Seumur hidup sudah tiga kali saya ke Kalimantan. Semuanya berurusan dengan pekerjaan.

Namun ini kali kedua saya mendarat di Bandara Syamsuddin Noor. Dan saya cukup tercengang dengan kedatangan saya kali ini.

Saya tidak begitu ingat lagi kedatangan saya pertama kali bandaranya seperti apa. Termasuk statusnya bandaranya juga. Namun satu yang saya rasakan: sebuah bandara yang cukup mewah.

Sejatinya bandara ini tidaklah begitu luas. Terlihat biasa saja jika melihatnya dari luar. Namun ketika mulai masuk ke terminal kedatangan, mulailah terasa auranya.

Gak tau juga sih. Sepertinya bandara ini baru saja menyelesaikan perluasan. Kesannya seperti bangunan yang baru selesai. Putih polos bersih dan belum banyak hiasan sehingga terkesan luas dan besar.

 Setelah tiba di ruang pengambilan bagasi, kesan luas dan besar menjadi nyata. Sebab areanya memang lebih luas lagi ketimbang koridor kedatangan.

Kesan itu dikuatkan dengan ornamen-ornamen yang bergelantungan di langit-langit ruangan.

Fosil kayu ulin juga siap menyambut kedatangan tamu di bandara ini. Dijuluki kayu besi sebab kayu ini memang kuat dan tahan lama. Sebuah flora yang menjadi kebanggan masyarakat Borneo.

Informasi tentang satwa bekantan juga tersedia di bandara. Satwa endemic Kalimantan.

Dan juga tidak lupa sebagaimana bandara pada umumnya: informasi pariwisata.

Area setelah pengambilan bagasi juga terkesan mewah menurutku. Dengan banyaknya tenan-tenan yang menjajakan aneka makanan. Ditambah pengaturan lokasi dan juga pencahayaan. Tempat ini menjadi lebih nyaman untuk sekedar ngopa-ngopi ria.

Karena mengalami perluasan, tentu tempat nunggu taksinya juga menjadi lebih luas.

Dan selebihnya tidak begitu banyak berubah dalam ingatanku yang banyak lupanya ini. Hahaha.. tapi tidak tau lagi terminal keberangkatan dan waiting room-nya seperti apa ya. Besok-besok lah kuceritakan setelah pulang.

Berikut foto-foto bandaranya ya..

Muara Teweh, 3 Juli 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *