Sesedehana itulah parenting. Walau dalam pelaksanaanya tidak mudah.
Menjadi orang tua memang susah-susah gampang. Eh, enggak ding. Menjadi orang itu sulit. Mungkin itu yang menjadi alasan segelintir orang memilih childfree. Tapi kali ini kita tidak membahas childfree. Kita akan bahas parenting tipis-tipis.
Belum lama saya menjadi orang tua. Anakku masih 2,5 tahun. Jadi tentu tulisan ini bukanlah maksud menggurui orang tua yang sudah senior di luar sana. Tulisan ini hanya sekdera refleksi dan pengingat, terkhusus untuk saya pribadi.
Orang tua tentu punya sejuta harapan kepada anaknya. Ingin anaknya jadi dokter. Ingin anaknya jadi penghafal Al Quran. Mau anaknya masuk universitas top dunia. Dan masih banyak lagi harapan-harapan orang tua kepada anaknya.
Tentu tidak salah jika orang tua menitipkan sejuta harapan kepada anaknya, sah-sah saja. Namun orang tua pun harus ngaca juga kalau mau anaknya menjadi apa-apa di masa depan.
Maksudnya begini. Jika anda ingin anak anda bisa lulus tes masuk universitas top di dunia, tentu dia harus belajar. Bagaimana caranya menyuruh anak anda rajin belajar? Kalau cuman perintah saja “hey, ayo yang rajin belajarnya,” niscaya anak anda gak belajar-belajar. Kecuali anda sendiri yang mencontohkannya, memperlihatkan kepada anak sendiri belajar dengan sungguh-sungguh.
Kalau anda ingin anak anda menjadi penghafal Al Quran, ya minimal anda juga segera memulai untuk menghafal Al Quran juag dong. Sebelum menuntut anak, anda pun harus menuntut diri anda sendiri lebih keras daripada anda menuntut anak. Jangan malah kebalik. Anak dituntut harus ini itu, tapi dianya sendiri tidak melakukannnya. Tidak bakalan jadi.
Bagaimana agar anakmu menjadi orang jujur? Anda dan pasangan harus jujur dulu. Bagaimana anak anakmu menjadi orang dermawan? Anda dan pasangan harus dermawan dulu, jangan pelit. Bagaimana agar anakmu rajin membaca? Anda dan pasangan harus rajin membaca dulu. Gampang kan? Gampang secara teori, namun praktiknya susah.
Cara menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak adalah dengan cara memperlihatkan nilai kebaikan itu melekat pada orang tuanya. Dengan begitu anak akan dengan mudah meng-copy paste-nya. Dan itu harus dimulai sejak dini, bahkan sejak belum memiliki anak. Paling tidak niat itu sudah ada. Sebab bukankah begitu proses anak-anak dalam belajar: melihat dari orang tuanya.
Apalagi jika anak-anak masih kecil. Lebih mudah lagi mendoktrinnya. Sebab masa-masa itu adalah masa-masa di mana belum ada inputan asing yang masuk ke dalam dirinya kecuali inputan dari orang tuanya. Itu kenapa mudah saja bagi anak kecil mengikut polah dan tingkah laku orang tuanya. Dia belum bisa menimbang-nimbang sebab memang belum ada yang bisa dijadikan pebanding. Beda ketika anak sudah besar, ketika sudah begitu banyak inputan asing yang masuk ke dalam dirinya. Ketika tiba saat itu, kemampuan kognitif anak juga sudah mulai berkembang. Dia sudah mampu menimbang-nimbang baik buruk dan perlahan-lahan akan mencoba mengambil pilihan. Ketika doktrin orang tua ke anak kurang kuat ketika mash kecil, mudah saja bagi anak melepaskan doktrin tersebut dan beralih ke ide-ide lain yang menurutnya benar.
Sebelum semua itu terjadi. Mulailah memperlihatkan kebaikan dan keteladanan kepada anakmu sejak masih kecil. Dengan cara menuntut dirimu sendiri menjadi sosok teladan yang seperti kamu idamkan pada anakmu. Karena nilai-nilai itulah kelak yang akan menjadi pembanding baginya ketika dia sudah besar, ketika dia sudah keluar rumah, ketika anakmu menjadi anak merdeka.