Ada perbedaan yang sangat kentara terkait isi dan gaya penyampaian Ustad Nuruddin dan Kang Pepih dalam menulis. Gaya penyampaian Kang Pepih beraroma jurnalistik, lugas, dan mengalir. Ustad Nuruddin juga lugas dan mengalir dengan aroma diktat perkuliahan. Memang benar Ustad Nuruddin adalah seorang guru. Kegiatan belajar mengajar adalah kerjaanya saban dino.
Perbedaan yang paling terlihat jelas adalah isi bukunya. Dari sisi judul sebenarnya kita bisa saja menebak. Coba bandingkan “Panduan Praktis Agar Kita Gila Membaca & Menulis” katya Ustad Nuruddin dengan “Tulislah! Mengembangkan Proses Kreatif Menulis Berita, Feature, Fiksi”.
Yang menjadi perhatian utama Ustad Nuruddin adalah bagaimana supaya kita gila membaca dan menulis. Jadilah Ustad Nuruddin menjabarkan tips, trik, langkah-langkah, serta motivasi supaya kita bisa gila membaca dan menulis. Ada juga diceritakan kisah-kisah ulama sehubungan dengan kegilaan ulama dengan dunia literasi. Jika melihat ke daftar isi maka kita bisa tahu perhatian utama Ustad Nuruddin fokus pada hal-hal umum supaya kebiasaan membaca dan menulis terbentuk pada pembaca. Kenapa harus membaca, kenapa harus menulis, langkah cerdas memilih buku, berapa gaji penulis, dll. Semuanya mengarahkan dan memotivasi supaya kita lebih rajin lagi membaca dan menulis.

Bedanya dengan buku serial menulis Kang Pepih. Buku Kang Pepih lebih mengarah ke hal-hal teknis kepenulisan. Di sini saya mencoba membandingkan Buku “Tulislah”. Jika melihat ke daftar isinya maka ditemuinya banyak yang berkaitan dengan hal-hal teknis. Menggunakan teknik flashback, Tulian ceruk kecil, Proses kreatif menulis berita, Proses kreatif menulis fiksi, dll. Namun bukan berarti tulisan Kang Pepih semuanya membahas hal teknis. Hal-hal umum pun juga ada. Begitupun dengan buku Ustad Nuruddin.

Dari segi rasa, bukunya Ustad Nuruddin lebih ke buku motivator. Bagaimana caranya menumbuhkan motivasi untuk menulis dan membaca. Sedangkan buku Kang Pepih padat menekankan ke teknik penulisan dan pengolahan proses kreatif dalam menulis. Makanya buku Kang Pepih banyak menyertakan contoh-contoh tulisan dan buku Ustad Nuruddin menyertakan kisah-kisah ulama dalam kaitannya membaca dan menulis.
Di bagian akhir pembaca disajikan bagaimana gilanya ulama terdahulu terhadap dunia keilmuan. Saking gilanya kita merasa cerita ini kayak omong kosong saja. Tapi tentunya tidak. Ustad Nuruddin punya dasar referensinya jadi pembaca bisa melakukan croscheck untuk memvalidasi.
Yang kurang dari buku ini adalah kebanyakan typo. Ada yang salah huruf. Spasi tidak sesuai. Kalau salahnya cuman satu mungkin masih bisa dimaafkan. Tapi kalau terlalu banyak berarti editornya kurang teliti memeriksa.
Secara keseluruhan buku ini masih pantas untuk dijadikan bacaan di waktu senggang. Pembahasanya tidak berat. Bisa dibaca pada saat lagi nunggu di angkutan umum. Lagi nunggu istri belanja di pasar. Lagi nunggu di bank. Asal jangan pas lagi nunggu durian jatuh saja. Hahaha..
Buku ini bisa mengetuk kesadaran kita akan pentingnya urusan membaca dan menulis di zaman sekarang ini. Di zaman yang kebanjiran informasi, maka tiap manusia perlu meningkatkan pemahaman literasinya supay tidak termakan berita bohong. Juga mengajarkan kita berkarya. Mengabadikan nama dalam catatan sejarah. Itulah hebatnya menulis. Orangnya bisa saja sudah wafat ribuan tahun lalu. Namun dengan berkarya, dengan menulis, namanya abadi sampai akhir hayat.