Mungkin tidak banyak yang tahu novel ini. Saya sendiri pun baru tahu novel ini setalah melihat postingan di-ig Tere Liye. Yang mana novel ini dikomentari salah satu ekonom besar yang baru saja meninggal, Faisal Basri.

Cukup menarik perhatian saya, mengapa ekonom sekelas Faisal Basri, yang namanya sudah kondang ke mana-mana komentarin novel Tere Liye, salah satu penulis yang banyak hatersnya. Hahahah..

Sebenarnya mudah saja dipahami. Yup. Faisal Basri adalah dosennya Tere Liye sewaktu kuliah di FE UI. Paling tidak Tere Liye sudah punya akses ke Bang Faisal. Lah wisudawan terbaik FE UI, masa sih tidak dikenal sama dosen sendiri.

Saya sendiri jadi penasaran membaca buku ini karena memang ada komentarnya Pak FB di blurb bukunya. Ada apa gerangan? Megapa sampai ekonom besar komentarin buku novel? Seseru apa sih bukunya?

Akhirnya checkout melalui Shopee. Karena bukunya sudah lama, pasti sulit kalau mau cari yang baru. Otomatis beli bekas dong, harganya juga lebih murah. Syukur beneran barang bekas yang datang. Ori bekas. Kalau bajakan bahaya. Bisa dimarahin sama penulisnya loh.

Total 8 hari saya membaca bukunya. Dan hasilnya ternyata di luar dugaan.

Saya pikir, saya akan menemukan apa yang selama ini biasanya saya dapatkan dari buku-buku Tere Liye sebelumnya. Ternyata tidak juga.

Penyajiannya memang khas Tere Liye, namun sepertinya ada yang kurang. Terutama di bagian konfliknya. Bagiku pribadi konfliknya kurang tajam dan dramanya juga kurang.

Sang Penandai mengisahkan seorang pemuda patah hati bernama Jim yang baru saja ditinggal mati oleh kekasih hatinya. Ada penyesalan yang dibawa Jim dari liang kubur sang kekasih. Penyesalan yang terus menghantuinya selamanya.

Jim adalah seorang pemuda miskin papa yang hidup sebantang kara, yang hidup dari belas kasih orang-orang sekitarnya. Suatu hari Jim bertemu dengan Nayla, seorang anak bangsawan dari negeri seberang.

Singkat cerita Jim kemudian jatuh cinta kepada Nayla. Gayung bersambut, Nayla pun juga jatuh cinta kepada Jim. Namun apa daya perbedaan yang sangat kontras antara keduanya menumbuhkan tembok besar diantara mereka. Keluarga Nayla tidak menghendaki Jim masuk ke circle istana.

Demi cintanya, Nayla bertindak nekat. Nayla lari dari pernikahan yang tidak diharapkannya menuju kota Jim. Namun ternyata tindakan nekat itu belum cukup. Nayla memutuskan bunuh diri dengan meminum racun. Apa mau dikata, Jim tidak mampu menyelamatkan kekasih hatinya.

Jim yang hatinya gelap gulita dan putus asa pergi ke taman. Di sana dia bertemu dengan Sang Penandai, seorang tokoh imajiner. Sang Penandai memberikan petuah kepada Jim, “.. Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemout dirinya.”

Sang Penandai meminta Jim mempercayai kalimat tersebut. Dengan berat hati akhirnya Jim memulai petualangannya berkelana bersama Armada Kota Terapung menuju Tanah Harapan sambil mempercayai kalimat sakti itu.

Dalam petualangannya banyak peristiwa yang terjadi. Peristiwa-peristiwa tersebut sedikit demi sedikit merubah sifat dan perilaku Jim menjadi lebih tangguh. Dari semula hanya menjadi Si Kelasi Yang Menangis menjadi Panglima Perang Yang Menangis.

Pada akhirnya Jim menemukan jawaban dari teka-teki itu di akhir cerita setelah melewati berbagai macam halangan dan rintangan yang dijalaninya selama pelayaran.

Novel Sang Penandai kurang lebih mirip-mirip dengan Sang Alkemis-nya Paulo Coelho. Kebetulan judulnya juga sama-sama memakai kata “Sang”.

Alur ceritanya pun kurang lebih sama. Tokoh utama bertemu dengan tokoh imajiner. Tokoh imajiner memberikan petuah kepada tokoh utama. Tokoh utama berkelana dengan menggunakan petuah itu sebagai kompas. Dan di akhir cerita terkuaklah teka-tekinya.

Jadi bagi kalian yang sudah pernah baca Sang Alkemis paling tidak sedkiti tahulah novel ini seperti apa. Novelnya menceritakan tentang perjalanan menemukan makna. Banyak pelajaran dan nasihat yang bisa dipetik dari perjalanan itu. Tokoh dalam cerita juga tidak banyak. Ditambah alur cerita maju dan konflik yang tidak berat membuat pembaca mudah memahami jalan cerita.

Kekurangannya mungkin terletak di konflik dan plot twist. Konflik dan plot twistnya kurang nendang. Bisa dipahami sih. Novel ini kan salah satu novel-novel awal karya Tere Liye. Mungkin bang Tere masih dalam tahap eksperimen. Masih mencari dan mengeksplorasi berbagai macam cerita.

Secara umum novel ini tetap seru kok. Fansnya Tere Liye harus baca sih novel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *