Sudah cukup lama saya menyelesaikan buku ini, tepatnya 25 Juni kemarin. Dan baru sekarang mau nulis reviewnya. Bukannya gak ada kesempatan atau waktu longgar. Lebih ke nunda-nunda saja, prokrastinasi. Huuh.. penyakit.

Oke, saya memang tidak begitu jago soal ekonomi dan dunia perdagangan. Itu sebabnya cukup lama bagi saya menyelesaikan buku ini. Total saya menyelesaikannya 25 hari. Durasi yang cukup lama untuk buku yang tidak begitu tebal sebenarnya.

Lupakan soal teori ekonomi. Latar pendidikan mas Dandhy memang bukan itu. Namun karir panjang dan cemerlangnya di dunia jurnalis membuatnya banyak melihat fakta-fakta pahit di masyarakat Indonesia. Ya, jurnalis memang seperti itu. Kudu buka mata, buka hati untuk melihat fakta. Mengasah indra. Insting Jurnalis

Buku ini adalah buku catatan seorang jurnalis. Diterbitkan tahun 2009, ketika rezim SBY masih berkuasa. Andaikata ditulis tahun 2024, mungkin sasaran kritiknya adalah Jokowi.

Buku ini full kritik, mulai dari awal sampai ujung halaman. Sedikit-sedikit terselip solusi. Namun yah, entah solusinya dipakai atau tidak, penguasa mah bodo amat.

Ada satu pokok persoalan yang menjadi bahasan besar di buku ini: Neoliberalisme. Gampangannya, neoliberalisme ini adalah adiknya liberalisme. Karena lahirnya setelah liberalisme, maka dinamakan neoliberalisme.

Secara sederhana, jika kita bicara liberalisme dalam frame ekonomi, maka liberalisme adalah sistem ekonomi pasar bebas. Sistem ekonomi pasar bebas menghendaki hilangnya campur tangan negara dalam urusan ekonomi masyarakatnya. Dan membebaskan pasar dalam menjalankan kegiatan ekonominya sebebas-bebasnya tanpa campur tangan pemerintah.

Sedangkan neoliberalisme–yang notebenenya adalah adik liberalisme–memiliki pengertian kurang lebih sama dengan liberalisme dengan tambahan pemerintahan yang diktator.

Jadi neoliberalisme adalah sistem ekonomi pasar bebas yang menghendaki hilangnya campur tangan negara dalam kegiatan ekonominya dimana pemerintahan negara dijalankan oleh penguasa yang diktator. Inilah wajah ekonomi Indonesia selama bertahun-tahun–setidaknya sampai tahun 2009 ketika buku ini diterbitkan. Dan sepertinya tidak begitu banyak perubahan sampai hari ini.

Efek dari liberalisme bisa sangat mengerikan. Begitu timpangnya kekayaan si kaya dan si miskin adalah salah satu efeknya. Tidak meratanya persebaran kekayaan adalah salah satu akibat dari kurangnya intervensi pemerintah kepada pasar. Pasar dibiarkan bergerak sesuai maunya.

Salah satu kasus yang begitu mencengangkan bagiku adalah peristiwa bangkrutnya bank BCA.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada akhir kekuasaan Soeharto, BCA terkena dampaknya. Dampaknya bukan main-main. Rush money terjadi secara besar-besaran. Hingga mengakibatkan BCA bangkrut, kemudian diambil alih pemerintah. Untuk menghindari efek domino, pemerintah menyembuhkan bank BCA lewat surat utang yang ditukar saham BCA.

“Karena punya utang, maka pemerintah harus bayar cicilan dan bunga obligasi ke BCA”
“Dari utang obligasi Rp. 58 triliun itu, setiap tahun pemerintah harus bayar bunga ke BCA Rp. 7 triliun atau rata-rata Rp. 500 miliar per bulan. Itu baru bunganya, belum pokoknya. Karena pembukuan BCA sudah sehat setelah disuntuk obligasi pemerintah Rp. 58 triliun maka BCA dijual”

Bank kondisi bangkrut dibeli, kemudian dijual setelah disembuhkan. Ngeri juga. Kenapa tidak dijadikan BUMN saja statusnya? Kan bisa lebih untung. Lihat saja BCA sekarang, kapitalisasi pasarnya paling besar dari seluruh bank. Andaikata ini punya negara, bayangkan saja untungnya.

Namun begitulah liberalisme dan adiknya neoliberalisme, swastanisasi adalah obat jitu. Pemerintah gak punya kompetensi urusin ekonomi, makanya apa-apa swastanisasi saja. Ya kan.

Aah sudah. Tidak perlu panjang lebar penjelasan bukunya seperti apa. Tahu Sexy Killer, Dirty Vote, Indonesia Baru, kan? Benar, itu semua karyanya Mas Dandhy. Seberapa mencerahkannya karya-karya itu, seperti itu juga efeknya membaca Indonesia For Sale. Selamat membaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *