Sering saya merasa kasihan melihat pedagang asongan yang ada di terminal, perempatan lampu lalu lintas, atau yang keliling kompleks menjajakan barang dagangannya yang tidak seberapa.
Berapa untung yang dihasilkan dari hasil menjual jajanan kecil, minuman, jepit rambut, sisir, dan barang sejenisnya? Tidak banyak tentu saja. Cukupkah hasil dari jualannya itu dia gunakan untuk menutupi kebutuhan keluarganya, untuk anak dan istrinya? Saya tidak yakin. Kalau memang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, mengapa meraka masih tetap melakukan pekerjaan itu?
Entahlah. Saya sendiri tidak pernah mengajukan pertanyaan sedetail itu kepada mereka. Namun yang bisa saya lihat dari orang-orang seperti mereka adalah keteguhan tekad menjalani kehidupan yang berat dengan penuh kehormatan.
Ada-ada saja orang yang kasihan melihat orang-orang seperti mereka. Saya sendiri pernah memiliki pengalaman. Suatu ketika mobil saya bersama teman dihampiri oleh pedagang asongan menawarkan jajanannya kepada kami. Namun salah satu dari teman saya justru ingin memberikan uang secara cuma-cuma kepada pedagang itu alih-alih membeli barang dagangannya. Sepertinya teman saya menganggap pedangan asongan itu sama saja dengan pengemis. Saya tidak setuju. Akhirnya saya membeli jajanan yang ditawarkan si penjual dan memberikan uang senilai barang yang saya ambil.
Benar. Masih saja ada orang yang menganggap mereka sama dengan pengemis. Padahal perbedaannya sangat jelas. Pedagang asongan menjual, pengemis meminta. Pedagang asongan berusaha dan menggunakan otak, pengemis berkeliling meminta-minta belas kasih dari orang-orang.
Pedagang asongan sama saja dengan penjual yang lain. Sama saja dengan pengusaha yang lain. Pedagang asongan sama saja dengan Elon Musk dan Prajogo Pangestu, sama-sama menjual. Skalanya saja yang berbeda, namun hakikatnya tetap sama. Sama-sama berusaha, sama-sama pedagang, sama-sama menjual.
Namun tentu pedagang asongan tetap beda dengan pengusaha kelas kakap itu. Pedagang asongan masih pusing mikirin besok keluarganya mau makan apa. Kalau Mas Elon mah hartanya tidak bakalan habis sampai tujuh turunan.
Saya justru kagum dengan pedagang-pedagang kecil seperti mereka. Berkeliling menawarkan barang dagangnnya yang paling mahal mungkin tidak sampai Rp. 20.000.
Beratnya kesulitan hidup yang dialami tidak membuatnya patah semangat. Namun mereka lebih memilih melawan. Melawan nasib dan tuntutan hidup yang begitu berat. Ibarat David VS Goliath.
Andai saja dia menyerah, maka dia pun berkeliling menjadi pengemis. Menggadaikan harga dirinya sebagai manusia. Namun dia tidak mengambil pilihan itu.
Di bagian itu saya salut. Maka perasaan-perasaan yang memandang mereka sebelah mata, yang menyamakan mereka dengan pengemis adalah perasaan-perasaan yang justru hina dan tidak pantas. Hey, mereka itu menjual tidak meminta-minta.
Mereka haruslah dipandang setara sebagaimana kamu melihat penjual-penjual yang lain. Itulah bentuk penghormatan kepada pejuang-pejuang rupiah seperti mereka.
Mereka tidak sejahat kaum kapitalis yang terus-terusan menyedot uangmu dan membuat jurang si kaya dan si miskin menjadi semakin lebar. Mereka juga adalah korban-korban kapitalis sama kayak kamu. Yang berusaha tetap waras di tengah himpitan ekonomi yang semakin tinggi.
Sekali lagi, jangan meremehkan mereka. Bisa jadi mereka lebih terhormat daripada kalian-kalian yang berstatus karyawan kasta sudra. Yang datang ke kantor dan menerima gaji dari perusahaan di akhir bulan.
Salam hormatku kepada semua pedangan asongan. Hormat pak! Kita sama saja, tidak ada bedanya. Sama-sama orang yang berjuang dengan kehidupannya masing-masing. Melewati cobaan hidupnya masing-masing. Jika ada umur panjang, semoga keadaan berubah. Menjadi lebih baik esok hari. Dan jangan pernah lupakan perjuangan ini.