Kembali menulis setelah cukup lama vakum. Hampir sebulan saya tidak menulis. Terakhir saya menulis tanggal 16 Juli kemarin. Itu berarti sudah 3 minggu saya tidak mengisi blog ini. Hampir sebulan.
Mengapa tidak menulis? Alasannya klasik: lagi malas saja dan komitmen yang nihil. Selebihnya adalah turunan dari dua alasan utama tadi.
Menulis memang pekerjaan berat kawan. Sebab menulis adalah pekerjaan pikiran. Pernah kau merasa kelelahan padahal tidak melakukan pekerjaan fisik yang berarti, namun melakukan pekerjaan yang sifatnya berpikir, melibatkan otak? Kurang lebih seperti itu juga pekerjaan menulis. Menulis merupakan pekerjaan otak. Kalau tidak terbiasa jadinya Ropik alias Loro Pikir. Artian bebasnya adalah stres. Ditambah komitmen yang lemah jadinya tambah berat pekerjaan menulis itu.
Sekarang saya coba memulai lagi, coba menulis kembali. Menulis kembali apa saya yang ada di pikiran. Mencoba membangun komitmen kembali. Membangun kembali kebiasaan menulis. Cuman sampai sekarang, jujur saja saya bingung mau memulai dari mana.
Ya gampang sih, mulai saja dulu. Ya ngomong memang gampang. Namun melakukannya tidak seindah omongannya Mario Teguh. Hahaha..
Saya belum menemukan metode yang tepat terkait kapan saya harus menulis dan berapa lama waktu yang harus saya sediakan untuk membangun kebiasaan menulis ini.
Sebab kadang kala saya sulit menulis jika konsentrasi saya terganggu. Sementara saya sendiri kan bapak rumah tangga. Kudu urusi anak dan istri. Ngurusi anak dan istri juga butuh waktu dan perhatian kan.
Bukan maksudnya saya mengeluhkan anak dan istri yang banyak menghabiskan waktuku. Tidak begitu dan Jangan di-framing ke situ. Nanti kesannya kayak saya tidak bahagia dengan memiliki anak istri.
Justru karena saya bahagia memiliki anak-istri, makanya saya bersedia mengorbankan waktu-waktu menulis untuk membersamai anak-istri–aah, lagi-lagi alasan. Hahaha.. Waktu-waktu
Ya inilah konsekuensi dari pernikahan. Memiliki anak-istri membawa kebahagiaan, namun jelas ada resiko yang juga harus diterima. Seperti membatasi ruang gerak dan waktu. Waah jadi ingat buku yang baru saja kulihat di ig-nya Buku Mojok. Penulisnya Agus Mulyadi. Sepertinya saya harus beli buku itu. Hitung-hitung bisa untuk bahan refleksi lah. Siapa tahu dapat inspirasi baru ya.
Oke cukup dulu deh nulisnya. Aku checkout dulu. Bye..