Menulis itu pekerjaan berat. Setidaknya itu menurutku.

Mungkin banyak orang akan menertawakan atau menganggap pendapatku itu konyol. Bagaimana mungkin menulis itu pekerjaan berat. Lah tinggal tuliskan saja apa yang ada di kepalamu, apa susahnya.

Justru disitulah letak kesulitan dan tantangannya: menuliskan apa yang ada di kepala–mana mungkin juga bisa menulis sesuatu yang tidak ada dalam kepala.

Sekarang, kalau kamu menganggap menulis itu pekerjaan mudah maka saya tantang kamu untuk menuliskan apa yang ada di kepalamu. Saya yakin banyak orang akan berbalik, ternyata menulis tidak semudah menuliskan dikata. Tidak mudah menuliskan apa yang ada di kepala walau di kepala sudah banyak ide bereserakan.

Menulis itu pekerjaan berat. Sebab tulisan yang baik lahir dari pemikiran tajam dan renungan yang mendalam.

Kalau menulis sekedar menulis, jelas gampang saja. Anak kecil pun bisa kalau begitu tinggal kembali ke awal: tuliskan apa yang ada di otak. Sesederhana itu memang. Apa hasilnya tulisan seperti itu, jelas berantakan. Tidak mungkin di muat menjadi sebuah buku atau dimuat di koran-koran untuk dibaca orang banyak–kalau untuk koleksi pribadi sih bebas saja.

Namun ternyata menuliskan apa yang terlintas di kepala alias mengarang bebas adalah pintu gerbang menjadi seorang penulis. Di dunia kepenulisan teknik seperti itu biasa disebut Free Writing.

Saya yakin penulis-penulis hebat lahir dari menerapkan konsep free writing dalam kesehariannya. Free writing menjadi gerbang awal memasuki dunia kepenulisan. Free writing bisa membangun habit menulis seseorang. Tulisan yang sedang saya tulis ini pun juga termasuk free writing.

Setelah memasuki gerbang yang bernama free writing, penulis akan menemukan jalan dan prosesnya sendiri. Ada yang cepat, ada juga yang lama. Bermacam-macamlah halangan dan rintangan yang ditemuinya. Mulai dari membangun struktur dan konsep tulisan, belajar menulis yang benar sesuai PUEBI, menemukan kata yang tepat, memainkan humor, dll.

Di usia 31 tahun, hari ini saya masih belajar menulis. Usia yang terlambat memang. Namun saya teringat dengan nasihat masa lalu bahwa “tidak ada yang terlamabat kalau itu urusan dunia”. Maka saya pun memulainya. Entah besok saya jadi penulis atau tidak, itu urusan besok–pengen sih, tapi gak ambisi juga, bingung deh. Hari ini saya hanya ingin belajar menulis. Oke, kembali ke laptop.

Menulis itu pekerjaan berat karena menggunakan otak dan hati dalam prosesnya. Pernah merasa lelah padahal kerjanya hanya depan laptop tanpa ada pekerjaan fisik yang berat. Seperti itu juga kira-kira gambarannya.

Pekerjaan otak memang sering kali lebih melelahkan daripada pekerjaan fisik. Lelahnya pekerjaan fisik biasanya langsung hilang dengan tidur. Namun lelahnya pekerjaan otak kadang tidak bisa hilang hanya dengan tidur.

Selaib otak, hati juga diperlukan. Jika otak untuk menghasilkan tulisan dengan analisis tajam dan menentukan struktur tulisan. Maka hati diperlukan untuk melahirkan tulisan yang menggugah.

Tulisan yang menggugah lahir dari perenungan yang mendalam. Menemukan sudut pandang baru dan bolehlah sedikit-sedikit menghasilkan quotes yang apik, yang mantep dijadikan status di medsos.

Mengasah otak dan membuat hati merenung butuh waktu. Tidak lahir sekejap mata. Selain butuh asupan informasi sebagai bahan utama–tidak mungkin dong bisa mikir kalau otaknya kosong–juga memerlukan kepekaan rasa untuk meramunya menjadi tulisan yang menarik.

Maka menulis juga menuntut orang untuk rajin membaca. Dengan membaca dia jadi update info-info terkini. Tulisan yang tajam pasti lahir dari berbagai macam sudut pandang dan data yang bejibun kan.

Maka gunakanlah dua divais itu (otak dan hati) jika ingin tulisanmu menarik danlayak untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *