Mamuju yang semakin mengota (dibaca: menjadi Kota) menuntut perhatian yang lebih serius terhadap kota, tata kelolahnya, serta berbagai dimensi yang terkait. Namun, perhatian yang serius ini tidak boleh menjadi “bias kota” dengan mengabaikan lingkungan yang lebih luas serta warga non kota. Sehingga “tidak ada rahasia nyata dalam lanskap kota, tetapi hanya fakta nyata menunggu kita. Tidak ada kekecauan dalam kehidupan kota, tetapi hanya pola dan tanda-tanda yang menunggu untuk ditata” ucap Grady Clay.
Sebagai salah satu wujud peradaban yang memberi ruang dan peluang bagi manusia untuk mengembangkan diri, kota ini harus dinikmati dan dimanfaatkan oleh semua orang (cities for all). Baik yang kaya maupun yang miskin, baik yang selama ini diuntungkan maupun yang terpinggirkan, baik warga yang kebanjiran maupun yang tidak, baik generasi sekarang ataupun generasi mendatang, semua harus bisa menikmati dan memanfaatkannya
Tantangan sekaligus peluang mewujudkan kota untuk semua, inilah merupakan esensi dari agenda baru penataan kawasan perkotaan Mamuju yang dapat dianggap sebagai komitmen lanjutan dalam mewujudakan pembangunan kawasan perkotaan yang berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, kawasan perkotaan Mamuju harus didorong menjadi kawasan perkotaan yang aman, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. “Dengan demikian, Lingkungan harus dirancang bagi mereka yang menggunakan atau yang membutuhkan bukan bagi mereka yang memilikinya” kata Allan B. Jacobs.
Kawasan perkotaan Mamuju ialah tujuan dan kenangan terakhir dari perjuangan dan kemualian dari masa lalu untuk dipamerkan serta harapan masa depan untuk dicapai. Semangat hidup tersebut membentuk wajah Kota Mamuju menjadi beranekaragam melalui kegiatan yang dilakukan didalamnya, sehingga wajah kota selalu berubah-ubah dan bentuk akhirnya mencerminkan karakter budaya, politik, sosial, dan ekonomi yang dianut masyarakatnya.
Banjir dan genangan yang terjadi di kawasan perkotaan Mamuju adalah wujud dari keseimbangan ekologi kawasan perkotaan yang tergangu, sebagai akibat dari simbiosis parasitisme atas peran sebagai ibu kota provinsi. Di mana tingkat kepadatan lingkungan (urban density) sangat tinggi yang dipicu oleh gerak sentripetal kota.
Sebagai dampak yang koheren, maka 234,86 Ha harus kebanjiran serta sebagian menjadi potensi untuk tergenang. Bahkan jika tidak dilakukan upaya penanganan, diprediksi luas potensi genangan dan banjir di enam kelurahan di kawasan perkotaan Mamuju bisa mencapai 256,61 Ha di tahun 2022.
Ada dua konsep utama sebagai pijakan dalam ikhtiar menyelesaikan problematika ganangan serta banjir di dalam kawasan perkotaan Mamuju yakni dengan pendekatan 1) Konsep Struktural (Civil Works), dan 2) Konsep Non Struktural (Non Civil Works).
Pendekatan konsep struktural dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yakni; 1) Pembangunan Struktur panahan tebing dan revitalisasi Bantaran sungai, 2) Revitalisasi struktur badan sungai dan revitalisasi penampang sungai, serta 3) Revitalisasi struktur aliran dan debit sungai.
Dilakukan dengan pendekatan pengaturan arus dengan membuat kolam retensi serta penahan arus dengan penampungan secara bertangga di area sekitar saluran di kawasan perkotaan Mamuju. Serta pengaturan debit banjir dan genangan dilaksanakan dengan pembangunan kanal banjir dilengkapi dengan Colecttor Drain atau sudetan (saluran bagi) di sempanjang Jalan Soekrano Hatta-Jl. Husni Thamrin yang debitnya dialirkan ke kali Mamuju dan kali Karema sehingga dapat mengurai debit limpasan air hujan yang mengalir di kanal kompleks pemda, serta saluran air yang lain .
Pendekatan Konsep Non Struktural dapat dilakukan dengan modifikasi tutupan lahan untuk dapat mengurangi limpasan air hujan, filtrasi sidimen dan buangan, penyiapaan daerah resapan, pembuatan lubang biopori, bioengineering serta social engineering selain hal diatas masterplan drainase, regulasi pengaturan ruang dan tata massa bangunan perlu dilakukan evaluasi dan pengaturan yang lebih baik lagi.
Penulis: Penggemar Dhurdara