Dinamika fenomena sosial politik di Bumi Lamaranginang selalu menarik untuk diamati perkembangannya dari waktu ke waktu, sebut saja fenomena sirkulasi elit politik dalam kontestasi Pilkada tahun ini.
Di tengah era disrupsi dan hipperealitas politik hari ini, di mana kondisi runtuhnya realitas ditandai dengan lenyapnya bentuk asli dari sebuah figur karena diambil oleh duplikasi dari fantasi sehingga menjadikan fenomena terbalik terhadap figur elit yang berebut kursi kuasa di Bumi Lamaranginang. Fenomena ini menjadi penambah kehausan ditengah gurun pasir yang gersang.
Fenomena ini terjadi mungkin dikarenakan terjadinya kecacatan moral dan sosial dalam tatanan elit politik. Dan parahnya elit politik yang cacat moral justru lebih laku dan mendapat sanjungan dan pujian. Hal ini bisa jadi karena banyak factor, mereka lebih pintar merekayasa berbagai masalah. Sesuatu yang tidak benar, tapi kelihatan benar dan baik. Sebaliknya sesuatu yang salah dan keliru, bisa kelihatan seperti benar dan baik.
Ditengah arus tersebut hadir satu fenomena politik baru di Bumi Lamaranginang: “Politik Wales Asih” Di mana orang tersebut mau merasakan apa yang dirasakan figur kontestan tanpa adanya embel-embel lain dibelakangnya. Kemampuan merasakan pengalaman orang lain ini mampu membangkitkan dorongan untuk mau menolong atau membantu. Politik wales asih ini mungkin berangkat sebagai sebuah tindakan terhadap kerentanan daripada penderitaan panjang yang dialami beberapa Waktu lalu terhadap kebijakan elit kekuasaan di Bumi Lamaranginang.
Praktik politik wales asih dalam pemikiran dan praktik pemenangan kontetasi politik masih bisa diperdebatkan, karena berbagai macam tantangan dalam mengais dukungan publik secara maksimal. Tanpa adanya dukungan “Cost Politik” yang memadai, di tengah praktek demokrasi di negeri ini belum maksimal jika diukur dari pendapatan perkapita masyarakat.
Dalam pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Boediono, M.Ec, memaparkan bahwa, berdasarkan pengalaman empiris selama 1950-1990, rejim demokrasi di negara-negara dengan penghasilan per kapita 1500 dolar (Rp.22.741.200,00) mempunyai harapan hidup berdemokrasi hanya 8 tahun. Pada tingkat penghasilan per kapita 1500-3000 dolar (Rp.22.741.200,00-Rp.45.482.400,00) demokrasi dapat bertahan rata-rata 18 tahun. sedangkan batas kritis bagi demokrasi sekitar 6600 dolar dolar (Rp.100.061.280,00).
Lantas posisi pendapatan perkapita kita di Bumi Lamaranginang berada pada angka 3532 dollar (Rp 53.554.650), sehingga kita belum menuju batas batas aman bagi demokrasi. Akibatnya fenomena politik kotor, seperti “Money Politics” dalam bentuk parcel politik yang menyasar 65.000 KK menjadi hal yang dianggap biasa dalam praktik demokrasi hari ini.
Sehingga relevansi politik wales asih di tengah situasi hari ini menjadi lebih menarik untuk diamati, apakah mampu memenangkan kontestasi pemilihan kepala daerah di Bumi Lamaranginang. Yang dalam pratiknya lebih mengutamakan praktek politik gagasan, gotong royong, demokrasi murah, sikap sederhana dan menjunjung etika. Tentu jawabannya akan kita dapatkan pada 27 November 2024.
Penulis: Penggemar Dhurdara.
