brengsek ini sepertinya ingin mencari kambing hitam lain sebagai pelampiasan emosinya lagi”.

Tidak ada tuh yang namanya orang dewasa yang telah mencapai kematangan psikologis dan emosional. Kalau kata Google, sih. Umumnya orang dewasa dianggap sudah ‘dewasa’ jika mereka telah mencapai usia 21 tahun ke atas. Namun dulu, ketika aku menemui manusia dewasa yang berusia 21 tahun ke atas, banyak sekali kutemukan orang dewasa yang tidak sesuai jiwanya. Mereka kasar, munafik, egois. Aku bahkan pernah dijadikan kambing hitam atas pelampiasan emosi. Padahal dia adalah orang dewasa yang sudah menyentuh kepala lima. Setidaknya itulah yang pernah didapatkan oleh anak kecil berumur sepuluh tahun kebawah dan keatas.

Meski begitu, pernah sih aku bertemu manusia dewasa yang sudah menyentuh kematangan jiwa dan emosional. Tapi hanya segelintir. Mungkin bisa dihitung jari.

Sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya, seperti apa definisi kedewasaan itu yang sesungguhnya.

Jika aku melihat kembali anak yang sepantaranku. Wajar sih sifat mereka masih seperti itu. Masih dikendalikan oleh emosi, tidak memikirkan perasaan orang lain, egois. Tapi apakah tetap wajar orang dewasa yang sudah kepala dua tetap melakukan perbuatan kekanak-kanakan seperti itu? Jika saja teman sepantaranku yang sekarang tetap menjadi diri mereka yang egois, kasar, dan munafik. Bahkan ketika mereka sudah menjadi orang dewasa berkepala dua dalam tujuh tahun kedepan. Entahlah. Aku tidak memiliki kendali untuk mengendalikan mereka.

Biarlah mereka berdansa bersama sifat kekanak-kanakan itu selamanya. Biarlah usia 20 tahun ke atas menjadi sekedar julukan seberapa lama mereka hidup. Mungkin aku juga. Tapi ku harap tidak. Aku tidak ingin menjadi sama dengan orang-orang itu.

-Ryuuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *