Semakin kacaulah negeri ini. DPR yang katanya perwakilan rakyat ternyata hanya mewakili kepentingan kelompoknya saja. Eksekutif pun sama. Naik dengan menginjak suara rakyat.
Rakyat terus-terus dibodohi. Begitu manis dan cantik ketika musim kampanye. Namun menjadi setan ketika menjadi penguasa. Pandai memainkan sifat manipulatif. Entah siapa yang bisa benar-benar di percaya di negeri ini.
Ibarat cerita fiksi, semuanya bisa dibuat sekehendak hati, sekehendak si penulis cerita.
Ayam beranak bisa. Sapi bertelur pun bisa. Tidak ada yang tidak bisa. Asal tahu cara mainnya saja.
Setelah kemarin Mahkamah Konstitusi (MK) menghapuskan threshold 20%–cuman menurunkan nilai threshold–untuk pencalonan di Pilkada. Hari ini DPR kembali mengambil jurus: mengembalikan threshold 20% dan penurunan nilai threshold hanya untuk partai yang tidak memiliki kursi di DPRD–yang memiliki kursi di DPRD threshold tetap 20%.
Ah, kacau lah. Padahal yang mengajukan penghapusan threshold adalah dari kelompok mereka sendiri. Sekarang mereka lagi yang merubah aturan.
Katanya sih keputusan ini tetap mengakomodir keputusan MK juga. Mengakomodir apanya. Cuman mengakomodir angkanya saja, skemanya dirubah. Ah, sama saja dul. Kacau lah.
Masyarakat betul-betul muak dengan semua drama politik hari ini. Watak politik kita benar-benar kotor dan bengis. Kalau sudah ngomong politik mereka abai dengan kepentingan rakyat.
Kalau sudah menyinggung kelompok berkuasa. Cepat sekali mereka melakukan kesepakatan. Namun kalau bicara soal kepentingan rakyat, lamanya bukan main. UU ITE yang sudah makan banyak korban, yang sudah bikin banyak keributan yang tidak perlu tetap hidup dengan tenang hari ini. Tidak ada ketentuan nasib UU bermasalah ini mau dikemanakan. Padahal keluhan terhadap UU ini sudah rame dari Sabang sampai Merauke.
Kadang-kadang saya membayangkan apa jadinya kalau revolusi meletus hari ini. Melihat gedung-gedung pemerintahan dikuasai oleh massa, seperti zaman reformasi 98 silam.
Melihat adegan para pejabat satu per satu digelandang turun ke jalan untuk dipermalukan oleh massa kemudiang dipenggal kepalanya. Mengebiri kekuasaanya, merusak kantor pemerintahan, merusak fasilitas umum, merampas harta-harta pejabat, mengambil palu sidang.
Semua elemen masyarakat turun dengan semua yang mereka miliki. Berbondong-bondong turun ke jalan melakukan demostrasi. Kemarahan masyarakat sampai pada titik didih dan akhirnya mengeluarkan uap panas. Ah ngeri lah kalau membayangkannya.
Tapi mengingat aparat militer begitu erat dalam genggaman kekuasaan, gak jadi deh revolusinya. Sulit juga yah melakukan revolusi kalau aparatnya masih kuat mengekor ke pemrintah. Soalnya mereka punya senjata. Salah sedikit bisa di-dor kepala kita ini. Mana kepala cuman punya satu lagi.
Tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Masa depan adalah ketidakpastian. Walau pemerintah dan aparat bersenjata masih bersama, kalau semua rakyatnya sudah bersatu. Anak-anak, dewasa, perempuan, laki-laki, dan semua manusia bersatu padu, meninggalkan segala aktivitasnya. Massa yang sudah marah, yang tidak memikirkan lagi masa depannya karena sudah kadung jengkel dengan kondisi seperti ini. Mereka kemudian turun ke jalan, berbondong-bondong berdemo ke kantor pemerintahan. Siapa juga yang tidak ngeri melihat lautan massa seperti itu.
Kejahatan dan kecurangan hari ini tidak lagi sembunyi-sembunyi. Melainkan dilakukan di tempat terbuka di depan semua orang. Ibarat ditelanjangi tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menahan marah, malu, dan murka yang semakin mendidih.
Otoritarianisme betul-betul dipertontonkan secara terbuka. Menindas ketika berkuasa namun playing victim ketika tanpa kuasa.
Mengubah aturan seenak jidat. Kalo dapat enaknya mingkem. Giliran skema yang sama kena ke dia, malah dibilang pembegalan hak-hak rakyat. Alah. Rakyat siapa yang kau maksud.
Kekuasaan berada di tangan rakyat hanyalah semboyan kosong tanpa arti. Manis di bibir memutar kata. Hanya kata tanpa arti.
Tiada lagi malu dimiliki pejabat-pejabat yang katanya mewakili rakyat. Tanpa rasa malu, kebohongan dan rekayasa dilalakukan di depan mata tanpa ada rasa bersalah. Jancuk tenan.
Ah sudahlah. Letuskan saja revolusi kawan. Gulingkan semua rezim khianat itu. Biar sekalian hancur sama-sama.