Prabowo resmi menjadi Presiden Indonesia sejak pelantikan pada 20 Oktober 2024. Pelantikan itu mendandai babak baru dalam sejarah Indonesia. Setelah 10 tahun dikuasai rezim Jokowi, kini rezim dikendalikan oleh si 08, Prabowo Subianto.

Jutaan harapan bahkan miliaran sampai triliunan tentu dititipkan kepada Presiden baru–Untuk apa juga punya Presiden baru kalau tidak ada harapan baru. Dari pelosok desa sampai yang paling dekat dengan jantung istana. Orang kaya sampai orang miskin semua menitipkan harapan kepada Presiden baru. 280-an juta rakyat Indonesia menitipkan harapan kepada Presiden baru. Berharap adanya perubahan nasib menjadi lebih baik dalam 5 tahun ke depan. Mampukah Presiden Prabowo menjawab harapan-harapan yang itu? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Naiknya Prabwo ke kursi Presiden RI tidak bisa lepas dari pengaruh politik Jokowi. Sejak menjadi konco pasca gelaran Pilpres 2019, hubungan Prabowo dan Jokowi menjadi semakin dekat. Dan hubungan itu semakin erat lagi manakala Prabowo menggandeng anak Jokowi, Gibran, menjadi Wakil Presiden untuk bertarung di Pilres 2024.

Ada pesemisime yang membersamai Prabowo tatkala memenangkan Pilpres 2024. Nada-nada pesimisme diproduksi dari golongan-golongan aktivis–salah satu kerja-kerja aktivis mengawasi kekuasaan kan. Apakah mungkin pelaku kejahatan HAM bisa menyeleaikan kasus-kasus HAM masa lalu. Dari golongan perubahan anak abah juga merasa pesimis. Ah, sepertinya tidak akan ada perubahan berarti nih. Sama saja kayak rezim Jokowi kemarin. Lah, Prabowo-nya sedikit-sedikit nyenggol Jokowi kalo kampanye.

Bagaikan dua sisi koin, selain pesimisme, tentulah ada yang optimis juga. Terutama dari golongan pebisnis-pebisnis gede. Banyak proyeklah yang bisa dibantu di pemerintahan baru ini. Proyek IKN kek, makan bergizi gratis, perumahan rakyat, siap deh pokoknya.

Wajar jika ada yang merasa pesimis. Sebab kondisi yang dilihat oleh masyarakat sehari-hari adalah kondisi pesimis. Harga-harga naik, pelajar SMA yang tidak bisa operasi dasar matematika, konflik agraria yang tidak pernah selesai, elit-elit politik yang hanya memikirkan golongannya saja, kurikulum merdeka yang tidak jelas, aparat penegfak hukum yang tebang pilih, dan masih banyak lagi masalah-masalah yang hidup di sekitar masyarakat. Dengan semua yang disaksikan itu maka tidak salah kalau masyarakat merasa pesimis.

Kita punya pemerintah yang bergantian tiap 5 tahun. Tiap 5 tahun kampanye ngemis-ngemis suara rakyat. Pas sudah menang, apakah si pengemis itu benar-benar hadir membantu rakyatnya dari jurang kemiskinan? Yang ada mereka hanya sibuk dengan kelompoknya. Bodoh amat dulu sempat janji apa pas kampanye. Buktinya distribusi kekayaan di Indonesia santalah jomplang. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Makin hari makin kapitalis. Kaum oligarki terus-terus menikmati kekayaan, kelas menengah yang semakin terjepit. Dan kelas miskin yang entah menggantungkan harapan ke mana.

Yang optimis juga punya alasan. Prabowo adalah pemimpin yang punya karakter. Tipe pemimpin yang kuat, tegas, dan pantang menyerah. Bekas tentara, punya partai politik, jaringan bisnis yang kuat, berpengalaman mengikuti kontestasi pilpres.

Dari sisi posisioning, Prabowo memang kuat. Semua kekuatan politik dan ekonomi berkumpul di sekitarnya. Partainya Gerindra, juara ketiga Pileg 2024. Gengnya KIM Plus, menguasai parlemen. Kurang kuat apa coba dari sisi politik. Kekuatan ekonomi pun juga begitu. Ketua Kadin, Anindya Bakrie, anaknya Aburizal Bakrie, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Aktivis yang dulu menjadi lawannya ketika masih aktif menjadi tentara kini menjadi anak buahnya. Kurang apa lagi. Semua tools pengontrol kekuasaan sudah ada dalam genggaman beliau. Tinggal tools ini akan digunakan untuk apa dan diarahkan ke mana setidaknya sampai tahun 2029.

Maka mari kita saksikan bersama akan seperti apa kehidupan bangsa ini dan kehidupan kita sendiri 5 tahun ke depan. Akankah ada perbaikan hidup yang bisa dinikmati. Ataukah terus-terusan menjadi penonton drama politik. Mampukah Presiden baru memangkas jarak antara si miskin dan si kaya. Akan hilangkah konflik agraria yang merampas kehidupan rakyat kecil. Dan apakah hukum bisa benar-benar tegak tanpa tebang pilih. Semoga saja si pesimis salah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *